Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas menata uang pecahan rupiah yang siap didistribusikan dari Cash Center Bank Mandiri, di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petugas menata uang pecahan rupiah yang siap didistribusikan dari Cash Center Bank Mandiri, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Rupiah Sampai Akhir Tahun Diprediksi di Kisaran 14.500-14.900

Jumat, 2 Oktober 2020 | 10:46 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Rully Arya Wisnubroto, Senior Financial Market Analyst Bank Mandiri memperkirakan rupiah hingga akhir tahun berada di kisaran 14.500-14.900.

Hal tersebut dikemukakan Rully Arya dalam sambungan telepon dengan BeritaSatuTV di acara IDX Opening Bell, Jumat (2/10/2020). Rupiah sendiri Jumat pagi (2/10/2020) ini terpantau melemah 8 poin atau 0,05% menjadi Rp14.843 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.835 per dolar AS.

Rully mengatakan, jika direview sepekan terakhir, dalam beberapa hari rupiah cenderung bergerak stabil namun sempat tertekan di 14.900.

Bank Indonesia (BI) menurut Rully Arya perlu melakukan intervensi untuk menjaga rupiah tetap di bawah 15.000.

Rully Arya Wisnubroto, Senior Financial Market Analist Bank Mandiri. Sumber: BSTV
Rully Arya Wisnubroto, Senior Financial Market Analist Bank Mandiri. Sumber: BSTV

“Jika dilihat dari posisi fundmental ekonomi di dalan negeri sehausnya rupiah cenderung menguat, dengan neraca perdagangan yang sudah beberapa kali surplus. Kemudian juga defsit neraca transaksi berjalan yang membaik, inflasi relatif stabil. Rupiah saat ini masih undervalue. BI harus tetap mempertahankan stabilitas melalui intervensi,” katanya.

Berdasarkan rilis data terakhir deflasi sudah terjadi tiga bulan berturut-turut, oleh karena itu menurut Rully rupiah melemah karena aktivitas ekonomi memang sedang melambat. Inflasi masih di bawah standar BI dii bawah 2% yoy.

Rully meniai pekan depan tak ada data-data ekonomi yang dapat mendorong pergerakan rupiah. Pelaku pasar masih melihat pada upaya pengendalian kasus Covid-19.

“Sentimen negatifnya pekan depan saya kira masih cukup besar,” katanya.
Rully melihat rupiah terhadap dolar melemah pagi ini ada di 14.843, terhadap beberapa mata uang di kawasan terhadap S$ dan Yen Jepang sejalan karena ada faktor teknikal setelah 3 hari mengalami kenaikan secara gradual.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN