Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pengembangan Investasi BPJS Ketenagakerjaan Edwin Ridwan CFA, FRM saat acara BeritaSatu Economic Outlook 2022, Prospek Investasi 2022, Selasa (23/11/2021).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Direktur Pengembangan Investasi BPJS Ketenagakerjaan Edwin Ridwan CFA, FRM saat acara BeritaSatu Economic Outlook 2022, Prospek Investasi 2022, Selasa (23/11/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

KEMBALI KE PASAR SAHAM,

BP Jamsostek Incar Yield Investasi 6,5% di 2022

Selasa, 23 November 2021 | 15:52 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - BPJS Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek menargetkan tingkat imbal hasil (yield) investasi dana kelolaan sebesar 6,5% di tahun 2022. Selain itu, di tahun depan BP Jamsostek juga mengindikasikan bakal kembali masuk ke pasar saham.

Direktur Pengembangan Investasi BP Jamsostek Edwin Michael Ridwan menyampaikan, imbal hasil investasi di tahun ini diproyeksi bisa mencapai 7% dari target sebesar 6,5%. Pencapaian itu berkat kerja sama berbagai pihak di internal BP Jamsostek meski kondisi begitu menantang.

Pandemi Covid-19 yang sempat mempengaruhi harga saham dan memaksa otoritas moneter menurunkan suku bunga memang mempengaruhi imbal hasil investasi. Namun demikian, pihaknya meyakini kondisi tahun 2022 lebih baik dari dua tahun sebelumnya, sehingga BP Jamsostek bisa lebih optimistis untuk meraih target investasi di masa mendatang.

"Kalau target (yield) tahun depan kira-kira masih sama 6,5%," kata Edwin pada sesi diskusi virtual dengan tema Prospek Investasi 2021 di acara Beritasatu Outlook 2022 hari kedua yang disiarkan Beritasatu TV, Selasa (23/11).

Dari sisi dana kelolaan, Edwin memaparkan, BP Jamsostek menerima rata-rata iuran dana jaminan sosial sebesar Rp 75 triliun per tahun, dengan hasil investasi sekitar Rp 35 triliun. Meski adanya klaim senilai Rp 35 triliun, maka besaran iuran yang didapat akan tetap utuh sebesar Rp 75 triliun. Nilai itu setidaknya diproyeksi akan menambah dana kelolaan yang saat ini dicatatkan sekitar Rp 540 triliun.

"Nah itu merupakan tantangan tersendiri karena suku bunga sangat rendah. Deposito di bank Himbara misalnya, angkanya di bawah 3%, sedangkan kami punya target 6,5-6,7%. Tentunya untuk mencapai investasi tersebut, kami harus melakukan pengelolaan investasi yang aktif dan dinamis sesuai dengan koridor risiko yang terukur," jelas dia.

Tantangan lainnya adalah ketidakpastian yang tentu masih berlanjut karena pandemi Covid-19. Hal itu membuat harga aset investasi berfluktuasi dan berpotensi menjadi unrealize loss pada portofolio BP Jamsostek. Maka salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengurangi eksposur pada portofolio saham untuk beberapa waktu.

"Tidak dengan menjual, tapi iuran Rp 75 triliun setiap tahun yang diterima, tidak ditambahkan atau mengalokasikan ke saham sehingga secara persentase akan turun dengan sendirinya. Tapi perlu disampaikan, kalau kondisi membaik seperti saat ini, kami melihat tanda-tanda perekonomian mulai membaik, maka tidak menutup kemungkinan kami akan kembali masuk ke pasar saham," beber Edwin.

Dia menuturkan, portofolio investasi saham mencapai 12,1% dan reksa dana sebesar 7,1%. Karena reksa dana banyak ditempatkan pada reksa dana saham maka dikatakan bahwa eksposur terhadap saham mencapai 19,2% dari dana kelolaan BP Jamsostek.

"Tentunya kami melakukan active management dari portofolio, dimana kami melakukan pemilihan efek dari sisi fundamental dan teknikal, serta memanfaatkan momentum pasar dan waktu yang tepat untuk mendapatkan imbal hasil yang optimal," imbuh dia.

Alokasi terbesar investasi ditempatkan pada instrumen fixed income, terutama di surat utang negara yang memang diamanatkan tidak kurang 50% dari total dana kelolaan jaminan sosial. Sedangkan dana investasi badan mesti menempatkan minimal sebesar 30% pada surat utang negara.

Untuk investasi langsung atau properti itu masih kecil, sebesar 0,5%, sedangkan secara regulasi kami bisa menempatkan di penyertaan langsung sebesar 5%. Jadi masih besar peluang untuk menempatkan dana di investasi langsung.

"Kami di dalam investasi kami juga berupaya mendukung program-program pemerintah namun tetap di dalam koridor peraturan yang berlaku. Tentunya kami di dalam melakukan investasi, berusaha sebaik mungkin untuk bisa turut serta di dalam mencipta lapangan pekerjaan," jelas Edwin.

Sebagai badan penyelenggara jaminan sosial, BP Jamsostek menjalankan prinsip liability driven investor dalam aktivitas investasinya. Namun demikian, Edwin bilang, pihaknya mesti dinamis atau menyesuaikan situasi pasar dan aktif dalam memanfaatkan momentum pasar sehingga imbal hasil bisa didapat dengan optimal.

Sektor Prospektif

Direktur Pengembangan Investasi BPJS Ketenagakerjaan Edwin Ridwan CFA, FRM saat acara BeritaSatu Economic Outlook 2022, Prospek Investasi 2022, Selasa (23/11/2021).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Direktur Pengembangan Investasi BPJS Ketenagakerjaan Edwin Ridwan CFA, FRM saat acara BeritaSatu Economic Outlook 2022, Prospek Investasi 2022, Selasa (23/11/2021). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal


Sementara itu, Edwin juga mengungkapkan sejumlah sektor yang dianggap prospektif di tahun 2022. Diantaranya adalah sektor perbankan, otomotif, telekomunikasi, dan pertambangan. Sejumlah sektor yang mengalami perbaikan itu juga yang membuat BP Jamsostek semakin percaya diri akan prospek investasi di tahun depan.

Apalagi kinerja fundamental untuk keempat sektor itu dinilai cukup positif dan bergerak membaik pada kuartal III-2021. Pasar modal Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang sangat membaik pasca pandemi, kinerja IHSG setelah menguat 10,24% ytd sampai 31 Oktober 2021. Nilai tukar Rupiah pun stabil di level Rp 14.100-14.270.

Untuk sektor pertambangan misalnya, harga komoditas naik cukup signifikan. Sebagai contoh, harga minyak mentah naik di atas 100% (yoy), batu bara naik 170% ytd, CPO 37% ytd. Sebagai negara yang masih bergantung pada harga komoditas dunia, hal itu menjadi angin segar tersendiri dalam pemulihan ekonomi nasional.

BP Jamsostek juga melihat foreign net buy pada Oktober 2021 sebesar US$ 926 juta, jauh di atas rata-rata per bulan sebesar US$ 280 juta. Edwin mengungkapkan, kondisi kurang menguntungkan yang terjadi di Tiongkok secara tidak langsung akan menguntungkan Indonesia sebagai tempat alternatif negara-negara lain berinvestasi.

"Mengingat Indonesia merupakan salah satu emerging market, tentunya mereka memiliki alokasi investasi di emerging market. Kalau mereka tidak bisa investasi di Tiongkok maka mereka akan mencari pasar lain dan saya kira Indonesia adalah salah satu pilihan utama," kata dia.

Untuk sektor perbankan, potensi bisa dilihat dari kinerja lima bank besar yang mencatatkan net interest income (NII) stabil di kuartal III-2021. Lalu ada penurunan provisi dan juga penurunan Covid-19 restricting balance di tengah kondisi PPKM. Untuk sektor otomotif, manufacturing margin tercatat cukup menggembirakan dengan adanya financing credit cost yang cukup rendah.

Selain sektor-sektor itu, lanjut Edwin, pihaknya juga melihat beberapa peluang investasi di dalam tiga tema utama yaitu dalam konteks privat deals, dari sisi tech industry, dan investasi berbasis environmental, social, and governance (ESG). Menurut dia, selain untuk meningkatkan investasi, tema itu bisa mendukung pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Privat deals lebih diorientasikan pada proyek infrastruktur, termasuk sektor energi baru dan terbarukan. Sektor itu dinilai mengalami stagnasi sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Proyek padat modal itu dinilai layak untuk kembali bergulir dengan semakin membaiknya situasi dan kondisi terkini. Kini BP Jamsostek pun secara aktif mempelajari peluang investasi di sektor tersebut.

Tema kedua terkait dengan tren digitalisasi. Apalagi ekonomi digital di Indonesia ini memang sangat prospektif dan BP Jamsostek pun tertarik untuk ikut serta sebagai investor. Sedangkan tema terakhir yakni ESG yang masih membutuhkan banyak kontribusi dari sektor finansial seperti BP Jamsostek. Saat ini tercatat 34% total investasi saham BP Jamsostek merupakan saham-saham dengan kategori ESG.

Edwin mengatakan, ada beberapa tantangan lain untuk bisa melakukan investasi di tahun 2022. Pertama adalah, adanya keterbatasan instrumen investasi di pasar Indonesia, baik dari jenis dan kapitalisasi, maupun likuiditasnya. "Sehingga kami melihat diperlukan upaya pendalaman pasar atau regulasi yang memungiinkan BP Jamsostek bisa melakukan investasi di luar Indonesia," ucap dia.

Kedua adalah tantangan keterbatasan regulasi, terutama kaitannya dengan unrealize loss atau kebijakan cut loss yang menimbulkan ketidakpastian hukum. Oleh karena itu, Edwin berharap kendala itu bisa segera dicari solusinya agar BP Jamsostek melakukan aktivitas investasi dengan lebih nyaman.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN