Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri

Achmad Deni Daruri

Wabah dan Manajemen Risiko

Achmad Deni Daruri *), Jumat, 26 Juni 2020 | 23:58 WIB

Wabah virus corona telah menampakkan bagaimana manajemen risiko dalam konteks kesehatan masyarakat tidak terkendali lagi. Dengan demikian adalah kewajiban pemerintah dan lembaga kesehatan masyarakat untuk segera memperbaiki cara kerja mereka secara hakiki.

Ada baiknya menengok kembali rekomendasi Perrault, Inderstrodt- Stephens, dan Hintz dari University Purdue. Lembaga kesehatan masyarakat mesti menempatkan fokus baru dengan tujuan terukur dan bekerja sama dengan tim interdisipliner dalam mengembangkan prosedur yang efektif dan efisien untuk melacak dan mengukur perubahan perilaku yang nyata pada populasi.

Kegagalan dalam mengelola risiko di sektor kesehatan masyarakat telah berdampak pada berbagai sektor ekonomi, termasuk sektor keuangan. Penurunan harga saham di seluruh pasar modal dunia telah membuktikan hal tersebut. Manajemen risiko sekali lagi gagal dalam memantau ancaman risiko global yang bersifat pandemi. Bukan hanya itu yang menyebabkan pengelolaan risiko menjadi melemah.

Intervensi structural tidak dapat menjadi satu-satunya langkah perbaikan. Kurang terkelolanya faktor sosial dan ekonomi perawatan kesehatan dapat menjadi kontraproduktif, dan akhirnya menyebabkan ketidakadilan layanan perawatan kesehatan yang diterima orang kaya dan orang miskin.

Jika perawatan kesehatan diperlakukan sebagai komoditas, kesehatan publik global pada akhirnya tidak akan tercapai. Wabah virus corona diperkirakan muncul pada November 2019 di Wuhan, Tiongkok, dan pemerintah negeri Tirai Bambu itu seolah menutup- nutupi kejadian wabah.

Kini, pandemi virus corona telah menyebabkan gangguan sosial ekonomi global yang parah, penundaan atau pembatalan acara olahraga, agama, dan budaya, serta kekhawatiran yang meluas tentang kekurangan pasokan pangan yang mendorong pembelian yang sangat panik.

Mengingat Tiongkok adalah pusat manufaktur dan ekonomi utama dunia, wabah virus corona telah dipandang sebagai ancaman utama destabilisasi terhadap ekonomi global. Agathe Demarais memperkirakan bahwa pasar akan tetap bergejolak sampai ada gambaran yang lebih jelas pada waktu yang belum dapat dijelaskan.

Satu perkiraan dari seorang ahli di Universitas Washington menyebutkan bahwa kerugian pada rantai pasokan dunia akibat pandemi corona senilai lebih dari US$ 300 miliar yang bisa berlangsung hingga dua tahun.

Bukan hanya itu, pengaruh jangka pendeknya juga langsung dirasakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak akibat penurunan tajam harga minyak karena permintaan Tiongkok yang menurun.

Dampak politik, budaya, dan sosial-ekonomi dari pandemi corona secara bersama-sama ini dapat menyebabkan perubahan besar dalam masyarakat manusia. Dampak ini dapat mencakup peningkatan pekerjaan jarak jauh, lokalisasi rantai pasokan global, dan peningkatan polarisasi politik yang tentunya akan mengubah variabel dan parameter dari model pengelolaan risiko selama ini.

Di masa depan, menteri kesehatan seyogianya dipilih dari profesi yang paham akan penyebaran wabah atau ahli dalam epidemiologi. Profesi dokter termasuk dokter spesialis bukanlah jaminan yang mampu mengendalikan manajemen risiko ini. Kepala rumah sakit juga tidak memiliki pengetahuan untuk menerapkan model pengelolaan risiko ini.

Ini adalah landasan kesehatan masyarakat, dan membentuk keputusan kebijakan dan praktik berbasis bukti dengan mengidentifikasi faktor risiko penyakit dan target untuk perawatan kesehatan preventif.

Ahli epidemiologi membantu dengan desain studi, pengumpulan, dan analisis statistik data, mengubah interpretasi dan penyebaran hasil (termasuk tinjauan sejawat dan tinjauan sistematis sesekali).

Epidemiologi telah membantu mengembangkan metodologi yang digunakan dalam penelitian klinis, studi kesehatan masyarakat, dan penelitian dasar dalam ilmu biologi. Bidang utama studi epidemiologi termasuk penyebab penyakit, penularan, penyelidikan wabah, pengawasan penyakit, epidemiologi lingkungan, epidemiologi forensik, epidemiologi pekerjaan, skrining, biomonitoring, dan perbandingan efek pengobatan seperti dalam uji klinis.

Ahli epidemiologi mengandalkan disiplin ilmu lain seperti biologi untuk lebih memahami proses penyakit, statistik untuk memanfaatkan data secara efisien dan menarik kesimpulan yang tepat, ilmu sosial untuk lebih memahami penyebab langsung dan terdekat, dan rekayasa untuk penilaian paparan.

Implikasinya, penerapan manajemen risiko akan meluas. Banyak perusahaan, termasuk sektor keuangan, akan merekrut ahli-ahli ini untuk menetapkan parameter dan variabel serta analisis dari model manajemen risiko di masa depan dengan melibatkan ahli epidemiologi. Manajemen risiko berbasis populasi modern adalah kompleks, membutuhkan serangkaian keterampilan (medis, politik, teknologi, matematika).

Di mana praktik dan analisis epidemiologis merupakan komponen inti, yang disatukan dengan ilmu manajemen untuk menyediakan perawatan kesehatan yang efisien dan efektif dan bimbingan kesehatan untuk suatu populasi.

Tugas demikian memerlukan kemampuan berwawasan ke depan dari pendekatan manajemen risiko modern yang mentransformasikan faktor risiko kesehatan, insiden, prevalensi dan statistik kematian (diturunkan dari analisis epidemiologis) menjadi metrik manajemen yang tidak hanya memandu bagaimana sistem kesehatan menanggapi masalah kesehatan populasi saat ini.

Tetapi juga bagaimana sistem kesehatan dapat dikelola untuk merespons dengan lebih baik potensi masalah kesehatan populasi di masa depan.

Taiwan adalah contoh Negara yang sangat jago dalam menggunakan metodologi ini. Wabah virus corona mengingatkan kita semua bahwa menteri kesehatan haruslah orang yang sangat paham akan manajemen risiko berbasis epidemiologis dan memiliki keberanian untuk bekerja sama dengan pemerintah Taiwan.

*) President Director Center for Banking Crisis

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN