Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
William Henley, Founder Indosterling Group

William Henley, Founder Indosterling Group

UMKM Orientasi Ekspor

William Henley *), Jumat, 10 Januari 2020 | 21:48 WIB

Hari-hari ini, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seolah menjadi fokus utama pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Titik puncak itu semua tentu tatkala Jokowi memimpin rapat terbatas membahas program pemberdayaan UMKM Tahun 2020 di Kantor Presiden, Jakarta, Senin, 9 Desember 2019.

Dalam kesempatan itu, Jokowi berbicara banyak hal, mulai dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), pemberdayaan, sampai pengadaan barang/jasa BUMN yang harus melibatkan UMKM. Mantan Gubernur DKI Jakarta dan Wali Kota Solo itu juga mengkritik rest area jalan tol yang belum didominasi pelaku UMKM.

Setelah itu, ada sejumlah kegiatan kementerian/lembaga yang berkaitan dengan UMKM. Mulai dari peresmian ekspor perdana produk UMKM melalui Pusat Logistik Berikat e-Commerce di Pusat Pergudangan Marunda Center, Bekasi, Jawa Barat, 19 Desember 2019, hingga BRILian Preneur yang digelar PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk pada 20 Desember 2019.

Penulis menilai, muara dari itu semua adalah mendorong kemajuan UMKM, terutama yang berorientasi ekspor. Lalu, apakah semua itu cukup? Penulis mencoba membedahnya melalui tulisan singkat berikut.

Peran UMKM

UMKM merupakan salah satu lini penting dalam struktur perekonomian Tanah Air. Ia memiliki peran strategis dalam menggerakkan roda ekonomi Indonesia. Kementerian Koperasi dan UKM mencatat jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai 59,2 juta. Sebanyak 3,79 juta di antaranya sudah memanfaatkan platform online dalam produk mereka.

Kemudian, berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, total kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada tahun 2018 mencapai 60,34%. Sedangkan tahun 2019, Asosiasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Indonesia memproyeksikan total kontribusi UMKM terhadap PDB meningkat menjadi 65% atau sekitar Rp 2.394,5 triliun.

Menilik situasi sekarang, tidak salah jika UMKM dapat kembali menjadi juru selamat bagi perekonomian Indonesia, sebagaimana pada saat krisis 1997-1998 lalu. Maksudnya?

Begini, kita semua memahami, kondisi ekonomi saat ini diliputi awan mendung. Bank Dunia memperkirakan perekonomian Tanah Air hanya akan tumbuh 5,0% atau lebih rendah dibanding proyeksi dalam APBN 2019, yaitu 5,4%.

Bagaimana dengan tahun 2020? Situasinya setali tiga uang. Center of Reform on Economics memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh pada kisaran 4,9-5,1%.

Semua ini tidak terlepas dari dinamika perekonomian global. Organisation for Economic Co-operation and Development memproyeksikan ekonomi dunia pada 2020 tumbuh 2,9%, atau sama dengan tahun 2019. Ketidakpastian ujung perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi faktor utama di balik prediksi tersebut. Situasi seperti sekarang membuat APBN harus menjadi counter cyclical. Hal ini sudah dibuktikan dengan percepatan realisasi belanja negara yang berkorelasi dengan konsumsi masyarakat.

Terbukti, pertumbuhan komponen itu masih berada di atas 5%, sehingga membuat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan bertahan di kisaran 5%-an. Ingat, mayoritas struktur PDB RI ditopang konsumsi masyarakat. Namun, itu semua tidak cukup. Pemerintah dapat mengandalkan komponen lain dalam PDB, yakni ekspor. BPS mencatat pertumbuhan ekspor per triwulan III-2019 hanya 0,02%, turun drastis disbanding periode yang sama tahun 2018 sebesar 8,08%. Tahun 2020, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meyakini pertumbuhan ekspor bisa tumbuh double digit.

Tantangan UMKM

Penulis berpandangan, hal itu bisa dicapai salah satunya dengan mengarustamakan UMKM berorientasi ekspor. Apa saja langkah-langkah untuk mewujudkannya? Yang pertama tentu adalah memastikan pendanaan aman. Pemerintah sudah memiliki program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tahun 2020, nominal anggaran yang disalurkan pun melesat menjadi Rp 190 triliun. Plafon maksimal KUR untuk pelaku usaha mikro pun dinaikkan dari Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta.

Namun, masih ada kritik dalam pelaksanaan KUR. Mulai dari administrasi yang rumit hingga kesulitan pelaku UMKM mengakses program tersebut. Semua itu membuat penurunan bunga KUR dari 7% menjadi 6% per 1 Januari 2020 seolah sia-sia.

Oleh karenanya, pemerintah bersama OJK dan perbankan harus berkomitmen mengatasi masalah ini. Tidak ada yang salah jika meniru cara-cara fintech lending menyalurkan pendanaan. Sejumlah fintech lending bahkan hanya mensyaratkan KTP sebagai syarat untuk memperoleh dana. Setelah pendanaan, aspek lain yang penting adalah memfasilitasi UMKM mendapatkan peluang yang sama untuk ekspor hingga akses pasar ekspor. Untuk itu, dibutuhkan peran atase perdagangan dan ITPC di luar negeri.

Jangan sampai hanya terjebak pada rutinitas mengikuti pameran dagang semata. Mereka juga harus mampu berperan sebagai agen pemasaran. Kementerian Perdagangan juga harus menggandeng Kementerian Luar Negeri untuk memberikan update terkini kondisi pasar perihal apa yang dibutuhkan konsumen produk UMKM Indonesia di berbagai negara. Konsolidasi dengan calon pembeli dan asosiasi di negara-negara mitra perlu ditingkatkan lagi. Apalagi kualitas produk UMKM Indonesia yang berkualitas dan beragam tentu sangat dicari-cari.

Langkah lain adalah memaksimalkan keberadaan PLB e-commerce. Melalui PLB e-commerce, produk-produk UMKM dapat menembus pasar internasional tanpa perlu memikirkan proses pemasaran dan pengiriman. Maka, pemerintah perlu memperbanyak keberadaan PLB e-commerce di berbagai daerah, tidak hanya di Jakarta dan sekitarnya. Mengapa ini penting? Sebab di PLB ada berbagai fasilitas seperti Kemudahan Impor Tujuan Ekspor, pergudangan, hingga menjadi hub wilayah untuk pasokan barang.

Pada akhirnya, tentu kita mengharapkan agar perekonomian tahun 2020 lebih baik ketimbang tahun 2019. Salah satu cara untuk itu adalah mendorong agar kinerja UMKM semakin apik mewarnai ekonomi Tanah Air. Utamanya UMKM berorientasi ekspor yang efek bergandanya tentu jauh lebih besar ketimbang UMKM yang berfokus di dalam negeri.

*) Founder IndoSterling Group

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA