Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri BUMN Erick Thohir ditemui wartawan usai seminar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) DKI Jakarta bertajuk

Menteri BUMN Erick Thohir ditemui wartawan usai seminar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) DKI Jakarta bertajuk "Menuju Masyarakat Cashless" di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (3/8/2022). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Cashless Society di Indonesia Masih Terbatas

Kamis, 4 Agustus 2022 | 08:52 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Upaya membentuk kelompok masyarakat non tunai (cashless society) di Indonesia masih terbatas karena demografi penduduk yang cukup beragam. Namun demikian, celah ini juga yang memungkinkan peredaran uang berbasis elektronik dapat terus berkembang.

Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan, uang tunai masih banyak digunakan masyarakat. Salah satunya tercermin dari masih maraknya transaksi di lebih dari 500 ribu agen BRILink yang tersebar di seluruh Indonesia. Kendati proses transaksi dilakukan secara elektronik, penggunaan ditujukan untuk mencairkan uang dalam bentuk tunai.

"Tentu kita masih menuju (cashless society), karena kalau melihat demografi pendidikan bangsa kita itu rata-rata SD-SMP. Karena itu, kita melihat program perbankan seperti BRI masih melakukan cash basis, benar-benar cash," ucap Erick saat seminar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) DKI Jakarta bertajuk "Menuju Masyarakat Cashless" di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (3/8/2022).

Seiring terbentuknya cashless society, kata dia, para penyelenggara keuangan digital diharapkan bisa menjaga sistemnya dari potensi kecurangan dan penipuan. Hal ini terutama ditujukan kepada bank-bank dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) agar lebih antisipatif.

Baca juga: Erick Thohir: BUMN Jangan Jadi Dinosaurus

"Saya tidak mau bicara kasus per kasus, karena itu masih dalam proses. Tapi disitu sudah ada timbul penipuan di dalam sistem digital, apakah itu oknum dari luar atau oknum dari dalam, ini yang memang saya yakin akan seiring. Jadi yang namanya cashless, penipuan juga akan semakin canggih dan semakin besar," ucap Menteri BUMN.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan, transaksi masyarakat secara tunai memang bergerak turun tapi masih relatif besar. Pada 2019 transaksi secara tunai mencakup 60% dan turun menjadi 59% pada 2021. Sedangkan transaksi non tunai secara account to account naik tipis dari 18% menjadi 20%.

"Kalau kita prediksi ke depan, kapan kita menjadi cashless?. Sepertinya masih lama. Pada 2025 saja, baru diperkirakan 47% transaksi masih secara cash. Karena mungkin gradasi masyarakat Indonesia sangat luas, termasuk dari sisi tingkat pendidikan. Jadi untuk transmisi ke digital itu masih perlu waktu," jelas dia.

Baca juga: Tren Cashless Society Mulai Merambah Pasar Tradisional

Di samping itu, Purbaya mengakui, tren penggunaan uang kini mengarah ke digital dan telah tumbuh dengan signifikan. Transaksi uang elektronik tahunan mencapai Rp 239 triliun dari sebelumnya hanya Rp 5,42 miliar.

"Jadi memang kita bergerak ke arah sana, meskipun memang demografi penduduk kita, tidak mungkin sepenuhnya dikuasai oleh uang-uang digital tadi. Kecuali kita bisa melakukan edukasi yang baik ke penduduk sehingga mereka melek digital dan tidak mudah ditipu di dunia digital," ujar Purbaya.

CEO AstraPay Ricky Gunawan menuturkan, peredaran uang di masyarakat tercatat mencapai Rp 820,2 triliun per Mei 2022. Pada saat yang sama, uang dalam bentuk elektronik baru mencapai Rp 9,4 triliun.

Baca juga: Inilah 7 Keseruan Menjadi Bagian dari Cashless Society

"Jadi sebenarnya potensi mengganti uang kertas atau uang kartal menjadi uang digital itu terbuka sangat lebar. Kalau melihat growth-nya memang bertumbuh terus. tapi memang kalau dilihat grafiknya masih sangat kecil, dibandingkan uang kartal," ungkap Ricky.

Berdasarkan data BI, peredaran uang dalam bentuk elektronik memang menunjukkan tren peningkatan sejak 2018 sampai dengan Mei 2022. Secara berurutan tercatat sebesar Rp 4,0 triliun pada 2018, menjadi Rp 6,1 triliun pada 2019, sebesar Rp 7,9 triliun pada 2020, mencapai Rp 11,1 triliun di 2021, dan menjadi Rp 9,4 triliun per Mei 2022.

Jika dirinci dari nilai Rp 9,4 triliun, uang elektronik berbasis server seperti yang diselenggarakan oleh OVO, Gopay, DANA, LinkAja, AstraPay, dan lainnya relatif meningkat dari tahun ke tahun dengan porsi Rp 5,82 triliun per Mei 2022. Sedangkan uang elektronik yang dikelola bank seperti e-Money, Brizzi, Flazz, dan Tapcash, tercatat sebesar Rp 3,59 triliun.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN