Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pedagang UMKM di sebuah pasar tradisional. Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Pedagang UMKM di sebuah pasar tradisional. Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Holding Ultramikro Jawab Kebutuhan Pelaku Usaha

Senin, 26 April 2021 | 12:37 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id) ,Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pembentukan holding ultramikro dinilai menjadi langkah efektif untuk menjawab kebutuhan pendanaan pelaku usaha yang beragam. Seiring integrasi dan konsolidasi dari tiga entitas anggota holding yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Kepala UKM Center Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Zakir Machmud melalui keterangan tertulis. Dia menjelaskan, holding yang akan melibatkan tiga perusahaan BUMN diyakini masih akan menjaga karakteristik bisnis masing-masing. Dengan demikian, menurut Zakir, kebutuhan pembiayaan pelaku ultramikro akan dapat terjawab.

Bahkan, kemampuan lembaga jasa keuangan tersebut dalam menjawab kebutuhan pendanaan pelaku ultramikro akan lebih baik dengan integrasi dan konsolidasi. "Saya setuju, ini adalah rencana efektif. Masing-masing memiliki model bisnis yang berbeda. Kalau mau menolong UMKM memang harus dengan banyak model. Ini bagus," jelas Zakir, Senin (26/4/2021).

Dia menjelaskan, Pegadaian selama ini sudah dapat menjawab kebutuhan pelaku mikro dengan cepat karena menggunakan model gadai. Pun PNM yang memiliki bisnis yang sangat kuat dengan model pemberdayaan tanpa perlu menuntut agunan dari pelaku ultramikro.

Kedua modal tersebut, menurut Zakir, akan semakin kuat dengan bantuan teknologi dan integrasi data dari BRI. Bahkan, likuiditas dari BRI dapat disalurkan ke PNM dan Pegadaian untuk lebih cepat menstimulasi pembiayaan ultramikro. Selain itu, Zakir berpandangan holding ultramikro akan lebih kuat mendorong pelaku ultramikro memiliki rekening tabungan.

Dengan begitu, akan lebih banyak lagi lembaga jasa keuangan formal yang akan tertarik menggarap segmen ultramikro guna mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional ke depan.

"Mungkin harapan saya, holding ini juga lebih banyak menciptakan berbagai produk keuangan baru yang cocok untuk setiap karakteristik usaha ultramikro," ungkap dia.

Secara terpisah, Direktur Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (LLP-KUKM) atau Smesco Indonesia, Leonard Theosabrata mengutarakan, pembentukan holding yang dipimpin oleh BRI akan sangat memantik optimisme pelaku UMKM. Pasalnya, BRI cukup berhasil dalam memberi pendampingan dengan beban pinjaman yang sangat terjangkau. Bahkan sebagian besar Kredit Usaha Rakyat (KUR) disalurkan oleh BRI, dan pelaku UMKM sudah mampu naik ke kelas yang lebih baik tanpa perlu memberatkan fiskal negara.

Dia menyampaikan, pelaku UMKM saat ini juga membutuhkan pendampingan yang mampu membawa mereka go digital. Pembiayaan tanpa pendampingan go digital justru tidak akan banyak membantu pemulihan operasional tahun ini.

"Kami pun juga sebenarnya mencoba untuk terus mendorong pelaku UMKM memanfaatkan platform digital agar mereka mendapat akses pasar lebih luas," tutur Leonard.

 

Pemulihan Kinerja

Sementara itu, Kementerian Koperasi dan UKM menyatakan pembentukan holding ultramikro merupakan bagian dari sinergi pemerintah dalam peningkatan kinerja ultramikro. Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki menyebut, pihaknya bersama kementerian dan lembaga lain selalu berupaya untuk bersinergi dalam membantu mengakselerasi kinerja ultramikro pada periode pemulihan ekonomi tahun ini.

"Kita memang selalu mengedepankan sinergi dalam pengembangan UMKM nasional. Iya ini termasuk dengan pembentukan holding ultramikro," ujar Teten.

Dia menyampaikan pemerintah memiliki tiga fokus dalam upaya tersebut. Pertama, pemerintah meningkatkan stimulus pembiayaan termasuk dengan meningkatkan KUR hingga Rp 253 triliun dengan bunga 3% hingga akhir tahun ini. Kedua, pemerintah akan berkolaborasi dengan membuat kampanye Bangga Buatan Indonesia, yang nantinya diharapkan mendorong kinerja pelaku UMKM.

Ketiga, pemerintah juga akan terus mengedepankan pendampingan pada pelaku UMKM. Pemerintah berharap pelaku UMKM lebih cepat melakukan transformasi produk hingga adaptasi digital di periode pemulihan ekonomi ke depan. "Tentu kebijakan holding ini sudah menjadi kebijakan pemerintah, dan akan membantu semua fokus kami tadi," jelas dia.

Teten menjelaskan kekuatan ekonomi nasional ada di segmen UMKM. Hanya, pelaku UMKM sulit berkembang naik kelas karena kapasitas usahanya terbatas. Selain itu produk UKM dinilai masih kurang punya daya saing, termasuk ekspor yang rendah yakni baru 14%.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN