Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kemi Yanti (kiri) dan putranya, Ahmad Bisri menunjukkan hasil sablon pada gelas souvenir yang akan dikirim ke Kalimantan, di workshop-nya yang terletak di Kecamatan Pedurungan, Semarang pada 21 Agustus 2019. (Foto: Investor Daily / Happy Amanda Amalia)

Kemi Yanti (kiri) dan putranya, Ahmad Bisri menunjukkan hasil sablon pada gelas souvenir yang akan dikirim ke Kalimantan, di workshop-nya yang terletak di Kecamatan Pedurungan, Semarang pada 21 Agustus 2019. (Foto: Investor Daily / Happy Amanda Amalia)

Upaya Nasabah BTPN Syariah Meraih Mimpi (bagian ketiga)

Kemi Yanti Manfaatkan Media Online untuk Kembangkan Usaha Souvenir

Happy Amanda Amalia, Minggu, 8 September 2019 | 08:19 WIB

SEMARANG, investor.id – Peran wanita, disadari sangat penting bagi semua orang karena kehadirannya mampu menciptakan kebahagiaan keluarga. Di pelosok negeri ini, tersebar wanita-wanita perkasa yang disebut sebagai “Ibu” yang turut berjuang demi keluarga mewujudkan hidup yang lebih baik, meraih sejahtera.

Walau berasal dari keluarga pra-sejahtera, para ibu ini tetap memiliki mimpi besar baik untuk keluarganya maupun untuk lingkungan sekitar. Tidak ingin berpangku tangan dan hanya berharap kepada suami, para wanita yang didominasi ibu rumah tangga itu mulai menggerakkan tangan-tangan terampilnya sehingga melahirkan sejumlah karya, mulai dari bantal, mebel, souvenir, laundry, mukena, tas anyama, batik, songket, sampai makanan ringan.

Untuk memulai usaha-usaha tersebut, tentunya dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Dan umumnya, rintangan awal bagi para ibu adalah soal ketersediaan modal, yang kemudian membuatnya terpaksa mengubur impiannya.

Adalah BTPN Syariah yang sampai saat ini menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang memfokuskan diri melayani keluarga pra-sejahtera produktif (unbankable). Melalui model bisnis BTPN Syariah yang unik, yaitu mengkombinasikan misi bisnis dan sosial (do good do well) itulah, keluarga pra-sejahtera jadi memiliki kesempatan untuk mengejar mimpinya.

Beberapa waktu lalu, Investor Daily bersama beberapa media nasional dan lokal berkesempatan memenuhi undangan BTPN Syariah mengunjungi Semarang untuk melihat bagaimana bank itu menjalankan bisnis pembiayaan sekaligus berinteraksi dengan para nasabah inspiratif di Semarang.

Sosok nasabah inspiratif prasejahtera yang ditemui kali ini adalah Kemi Yanti. Ibu rumah tangga yang menjalankan usaha souvenir dengan dibantu putra keduanya, Ahmad Bisri (25 tahun) di Kecamatan Pedurungan, Semarang.

Usaha souvernir untuk pernikahan yang dirintis bersama mendiang suaminya ini, awal mula dibantu BTPN Syariah dengan pinjaman sebesar Rp 2 juta dan sekarang pinjamannya sudah bertambah menjadi Rp 10 juta.

Dengan tambahan modal tadi, Kemi mampu mengembangkan usaha dan memasarkan souvenir, sekaligus membuat undangan dengan bantuan Ahmad. Bahkan souvenirnya pernah dikirim hingga Malaysia dan Kalimantan melalui pesanan online.

Kemi mengaku jika urusan pemasaran online memang diserahkan kepada anak lelakinya yang kebetulan bisa berbahasa Inggris.

“Pengiriman souvenir nggak pasti. Kadang dalam satu bulan bisa 4 sampai 5 kali pengiriman. Tetapi sekali kirim bisa ribuan souvenir. Kalau yang punya hajatan kecil-kecilan, minimal 1 gross baru bisa dikirim. Kalau undangan, Ahmad yang desain pakai Corel. Dari harga mulai Rp 1.000 sampai Rp 10.000 ke atas. Biasanya yang bikin mahal adalah tingkat kesulitan pembuatan dan bahannya,” ujar Kemi.

Ahmad menambahkan, jika masih ada kendala yang harus dihadapi dalam mengembangkan usaha souvenir bersama ibunya, yakni selain masalah modal, sumber daya manusia, bahan baku, dan juga penambahan alat untuk membuat properti masih menjadi rintangan.

Menurut Kemi, sebelumnya dia memiliki banyak karyawan untuk mengerjakan usaha souvenir, tetapi kemudian mereka ada yang keluar dan membuka usaha serupa, serta merebut langganan. Alhasil, kini usaha souvenir dikerjakan sendiri bersama anak-anak.

“Kalau saat banyak pesanan, biasanya teman-teman saya, ibu-ibu tetangga sekitar ikut membantu membungkus souvenir,” kata Kemi yang telah ditinggal oleh mendiang suami selama 10 tahun.

Namun, Ahmad menyatakan punya strategi tersendiri dalam menghadapi persaingan usaha itu. Dia mengatakan selalu memberikan pelayanan maksimal sejak awal sampai selesai, serta membuat konsumen selalu nyaman saat berbicara dengannya. Bahkan dia juga menawarkan solusi jika konsumen kebingungan untuk persiapan pernikahan.

“Saya siap semua dari awal sampai akhir. Mulai dari orkes, MC, desain, tenda, kursi, sound system, percetakan,” tuturnya

Saat ditanya mimpi Kemi mengenai usaha souvenir, dia berharap usahanya semakin berkembang dan bisa membuka usaha lain. Sementara Ahmad, berharap dapat membeli barang ekspor dari produk Tiongkok agar souvenir yang dihasilkan lebih bervariasi.

Ahmad Bisri, putra dari nasabah inspiratif prasejahtera BTPN Syariah Kemi Yanti, sedang memperlihatkan proses penyablonan pada gelas souvenir yang akan dikirim ke Kalimantan, di workshop-nya yang terletak di Kecamatan Pedurungan, Semarang pada 21 Agustus 2019. (Foto: Investor Daily / Happy Amanda Amalia)
Ahmad Bisri, putra dari nasabah inspiratif prasejahtera BTPN Syariah Kemi Yanti, sedang memperlihatkan proses penyablonan pada gelas souvenir yang akan dikirim ke Kalimantan, di workshop-nya yang terletak di Kecamatan Pedurungan, Semarang pada 21 Agustus 2019. (Foto: Investor Daily / Happy Amanda Amalia)

Pemberdayaan Nasabah

Di sela-sela kunjungan tim BTPN Syariah dan beberapa rekan media ke kediaman Kemi Yanti, Business Coach Jateng 1 BTPN Syariah Anom Arditta sempat menawarkan bantuan pelatihan kerja desain grafis secara gratis kepada Ahmad guna mendukung peningkatan keterampilan membuat undangan dan souvenir.

Menurut Anom, sejak 2018 khusus di wilayah Semarang, sebenarnya unit value BTPN Syariah bukan hanya memberikan pembiayaan tapi juga pemberdayaan kepada nasabah, bahkan tidak hanya nasabah melainkan untuk keluarga nasabah pula. Dalam hal ini, seperti menawarkan pelatihan desain grafis kepada Ahmad.

Dia mencontohkan kerja sama antara yang baru berjalan adalah antara BTPN Syariah dengan BLK (badan latihan kerja) Demak di mana BLK Demak memberikan kesempatan kepada anak nasabah BTPN Syariah untuk mendapatkan pelatihan gratis.

“Jadi kita bisa jual unit value kita, di mana kita nggak cuma kasih pembiayaan tetapi kita juga memberikan pemberdayaan kepada nasabah dan keluarga nasabah. Dan itu sudah terbukti di BLK Demak. Yang saya tawarkan ke Mas Ahmad kemarin kurang lebih sama. Tetapi karena kami belum ada MoU dengan LPK (lembaga pelatihan kerja) di Semarang, jadi belum bisa menyebutkan nama LPK-nya. Tetapi mitra kami yang menyediakan kurikuluM desain grafis itu telah membuka kesempatan untuk nasabah, “Kalau ada yang mau magang di tempat saya silahkan lho Pak”. Nah, nanti Mas Ahmad akan saya daftarkan ke situ, gratis,” ujarnya kepada Investor Daily.

Anom menambahkan, saat memberikan tawaran pelatihan kepada Ahmad, ternyata banyak ibu yang juga meminta agar anak-anaknya bisa diikutsertakan. Sehingga dia kemudian meminta agar para ibu mendata anak-anaknya yang mau didaftarkan mengikuti pelatihan gratis.

“Malah saya sampai bilang ke ibu-ibu itu, dah bu gini aja sekarang didata saja. Saya butuh data anak nasabah yang usianya di atas 18 tahun, sudah lulus SMK, kira-kira siapa saja nanti akan saya daftarkan untuk pelatihan gratis di BLK Semarang,” tuturnya.

Saat ditanya, kenapa berbeda dengan Ahmad, Anom mengungkapkan karena kurikulum desain grafis tidak tersedia di BLK Semarang dan hanya ada di LPK yang jadi mitra khusus BTPN Syariah.

“Di BLK Semarang itu ada beberapa pelatihan, seperti tata boga sampai otomotif. Nanti disesuaikan sama minat dan bakat mereka. Tetapi kalau Mas Ahmad karena di BLK Semarang tidak ada, jadi saya rekomendasikan ke LPK yang ada kurikulum desain grafisnya bukan ke BLK,” katanya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA