Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo di acara Innovation Day OJK, Senin (11/10/2021). Sumber: BSTV

Presiden Joko Widodo di acara Innovation Day OJK, Senin (11/10/2021). Sumber: BSTV

Tingkatkan Literasi Keuangan Digital, OJK Gandeng World Bank dan ADB

Senin, 11 Oktober 2021 | 20:16 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pada tahun 2024 tingkat literasi keuangan bisa mencapai 90%, dari posisi saat ini 76%. Untuk mencapai angka tersebut, OJK juga bekerja sama dengan World Bank dan juga Asia Development Bank (ADB) dalam menyusun modul program literasi keuangan digital.

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) II OJK M. Ihsanuddin mengatakan, literasi keuangan menjadi salah satu aspek penting yang dapat mempengaruhi konsumen dalam menggunakan produk keuangan. Banyak masyarakat yang memakai produk keuangan tanpa mengetahui risikonya.

Padahal, literasi dan inklusi keuangan sangat berkaitan, tingkat pendidikan juga turut andil dalam literasi keuangan masyarakat. Menurut dia, untuk memberikan pemahaman lebih baik mengenai literasi keuangan, bisa diberikan dengan modul interaktif sebagai terobosan agar tingkat pemahaman masyarakat naik.

Pihaknya juga mencatat penyaluran pinjaman dari fintech peer to peer (P2P) lending meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, didorong dari kebutuhan kredit yang belum terpenuhi oleh perbankan nasional. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang tidak memahami risiko produk-produk dari fintech bahkan terjerat pinjaman online (pinjol) ilegal.

Pinjol ilegal
Pinjol ilegal

"Modul literasi menjadi kontribusi berharga dan dapat memberikan pemahaman lebih baik kepada masyarakat terkait P2P lending," ungkap Ihsan dalam acara OJK Virtual Innovation Day 2021, Senin (11/10).

Pada kesempatan yang sama, Practice Manager EAP for Finance Competitiveness and Innovation World Bank, Cecile Niang menjelaskan, modul program literasi keuangan digital tersebut bertujuan untuk membantu konsumen untuk memahami fintech lending.

Dia menjelaskan fintech sendiri mengalami peningkatan cukup signifikan. Kebutuhan masyarakat atas pinjaman online juga terjadi saat pandemi, bahkan lebih tinggi, namun tidak diikuti oleh literasi keuangan yang memadai.

"Di Indonesia, fintech ilegal ada peningkatan tinggi, debt collector kasar yang melanggar aturan. Untuk membantu Indonesia meminimalisir, OJK bersama World Bank menyusun satu pedoman literasi keuangan digital dalam bentuk video dan e-book," jelas Cecile.

Lebih lanjut, Ihsanuddin mencatat, hingga Agustus 2021 akumulasi penyaluran pinjaman dari 106 fintech lending mencapai Rp 249,49 triliun dengan outstanding Rp 26,1 triliun.

"Walau ada banyak keuntungan, ada banyak masyarakat yang belum paham risiko, ini menyebabkan konsumen terjebak. Untuk itu kami revisi regulasi bidang utama amandemen adalah GCG manajemen risiko, kualitas pinjaman dan perlindungan nasabah," papar Ihsanuddin.

Peningkatan kualitas GCG dilakukan dengan bersikap transparan, pelaku P2P lending harus memberitahukan suku bunga yang ditetapkan, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL), dan simulasi pendanaan dalam website. Hal tersebut dilakukan agar konsumen bisa menentukan apakah akan menggunakan layanannya atau tidak.

Diharapkan, dengan adanya modul literasi hasil kerja sama OJK, World Bank, dan ADB bisa mempercepat peningkatan edukasi dan literasi keuangan digital masyarakat.

Pada saat yang sama, Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sarjito mengungkapkan, pada tahun 2024 diharapkan 90% masyarakat sudah memahami layanan dan produk keuangan, khususnya pengguna jasa fintech lending.

Selain bekerja sama dengan World Bank dan ADB, Sarjito mengaku bahwa OJK juga menjalin sinergi dengan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat.

"Kami kerja sama dengan kementerian dan lembaga, melalui Kemendagri kami koordinasi dengan semua Gubernur di Indonesia, termasuk Walikota dan Bupati. Kami merasa senang bahwa hampir semua Gubernur di seluruh Provinsi jadi tim kami, ini efektif meningkatkan literasi dan akses keuangan," urai Sarjito.

OJK juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Pendidikan serta perbankan, hal ini dilakukan agar semua pelajar memiliki rekening bank sejak Sekolah Dasar (SD).

"Ini efektif memberikan mereka akses keuangan bekerja sama dengan berbagai bank agar semua siswa memiliki rekening bank dari SD sampai SMA, tapi ini jangan jadi rekening dormant," pungkas dia. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN