Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Erick Thohir. Foto: IST

Erick Thohir. Foto: IST

AGAR LEBIH PROFESIONAL

Erick Thohir akan Gabungkan Dana Pensiun BUMN

Triyan Pangastuti, Rabu, 8 Januari 2020 | 18:15 WIB

JAKARTA, Investor.id- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana menggabungkan pengelolaan dana pensiun di perusahaan-perusahaan pelat merah. Langkah itu ditempuh agar dana pensiun di perusahaan milik negara dapat dikelola lebih profesional.

Meski begitu, penyatuan dana pensiun masih membutuhkan restu Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.

“Masing-masing perusahaaan kan biasanya ada dana pensiunnya. Nah, nanti disatukan semua. Tapi karena ini menyangkut keuangan, saya harus minta persetujuan menkeu. Kalau ibu menkeu setuju, semua akan disatukan,” kata Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga di Kantor BUMN, Jakarta, Selasa (7/1) malam.

Namun, Arya tidak menjelaskan secara detail konsep penggabungan pengelola dana pensiun perusahaan-perusahaan pelat merah.

Dia hanya menjelaskan sejumlah opsi, yakni dikelola badan yang sudah ada atau membuat sebuah badan baru yang khusus mengelola dana pensiun.  “Penentuan skema wadah dana pensiun BUMN masih menunggu persetujuan menkeu dan presiden,” tutur dia.

Menurut Arya Sinulingga, jika dikelola menjadi satu oleh internal BUMN, dana pensiun dapat berkembang lebih besar dan pengelolannya lebih profesional, sehingga tidak ada penyalahgunaan dana.

Arya mencontohkan Kanada. Penguatan dana pensiun milik negara telah diterapkan negara itu.  “Di Kanada, dana pensiun itu besar banget, terbesar di dunia. Kita harus bisa juga bikin dana pensiun menjadi besar dan dikelola secara profesional,” tegas dia.

Dia menegaskan, dana pensiun harus dikelola orang-orang profesional serta memiliki kapabilitas dan integritas tinggi. “Dana pensiun, terutama yang dikelola BUMN, saat ini sangat besar,” ujar dia.

Arya mengungkapkan, Kementerian BUMN menginginkan penggabungan dana pensiun di perusahaan-perusahaan pelat merah segera terealisasi. Oleh karena itu, Kementerian BUMN akan meningkatkan koordiansi dan komunikasi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Ide Positif

Dihubungi secara terpisah, ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan, rencana penyatuan dana pensiun di BUMN dalam satu atap merupakan ide positif. Soalnya, jumlah karyawan BUMN sangat banyak. Jika dana pensiun mereka dikelola dalam satu lembaga maka tata kelolanya akan lebih baik dan efisien.

“Kemudian sisi pengawasan dan penempatan dana pun akan lebih transparan,” kata Bhima ketika dihubungi Investor Daily di Jakarta, Rabu (8/1).

Sisi negatifnya, menurut Bhima, dana pensiun di masing masing BUMN berbeda-beda. “BUMN padat karya akan diuntungkan oleh skenario ini, sebab likuiditasnya lebih longgar. Tapi untuk BUMN padat modal dengan karyawan yang sedikit, dia harus memberikan iuran dana pensiun lainnya untuk saling menyubsidi,” ujar dia.

Dia menegaskan, pemerintah harus belajar dari kasus Jiwasraya yang melakukan kesalahan tata kelola penempatan investasi sehingga menganggu likudiitas. “Harapanya, dengan disatukan, kasus seperti Jiwasraya tidak terjadi lagi,” tandas dia.

Penyatuan dana pensiun BUMN, kata Bhima Yudhistira, juga dapat mendorong pengelolaan investasi menjadi lebih menguntungkan dan biaya yang dikeluarkan lebih efisien.

“Dengan demikian, keuntungan yang diberikan kepada karyawan BUMN bisa lebih tinggi,” ucap dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN