Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat konferensi pers pengukuhannya sebagai Guru Besar dibidang Ilmu Manajemen Risiko pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sabtu (24/8). Foto: Ist

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat konferensi pers pengukuhannya sebagai Guru Besar dibidang Ilmu Manajemen Risiko pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sabtu (24/8). Foto: Ist

Manajemen Risiko Terukur

Dana Pensiun Diproyeksi Tumbuh Lebih Besar pada 2021

Selasa, 5 Januari 2021 | 17:55 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA - Aset yang masih mampu tumbuh positif dinilai menjadi salah satu indikator kinerja industri dana pensiun cukup stabil meski terdampak Covid-19. Industri tersebut diproyeksi akan tumbuh lebih besar lagi di 2021 seiring manajemen risiko yang terukur.

Mengacu pada statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November 2020, total aset neto dana pensiun tercatat mencapai Rp 303,94 triliun atau tumbuh 7,04% secara tahunan (year on year/yoy). Nilai itu ditopang aset investasi sebesar Rp 295,54 triliun atau meningkat 6,56%  (yoy).

Data tersebut sejalan dengan yang disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso pada acara Silaturahmi Virtual Sektor Jasa Keuangan 2021, Senin (4/1). Dia menyampaikan jika lembaga keuangan stabil, maka kinerja dana pensiun akan baik. Industri tersebut juga diproyeksi bisa terus berkembang.

"Dalam kondisi pandemi Covid-19 kemarin (dana pensiun) sepertinya tidak terkena dampak yang sangat signifikan. 2021 kami yakin ini akan lebih besar lagi, dengan adanya kelolaan yang lebih besar maka berbagai risiko akan muncul, untuk mengembangkan investasi dan risk management seiring dana kelolaan yang lebih besar," demikian kata Wimboh.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Suheri menyatakan, masa-masa sulit akibat pandemi yang memukul sektor kesehatan, ekonomi, dan sosial baru saja dilewati. Saatnya bagi industri dana pensiun berkembang dan berpartisipasi dalam pembangunan lewat penyerapan berbagai instrumen investasi.

"Dalam berbagai keterbatasan kondisi ekonomi sudah menunjukkan perbaikan. Semua kegiatan itu tentu berdampak terhadap investasi dana pensiun. Kami percaya setelah kesulitan pasti ada kemudahan," ucap dia.

Suheri menambahkan, kinerja dana pensiun dapat menjadi lebih baik seiring dengan penanganan pandemi Covid-19. "Kalau dana pensiun tidak berkembang akan menjadi beban pemerintah apabila nanti setelah pensiun para karyawan tidak memiliki penghasilan lagi," tandas dia.

Suheri, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia pada diskusi bertema Survive & revive in the new normal era di acara Best Listed Companies Award 2020 majalah Investor, Selasa (21/7/2020). Sumber: BSTV
Suheri, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia pada diskusi bertema Survive & revive in the new normal era di acara Best Listed Companies Award 2020 majalah Investor, Selasa (21/7/2020). Sumber: BSTV

Senada, Ketua Umum Perkumpulan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Nur Hasan menuturkan, banyak pembelajaran yang didapat sepanjang 2020. Pihaknya juga setuju bahwa dana pensiun bisa tumbuh lebih besar di 2021. Namun demikian, industri juga perlu dukungan dari berbagai pihak.

"Pada 2021 tentunya masih banyak tantangan dan harapan yang ingin dicapai, kami membutuhkan dukungan OJK dan Kementerian Keuangan, terutama melalui revisi UU Dana Pensiun yang sudah ada sejak 1992, melalui RUU Omnibus Law Sektor Keuangan," kata dia.

Aturan Manajemen Risiko
Seperti yang dikatakan Wimboh, siring dengan potensi tumbuh kembang dari industri dana pensiun, para pelaku juga mesti memperbarui manajemen risikonya. Dalam hal ini, OJK telah memberlakukan Surat Edaran OJK (SEOJK) Nomor 28/2020 pada 30 Desember 2020 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Dana Pensiun. Ketentuan itu merupakan peraturan pelaksanaan dari POJK 44/2020 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Lembaga Jasa Keuangan Non Bank.

Adapun pokok pengaturan dalam SEOJK Manajemen Risiko Dana Pensiun meliputi, objek pengaturan yakni DPPK dan PKLK, termasuk yang berprinsip syariah. Kemudian penerapan manajemen risiko mesti sesuai dengan tujuan, kebijakan, ukuran, dan kompleksitas usaha dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi dan potensi permasalahan yang dihadapi.

Dana pensiun pun mesti menerapkan strategi, kebijakan, prosedur secara tertulis. Hal tersebut selanjutnya dituangkan dalam bentuk pedoman internal manajemen risiko. Adapun penerapan manajemen risiko bagi dana pensiun mesti mengacu pada standar yang telah dilampirkan pada SEOJK.

Diantaranya mesti mengacu pada empat pilar penerapan manajemen risiko. Pertama, pengawasan aktif pengurus. Kedua, kecukupan kebijakan dan prosedur serta limit risiko. Ketiga, kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pengendalian, dan pemantauan risiko, serta sistem informasi manajemen risiko. Keempat, sistem pengendalian internal secara menyeluruh.

Lebih lanjut, keempat pilar itu mesti diterapkan pada delapan jenis risiko. Seperti risiko strategis, risiko operasional, risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi. Sedangkan untuk menilai profil risiko (risiko yang melekat dan kualitas penerapan), dana pensiun perlu mengacu pada POJK 28/POJK.05/2020 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Lembaga Jasa Keuangan Non Bank.

Penerapan manajemen risiko dana pensiun tersebut dapat digabung dengan penerapan manajemen risiko pendiri DPLK. Tapi dengan catatan, apabila dana pensiun bisa memastikan bahwa pendiri telah memenuhi semua aspek penerapan manajemen risiko. Adapun ketika ketentuan ini berlaku, SEOJK Nomor 10/2016 dinyatakan tidak berlaku. (pri)

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN