Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Rasio Penyertaan Saham Modal Ventura Tembus 32%

Selasa, 14 September 2021 | 04:48 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Perusahaan Modal Ventura (PMV) mencatatkan porsi penyertaan saham (equity participation) sebesar 32,57% per Juli 2021. Sementara mayoritas bisnis PMV pada pembiayaan usaha produktif relatif menyusut.

Mengacu statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyertaan saham PMV tercatat sebesar Rp 5,25 triliun, mencakup 32,57% dari total pembiayaan dan penyertaan sebesar Rp 16,13 triliun per Juli 2021. Porsi itu terus meningkat dalam dua tahun terakhir, yakni 17,36% pada 2019 dan sebesar 30,06% di akhir 2020.

Sebaliknya, mayoritas portofolio PMV masih dicatatkan oleh pembiayaan usaha produktif sebesar Rp 10,24 triliun, mencakup 63,48% dari total pembiayaan/penyertaan PMV per Juli 2021. Porsi itu menyusut jika dibandingkan pada tahun 2019 mencapai 78,72%, tapi lebih tinggi jika dibandingkan akhir 2020 dengan porsi 61,38%.

Adapun total pembiayaan/penyertaan PMV per Juli 2021 sebesar Rp 16,31 triliun tercatat meningkat 19,97% secara year to date (ytd). Tren positif itu sejalan dengan investment and financing to asset ratio (IFAR) PMV yang stabil di posisi 74,40%, jauh dari ketentuan minimum OJK sebesar 40%. Selain itu, non performing financing (NPF) bergerak turun di level 4,83%, dibandingkan akhir tahun 2020 sebesar 5,60%.

"Penyertaan itu naik karena PMV yang melakukan penyertaan ekuitas itu naik. Kemudian ada POJK yang menyatakan minimal ekuitas, itu juga menjadi salah satu faktor. OJK sudah mulai mengingatkan kepada PMV bahwa mereka harus memenuhi POJK itu," ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro kepada Investor Daily, Senin (13/9).

POJK 35/2015 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura pada Pasal 11 ayat (1) memang menerangkan bahwa PMV wajib memiliki penyertaan saham dan/atau penyertaan melalui pembelian obligasi konversi paling rendah sebesar 15% dari total kegiatan usaha PMV. Ayat (2) menegaskan pemenuhan porsi itu wajib dipenuhi dalam jangka waktu paling lambat tiga tahun setelah izin usaha ditetapkan.

Lebih lanjut, Eddi mengungkapkan, peningkatan porsi di penyertaan ekuitas menjadi pertanda baik. Artinya, PMV mulai melihat bahwa investasi melalui penyertaan saham dengan karakteristik jangka panjang lebih memiliki risiko yang terukur, jika dibandingkan pemberian pembiayaan yang resikonya tidak menentu. Pihaknya meyakini bahwa porsi penyertaan langsung masih akan naik di masa mendatang.

"Pembiayaan produktif masih menjadi mayoritas tapi trennya menurun. Sedangkan penyertaan ekuitas yang bukan menjadi mayoritas tapi trennya naik. Pada suatu saat, entah kapan, penyertaan ekuitas akan menyalip porsi dari pembiayaan usaha produktif," beber dia.

Terkait dengan NPF, Eddi menuturkan, pembiayaan bermasalah dapat menjadi indikasi untuk melihat situasi perekonomian saat ini. Menurut dia, perbaikan ekonomi yang tengah berlangsung membuat rasio NPF berhasil ditekan. Perbaikan ekonomi diharapkan terus berlangsung sehingga pembiayaan bermasalah bisa terus menurun.

Laba Tumbuh 214%

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza


Sementara itu, OJK pada pekan lalu menerbitkan Statistik Lembaga Pembiayaan 2020 , yang diantaranya ikut membahas kinerja bisnis yang telah diaudit dari PMV. Salah satunya yakni laba bersih sebesar Rp 1,98 triliun atau naik sebesar 214,65% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 0,63 triliun.

Peningkatan laba sejalan dengan pertumbuhan bisnis pembiayaan/penyertaan yang tumbuh 14,52% (yoy) menjadi Rp14,97 triliun di 2020. Tiga sektor ekonomi terbesar penymbang pembiayaan/penyertaan adalah perdagangan besar dan eceran, aktivitas keuangan dan asuransi, serta aktivitas penyewaan. Lalu diikuti sektor konstruksi, pertanian, dan real estate.

Dilihat dari jumlah kontrak, PMV sampai dengan tahun 2020 relatif menurun menjadi sebanyak 1,91 juta dibandingkan sebelumnya 2,20 juta. Adapun sumber pendanaan PMV tumbuh 12,95% menjadi Rp 7,96 triliun, dengan portofolio terbesar adalah pinjaman dalam negeri yang mencakup 70,85%.

Jumlah PMV tercatat sebanyak 61 perusahaan, dengan 57 PMV melakukan kegiatan usaha konvensional dan empat PMV melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Jumlah itu meningkat satu entitas dibandingkan akhir tahun 2019. Aset dan ekuitas PMV masing-masing sebesar Rp 21,07 triliun dan Rp 9,49 triliun atau tumbuh 9,80% (yoy) dan 21,20% (yoy) di 2020. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN