Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi saat pembukaan Festival Edukasi Bank Indonesia (Feskabi)  di Universitas Lampung, Bandar Lampung, Selasa (29/10).

Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi saat pembukaan Festival Edukasi Bank Indonesia (Feskabi) di Universitas Lampung, Bandar Lampung, Selasa (29/10).

BI Seimbangkan Teknologi dan Risiko terkait Sistem Pembayaran

Nasori, Selasa, 29 Oktober 2019 | 16:10 WIB

JAKARTA, investor.id – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Rosmaya Hadi menegaskan, di era ekonomi digital ini bank sentral terus memperkuat peran dan fungsi sebagai regulator sistem pembayaran dengan menyeimbangkan antara perkembangan teknologi dan risiko yang ada. Ini dilakukan melalui empat peran utama yang dimiliki bank sentral.

Ia memaparkan, keempat peran itu adalah pertama, mengatur teknologi yang akan digunakan. Kedua, menyiapkan sandbox untuk melakukan uji terhadap inovasi. "Ketiga, memberikan izin dan keempat, melakukan pengawasan," ujar Rosmaya di Universitas Lampung pada pembukaan Festival Edukasi Bank Indonesia (Feskabi) di Bandar Lampung, Selasa (29/10).

Tema Feskabi yang diusung tahun ini adalah "QRIS (QR Code Indonesian Standard): Pembayaran Digital Ala Milenial". Ini sejalan dengan kebijakan BI yang berkomitmen penuh untuk mendukung pengembangan sistem pembayaran dan memfasilitasi perkembangan ekonomi digital dan inklusi keuangan Indonesia.

Festival Edukasi Bank Indonesia (Feskabi)  di Universitas Lampung, Bandar Lampung, Selasa (29/10).
Festival Edukasi Bank Indonesia (Feskabi) di Universitas Lampung, Bandar Lampung, Selasa (29/10).

Feskabi—dulu merupakan BI Goes To Campus—adalah kegiatan sosialisasi dan edukasi yang diselenggarakan BI secara rutin sejak 2013 mengenai fungsi, tugas dan kebijakan terkini Bank Indonesia kepada generasi milenial khususnya mahasiwa di berbagai kota di Indonesia. Kegiatan ini dilakukan secara terintegrasi, untuk meningkatkan pemahaman generasi milenial tentang kebijakan terkini BI.

Selain kegiatan sosialisasi dan edukasi, rangkaian Feskabi juga memperlombakan kompetisi video dan blog yang telah dibuka sejak 26 September lalu sampai dengan 20 November 2019 dan terbuka untuk umum. Feskabi selanjutnya akan dilaksanakan Universitas Negeri Manado pada 4 November 2019.

Pada acara Feskabi sebelumnya yang digelar di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Deputi Gubernur BI Sugeng menyatakan, digitalisasi merupakan suatu keniscayaan dan Indonesia harus siap mengambil manfaat melalui potensi yang besar yang sangat sayang sekali jika tidak dioptimalkan, salah satunya adalah generasi milenial.

Sugeng juga menyakinkan bahwa BI berkomitmen penuh untuk mendukung pengembangan sistem pembayaran dan memfasilitasi perkembangan ekonomi digital dan inklusi keuangan Indonesia.

 

Tiga Strategi Utama

Sebelumnya Sugeng mengungkapkan, BI terus mendorong perkembangan ekonomi digital di Indonesia sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru (new source of economic growth) melalui tiga strategi utama sistem pembayaran di era ekonomi digital.

Ia memaparkan, ketiga strategi itu pertama, menetapkan visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025. Kedua, mendorong peningkatan elektronifikasi transaksi pembayaran. Ketiga, mendorong program persiapan pemasaran online UMKM (on boarding UMKM) ke ekonomi digital.

“Hal tersebut dapat dicapai melalui sinergi yang baik antara BI dengan otoritas terkait dan dengan pelaku industri sehingga dapat mendukung kemajuan dan keunggulan Indonesia,” ujar dia dalam seminar yang diselenggarakan IDX Channel yang bekerja sama dengan BI dengan tema Menuju Indonesia Unggul Melalui Keuangan Digital di Jakarta, awal bulan ini.

Sugeng optimistis Indonesia bisa memanfaatkan ekonomi digital sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. "Kami lihat Indonesia dapat memanfaatkan ekonomi digital sebagai new source of economic growth. Pertama karena jumlah penduduk kita yang semakin banyak kaum milenialnya," ujar Sugeng.

Selain itu, akses terhadap teknologi relatif belum merata meski animo masyarakat menggunakan layanan teknologi cukup tinggi. Penggunaan telepon seluler (ponsel) di Tanah Air saat ini mencapai 371,4 juta unit atau 142% dari total populasi sebanyak 262 juta jiwa.

Namun, penetrasi internet di Indonesia masih relatif rendah. Berdasarkan data internetworldstats, penetrasi internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa atau sekitar 53% dari total populasi yang diperkirakan mencapai 269,54 juta jiwa. Kemudian,tingkat inklusi keuangan di Indonesia juga masih sebesar 49% berdasarkan data survei akhir 2017 lalu.


 

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA