Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembayaran Tahap II pada nasabah produk High Promissory Notes IndoSterling.

Pembayaran Tahap II pada nasabah produk High Promissory Notes IndoSterling.

IndoSterling Bayar Cicilan Tahap II, Pakar Sebut Ini Bentuk Komunikasi Non Verbal

Rabu, 6 Januari 2021 | 08:10 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id —Dosen Ilmu Komunikasi Program Pascasarjana Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing mengungkapkan, perusahaan yang sedang dilanda krisis keuangan namun tetap berupaya menyelesaikan kewajibannya dengan cara mencicil atau pembayaran bertahap merupakan bentuk komunikasi non verbal yang patut diapresiasi.

Kendati begitu perusahaan juga harus bisa bersikap transparan dalam menjelaskan kewajiban dan tanggungjawabnya secara jelas kepada para kreditur.

“Pesan komunikasinya adalah niat baik, ada keinginan memahami khalayak serta menunjukkan bahwa mereka berempati. Dari aspek komunikasi pembayaran cicilan itu merupakan bentuk kepedulian dan tanggungjawab perusahaan. Perlu dipresiasi,” kata Emrus Sihombing kepada wartawan di Jakarta, Selasa (5/1/2021).

Sejalan dengan pernyataan Emrus, masalah yang membelit PT IndoSterling Optima Investa (IOI) bisa jadi rujukan. Saat ini perusahaan investasi ini baru saja melakukan pembayaran cicilan tahap kedua bagi nasabah produk High Promissory Notes (HYPN) yang diterbitkannya. Pembayaran yang dilakukan pada Senin (4/1/2021) itu sudah diberikan kepada 1.041 kreditur.

Kuasa Hukum IOI, Hardodi Hardodi mengatakan, pembayaran tersebut untuk melengkapi pembayaran yang sudah dilakukan pada tahap pertama, 1-4 Desember 2020, kepada 1.108 kreditur. "Rp 8 miliar telah dibayarkan," kata Hardodi Hardodi, secara terpisah dalam jumpa wartawan yang digelar kemarin.

Lebih lanjut Emrus menyatakan semasa pandemi Covid-19 telah terjadi banyak peristiwa di luar perencanaan, termasuk perusahaan yang mengalami gagal bayar. Buat perusahaan yang sudah eksis dalam jangka waktu lama dan tidak mampu membayar, menurut dia, menjadi sebuah situasi yang dinamakan krisis.

“Situasi semacam ini terjadi di banyak tempat perusahaan. Tentunya tak ada yang pernah menginginkan hal semacam ini terjadi. Covid-19 ini memang fenomena atau bencana yang tidak kita duga,” ujarnya.

Namun pria yang menyebut dirinya sebagai komunikolog ini tetap menyarankan agar setiap perusahaan yang menghadapi krisis finansial harus bersikap terbuka. Sikap ini bisa dilakukan dalam ranah private maupun publik.

Pada ranah privat, lanjut dia, pihak manajemen perusahaan bisa menjelaskan secara terbuka kondisi yang terjadi. “Bisa saja memaparkan cashflow perusahaan untuk menjelaskan kondisi yang sebenarnya,” ujarnya.

Sementara di ranah publik, Emrus menyarankan, ada beberapa hal yan tidak harus disampaikan secara detail. Namun pihak perusahaan harus tetap berusaha terbuka dalam menjelaskan dan tanggungjawabnya. Ia juga menyarankan untuk membuka ruang-ruang dialog dalam mengatasi krisis.

“Dengan adanya keterbukaan, baik di wilayah private maupun public, maka akan terjadi mutual understanding antara pihak kreditur dan perusahaan. Jadi sekali lagi saya ingin tegaskan bahwa satu-satunya cara yang dapat dialukan oleh perusahaan dalam kondisi krisis adalah keterbukaan,” jelasnya.

Deasy Sutedja, Communication Director IndoSterling Group, menyatakan komitmen pihaknya untuk menjalankan kewajiban dari putusan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Ia juga mengatakan percepatan pembayaran PT IndoSterling Optima Investa sebagai bukti nyata komitmen perusahaan memenuhi kewajiban kepada kreditur sesuai dengan hal yang telah disepakati.

“Kita akan berusaha menyelesaikannya secara bertahap, mengikuti keputusan dari PKPU yang telah disepakati dan diputuskan di Pengadilan Niaga,” ujarnya.

Adapun dalam skema yang disetujui dalam proses PKPU, dana para kreditur akan dibayarkan dalam 4 hingga 7 tahun yang akan dimulai dari 1 Maret 2021 hingga tenor cicilan terpanjang adalah 1 Desember 2027. Tenor cicilan tersebut dihimpun oleh majelis hakim dengan mempertimbangkan jumlah investasi, umur kreditur, dan kondisi kesehatan kreditur.

Upaya PT IndoSterling Optima Investa untuk mempercepat pembayaran tidak lepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang memasuki fase titik balik (turning point) dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19. Meski masih mengalami kontraksi, namun seluruh komponen pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan tren meningkat bahkan telah melewati fase kritis.

Kasus IndoSterling Optima Investa berawal dari penundaan pembayaran dan restrukturisasi untuk produk Indosterling High Yield Promissory Notes. Produk tersebut menjanjikan imbal hasil 9-12% setiap tahunnya yang ditandai oleh kesepakatan dari pemegang dan penerbit.

Namun pandemi Covid yang terjadi secara global sejak Februari 2020 membuat PT IndoSterling Optima Investa terlambat memenuhi kewajiban yang dijanjikan kepada kredit. Saat itu, hal ini telah disampaikan melalui surat pemberitahuan kepada seluruh pemegang HYPN.

Sejumlah pemegang HYPN merasa tidak puas sehingga berujung pada proses hukum yang menghasilkan kesepakatan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dimana PT IndoSterling Optima Investa akan mulai melakukan pembayaran pada 1 Maret 2021.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN