Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor OJK/David Gita Rosa

Kantor OJK/David Gita Rosa

Bulan Inklusi, OJK Dorong LJK Salurkan Kredit UMK Rp 2,8 Triliun

Selasa, 6 Oktober 2020 | 04:56 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong lembaga jasa keuangan (LJK) baik bank maupun non bank untuk mengucurkan kredit atau pembiayaan kepada para pelaku usaha mikro dan kecil sebesar Rp 2,8 triliun. Penyaluran kredit tersebut dilakukan selama bulan inklusi ini yakni 1-31 Oktober 2020.

Deputi Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sarjito mengatakan, sejak tahun 2016 OJK bersama kementerian dan lembaga jasa keuangan telah menginisiasi bulan Oktober sebagai bulan inklusi keuangan. Fokus tahun ini adalah untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional (PEN) dalam rangka meningkatkan pemahaman produk dan layanan, serta akselerasi jumlah rekening atau penyaluran kredit.

"Selama bulan inklusi, lembaga jasa keuangan didorong pemberian kredit atau pembiayaan usaha mikro dan kecil sebesar Rp 2,8 triliun. Selain itu juga program kredit melawan rentenir dengan tim percepatan daerah," kata Sarjito Senin (5/10).

Sarjito mengungkapkan, dengan komitmen dari stakeholder, diharapkan dapat terus meningkatkan tingkat inklusi keuangan, di mana pada tahun 2019 indeks inklusi Indonesia 76,2%. Untuk itu, OJK juga membuat program satu rekening satu pelajar (Kejar) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Hari ini OJK bersama Kemendikbud meluncurkan 1 rekening 1 pelajar sesuai Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2019, di mana selama tahun 2020 ini ditargetkan pembukaan rekening pelajar sebanyak 500 ribu rekening. Sebagai partisipasi dalam literasi diluncurkan buku PAUD bergambar seri literasi keuangan," urai Sarjito.

Deputi Makro Menko Perekonomian Iskandar Simorangkir. Foto: ekon.go.id
Deputi Makro Menko Perekonomian Iskandar Simorangkir. Foto: ekon.go.id

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, inklusi keuangan memiliki peranan penting bagi perekonomian. Oleh karena itu, untuk mendorong inklusi, perlu didorong kredit modal kerja bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sehingga usahanya meningkat.

"Percepat inklusi dengan mempercepat akselerasi kredit modal kerja ke UMKM untuk meningkatkan usahanya. Salah satunya kepada UMKM dengan banpres tunai sebesar Rp 2,4 juta kepada 12 juta pelaku UMKM dan ditingkatkan ke 15 juta pelaku UMKM," jelas Iskandar.

Iskandar mengungkapkan, selain banpres tunai, penyaluran kredit ultra mikro dan kredit usaha rakyat (KUR) super mikro dengan plafon sampai Rp 10 juta dengan bunga 0% sampai akhir tahun untuk ibu rumah tangga dan masyarakat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) juga merupakan salah satu upaya mempercepat inklusi keuangan.

"Percepatan inklusi tidak berhenti sampai di sini, pemerintah juga memberikan subsidi UMKM dan KUR, jadi bunga 0% untuk KUR sampai akhir tahun ini. OJK juga bantu UMKM dengan restrukturisasi akibat Covid dengan relaksasi POJK 11, angka inklusi diharapkan meningkat," terang Iskandar.

Pihaknya mengungkapkan, tingkat inklusi keuangan Indonesia masih di bawah negara-negara lain, yakni 76,2% pada akhir 2019. "Masih di bawah Tiongkok dan India yang inklusinya sudah 80%, serta di ASEAN, Malaysia sudah 85%, Thailand 82%. Tapi saya apresiasi juga program OJK untuk pembukaan 500 ribu tabungan pelajar," kata dia.

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara
Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara

Anggota Dewan Komisioner OJK Tirta Segara menambahkan, inklusi keuangan memiliki peran penting dan strategis yang diharapkan dapat menjadi solusi jitu untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19. Dia juga menyebut, inklusi keuangan diyakini sejalan dan berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi, inklusi keuangan juga penting untuk mendorong pemulihan ekonomi, serta berperan pada stabilitas ekonomi.

"Tingkat inklusi keuangan tahun 2019 76,2%, tapi belum merata, sebab akses keuangan di perkotaan 83,6% masih lebih tinggi dari pedesaan 68,5%. Sementara itu, Bapak Presiden sebagaimana arahannya telah menetapkan pencapaian target 90% inklusi di tahun 2024," imbuh Tirta.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN