Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 SPBU khusus Pertamax - BBM subsidi

SPBU khusus Pertamax - BBM subsidi

Mobil dengan AI Bisa Jebol Juga, jika Pakai BBM Oktan Rendah

Selasa, 31 Agustus 2021 | 14:53 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Kendaraan keluaran terbaru yang sudah menerapkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tetap diharuskan memakai bahan bakar minyak (BBM) beroktan tinggi, seperti Pertamax series.

Menurut pakar motor bakar Institut Teknologi Bandung (ITB) Iman Kartolaksono Reksowardojo, AI tidak bisa mencegah kerugian jika kendaraan dipaksa memakai BBM beroktan rendah. "Programming yang dilengkapi AI memang bisa beradaptasi supaya tidak merusak mesin. Tetapi, tetap saja ada batasnya. Jika terus-menerus memakai BBM beroktan rendah, tetap merugikan. Sebab, konsekuensinya adalah penurunan kinerja dan penurunan efisiensi. Selain itu, emisi memburuk,” kata dia, Selasa (31/8/2021).

Menurut ketua Ikatan Ahli Bahan Bakar Indonesia (IABI) tersebut, pemrograman AI memang membuat motor lebih fleksibel terhadap kualitas BBM yang dikonsumsi. Namun, fleksibilitas yang bisa diadaptasi melalui engine control unit (ECU) tersebut, memiliki batas dan terdapat sistem yang dikompromikan, misalnya, melalui pengapian yang disetel menjadi lebih lambat.

Jadi, lanjut dia, tetap saja ada kekurangannya. Oleh karena itu, kendaraan yang dilengkapi dengan AI tetap harus mengonsumsi BBM RON tinggi. "BBM dengan oktan tinggi berdampak positif terhadap kendaraan bermotor. Tidak hanya bagi kendaraan yang dilengkapi dengan teknologi AI, namun juga kendaraan lain," kata dia.

Iman menambahkan, kendaraan yang diisi dengan Pertamax series akan tahan terhadap temperatur dan tekanan tinggi, sehingga campuran bahan bakar dan udara tidak akan menyala dengan sendiri pada waktu langkah tekan. Dengan demikian, pembakaran hanya berasal dari api busi, bukan karena temperatur dan tekanan yang tinggi yang berasal bukan dari busi.

Menurut dia, spesifikasi mesin kendaraan keluaran terbaru memang dirancang untuk BBM dengan RON tinggi. Dengan demikian, BBM yang dipakai juga harus sesuai.

"Kalau motor dirancang untuk oktan tinggi maka harus mempergunakan BBM dengan angka oktan tinggi. Jika tidak, akan terjadi off-design operation atau operasi mesin di luar perancangan," imbuh dia.

Dia menilai, dampak pemakaian BBM beroktan rendah memang merugikan. Selain meningkatkan risiko kerusakan motor, hal itu memperburuk emisi gas buang kendaraan bermotor, menurunkan unjuk kerja motor, membuat motor mengelitik (knocking), bahkan berpotensi membuat ruang bakar berlubang.

"Knocking harus dihindari, karena dalam kasus ekstrem bisa merusak mesin, membuat piston berlubang, serta menurunkan efisiensi dan menaikkan emisi gas buang," kata dia.

 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN