Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Trihatmoko, Dosen Fakultas Ekonomi, dan Program Pascasarjana, Universitas Surakarta.

Agus Trihatmoko, Dosen Fakultas Ekonomi, dan Program Pascasarjana, Universitas Surakarta.

Utang terhadap PDB

Selasa, 1 Juni 2021 | 23:45 WIB
R Agus Trihatmoko *)

Pada tahun lalu saya telah menyampaikan bahwa utang sepertinya menjadi cara mudah mengatasi keuangan negara, padahal itu akan membebani keuangan pada jangka waktu berikutnya. Rupanya pendekatan utang masih menjadi andalan pemerintah saat ini dalam mengatasi krisis ekonomi. Perihal ini ditunjukkan oleh data per Maret 2021 telah mencapai Rp 6.445,07 triliun. Trennya linier meningkat dari sebelumnya, sehingga pada posisi setara dengan 41,64% terhadap PDB.

Secara normatif utang akan menggerakkan ekonomi, tetapi  dalam situasi ketidakpastian perekonomian mestinya harus sangat hati-hati. Perlu disadari bahwa kontribusi terbesar PDB pada parameter konsumsi di atas 50%. Artinya, bahwa perolehan dana utang dipergunakan lebih kepada kepentingan konsumtif. Secara nominal juga untuk sektor produksi/ investasi, misalnya infrastruktur. Hanya saja  berdampak pada ‘yield’ ekonominya terganggu oleh situasi krisis ekonomi nasional dan global ‘uncertain’ saat ini dan beberapa tahun mendatang. 

“Kekeliruan cara pandang kita selalu berkaca pada negara lain yang juga memiliki utang besar di anggap normal. Di sisi lain pada setiap negara memiliki perbedaan  pondasi atau kekuatan atas sumber daya berkaitan ekonomi negara masing-masing”. Jadi, perhitungan atas rencana utang pada 2022 pada posisi 44,28 persen dari PDB harus dipikir ulang oleh pemerintah ‘Menteri Keuangan atau Tim PEN’. 

Rasio tersebut memang masih diizinkan oleh undang-undang yaitu 60%, seperti sering menjadi argumentasi pemerintah dalam mensikapi kritisi publik. Namun demikian, pertanyaannya yaitu pada tahun-tahun berikutnya apakah menjamin rasio utang dapat menurun? 

Dalam analogi ekonomi keuangan dapat diperkirakan terus akan meningkat. Sehingga,  pada saat itu ketika rasio 45% dapat dikatakan sebagai alarming rates bagi keuangan negara. Padangan matematis ini ada baiknya diuji dengan statistik dalam kurun waktu 6 (enam) tahun periode terakhir. Sehingga, pemerintahan saat ini harus memiliki kehati-hatian atau sensitivitas dalam menambah utang negara, waluapun situasinya sangat dilematis !.

Jika boleh mengingatkan kembali dalam menangani beban utang negara diperlukan pendekatan atau sistem ekonomi yang bersifat kekeluargaan. Gotong-royong dan kolektif bersama-sama mengatasi masalah ekonomi dan keuangan negara oleh semua pelaku ekonomi, masyarakat dan negara.

Kembali kepada konsitusi ekonomi Pasal 33 UUD NRI dan mengamalkan Pancasila dalam semangat persatuan, demokratis dan keadilan merupakan asas kekeluargaan. Dalam konteks ini lah pendekatan murakabisme ekonomi saatnya diimplementasikan.

“Pada hari ini pula (1 Juni 2021), semangat Hari Lahir Pancasila semestinya sebagai refleksi menyelesaikan berbagai permasalah perekonomian nasional”. 

Seperti sebelumnya saya sampaikan bahwa implementasi sistem ekonomi murakabi  keputusan politiknya oleh Presiden. Meskipun demikian, Jajaran Kabinet bidang ekonomi “khususnya” perlu memberikan analisa/ tinjauan komprehensip. Sehingga, keputusan Presiden dalam setiap kebijakannya memperoleh pertimbangan rasional dan tepat sasaran pada setiap esensinya.

Implikasi ekonomi murakabi jelas bertujuan bahwa utang negara secara bertahap lansung dapat diturunkan. Demikian berikutnya, menurunkan utang-utang korporasi BUMN maupun swasta, karena bertransformasi kepada mekanisme kepemilikan saham secara kekeluargaan.       

*) Dosen Fakultas Ekonomi, dan Program Pascasarjana, Universitas Surakarta.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN