Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Khudori,

Khudori,

Urgensi Jagung dalam Industri Perunggasan

Khudori *), Kamis, 20 Februari 2020 | 11:48 WIB

Para pelaku industri perunggasan, terutama peternak ayam mandiri, memulai awal tahun 2020 dengan muram. Mengikuti pola sejak 2018, tahun lalu mereka mengalami guncangan usaha yang luar biasa. Di satu sisi, ongkos berternak terus naik, baik didorong oleh kenaikan harga pakan, obat-obatan, dan harga ayam usia sehari (DOC) serta ongkos tenaga kerja.

Di sisi lain, harga jual dalam bentuk daging ayam hidup (lifebird) amat tidak menentu. Bahkan, sejak Agustus 2018 hingga Januari 2020 harga ayam hidup di tingkat peternak jatuh dan selalu bertahan di bawah biaya produksi. Peternak tekor besar.

Menurut kalkulasi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), kerugian peternak sepanjang 2019 mencapai Rp 3 triliun. Satu setengah tahun bukan waktu pendek bagi peternak rakyat untuk menanggung kerugian.

Pilihan menutup usaha amat dilematis. Kerugian memang bisa disetop, tapi pekerja harus di-PHK. Gantungan hidup tak ada lagi. Lalu, utang modal di bank dan utang pakan di pabrik harus dibayar pakai apa? Bukankah mereka telah melego aset-aset tersisa? Sebaliknya, jika usaha diteruskan, kerugian kian besar. Pertanyaan yang tak mudah dijawab: realistiskah meneruskan usaha yang rugi?

Dalam industri perunggasan, pengeluaran terbesar ada pada komponen pakan. Pakan mengambil porsi 70% dari seluruh ongkos produksi. Bila harga pakan terjangkau, terbuka peluang untuk membangun industri perunggasan yang kompetitif.

Dari seluruh komponen pakan, jagung merupakan unsur utama. Dari komposisi pakan unggas, 50-55% dari jagung. Karena itu, tinggi-rendahnya harga jagung amat menentukan harga akhir daging ayam dan telur ayam. Ketersediaan jagung yang pasti dengan harga terjangkau merupakan pilar bagi terciptanya industri perunggasan yang kompetitif.

Masalahnya, jagung untuk pakan seringkali tidak tersedia sesuai kebutuhan. Jika pun pasokan tersedia, harganya tergolong tinggi. Hari-hari ini, harga jagung menyentuh Rp 4.800 – 5.050/kg, jauh dari harga normal di bawah Rp 4.000/ kg.

Ini memukul sentra produsen ternak, terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Harga jagung yang tinggi didorong oleh pasokan terbatas.

Menurut kalkulasi pemerintah, ketersediaan jagung dari Desember 2019 hingga musim panen atau pada Maret 2020 aman. Kalkulasi ini berangkat dari stok akhir jagung pada November 2019 mencapai 1,04 juta ton.

Di atas kertas, stok jagung dijamin aman. Masalahnya, stok jagung tidak sepenuhnya bisa diakses pasar. Selain lokasinya jauh, keberadaannya tersebar di banyak tempat dan dalam jumlah kecil-kecil. Untuk sampai ke industri pengguna, harganya akan mahal.

Mengikuti hukum besi supply-demand, karena pasokan terbatas harga jagung pun terpantik tinggi. Situasi ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Februari 2020. Februari memang mulai ada panen jagung dalam jumlah terbatas. Karena jumlahnya terbatas, hasil panen belum mampu mengisi seluruh saluran distribusi.

Pasokan diperkirakan baru normal pada Maret. Sengkarut ketersediaan dan harga jagung seperti ini bukan hal baru. Sengkarut kian kronis sejak pemerintah menyetop impor jagung mulai tahun 2016.

Alasannya, produksi jagung domestik cukup, bahkan surplus besar. Masalahnya, surplus jagung sulit diverifikasi dengan kondisi di lapangan. Jika benar produksi surplus, kebutuhan peternak dan perusahaan pakan mudah dipenuhi dengan harga terjangkau. Yang terjadi justru sebaliknya. Karena impor ditutup dan tidak juga memperoleh jagung domestik, peternak dan perusahaan pakan mengganti jagung dengan gandum.

Seharusnya, substitusi ini juga membuat harga jagung turun. Substitusi jagung dengan gandum untuk pakan ternak bukanlah solusi yang baik. Bagi peternak, performa ternak tidak sebaik jika pakan tersusun dari komponen jagung. Ini berarti output ternak, baik telur maupun daging ayam, tidak sebagus sebelumnya.

Ujung-ujungnya, pendapatan peternak tertekan. Dari sisi ekonomi makro, substitusi itu tidak bermakna apa-apa karena devisa terpompa keluar. Contohnya, sejak dilarang impor jagung turun drastis: dari 3,5 juta ton pada 2015 tinggal 1,3 juta ton pada 2016.

Pada saat yang sama, impor gandum untuk pakan melonjak drastis: dari 0,02 juta ton pada 2015 menjadi 2,5 juta pada 2016. Makna penurunan impor jagung akhirnya amat artifisial.

Ke depan, instabilitas harga telur, daging ayam broiler, dan jagung bakal selalu berulang. Karena itu, perlu dipertimbangkan untuk mengatur harga khusus jagung buat keperluan pakan. Pemerintah lewat Kementerian Perdagangan sebetulnya telah mengatur harga acuan penjualan jagung untuk industri pakan ternak, yaitu Rp 4.000/kg. Masalahnya, ini cuma harga acuan. Dalam Permendag No 96/2018 tentang Harga Acuan diatur, jika harga berada di atas harga acuan penjualan, pemerintah bisa menugaskan Bulog/BUMN lain untuk menjual jagung ke industri pakan sesuai harga acuan.

Untuk memastikan harga, penugasan ke Bulog/ BUMN lain harus segera diimplementasikan. Berikutnya, harus ada pemisahan pasar antara peternak rakyat dengan perusahaan integrator.

Saat ini 90% produk integrator dan peternak rakyat menyerbu lapak sama: pasar tradisional. Padahal, industri perunggasan didominasi perusahaan besar. Industri perunggasan terkonsentrasi pada segelintir pelaku, baik dalam penguasaan aset, omzet maupun pangsa pasar.

Kondisi itu membuat pasar amat rentan dan mudah sekali jadi ajang permainan pihak yang kuat apabila pasokan-permintaan tak seimbang, salah satunya lewat praktik predatory pricing. Akibatnya, di hilir peternak rakyat, pedagang eceran dan konsumen akhir telur dan ayam akan terombang-ambing oleh harga seperti roller coaster.

Peternak rakyat harus melayani pasar tradisional lewat rantai segar. Agar efisien, peternak rakyat didorong beroperasi dengan cara berkelompok dalam Sentra Perunggasan Rakyat (SPR). Di hulu, untuk memastikan pasokan pakan dan DOC (day old chick), SPR harus terintegrasi dengan pabrik pakan skala kecil, pembibitan skala kecil dan petani jagung.

Di hilir, SPR bekerja sama dengan rumah potong ayam mini modern dan kelompok pedagang ayam di pasar tradisional. Dengan cara ini, rantai pasok bisa lebih pendek dan sederhana. Nilai tambah bisa didistribusikan secara adil di antara pelaku. Perusahaan integrator harus melayani pasar modern, horeka (hotel, restoran dan katering), dan pasar ekspor lewat rantai dingin (cold chain).

Perusahaan integrator juga wajib menyelesaikan integrasi vertikal hingga ke hilir. Mereka wajib membangun rumah potong hewan unggas dengan fasilitas rantai dingin atau dilengkapi fasilitas cold storage, dan industri pengolahan.

Mereka harus mengintegrasikan seluruh mata rantai nilai dari produksi primer, distribusi, pengolahan, prosesing hingga penjualan di pasar dengan pendekatan from feed to meet. Cari ini jadi solusi surplus telur dan daging ayam.

*) Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), anggota Pokja Dewan Ketahanan Pangan Pusat (2010-sekarang), penulis buku ”Ironi Negeri Beras” (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi. Telah menghasilkan lebih 1000 artikel/ working paper, menulis 6 buku, dan mengeditori 12 buku

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN