Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Majalah Investor kembali gelar Literasi Goes to Campus, bertema Cerdas Berinvestasi Saat Pandemi Covid-19 pada 22 Juni 2020.

Majalah Investor kembali gelar Literasi Goes to Campus, bertema Cerdas Berinvestasi Saat Pandemi Covid-19 pada 22 Juni 2020.

2040-2050 Para Milenial bakal Jadi Bonus Demografi

Selasa, 23 Juni 2020 | 08:46 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id) ,Thereis Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.idVice President Wealth Management Division PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Martua Hanry Koestety Panggabean mengatakan, saat ini satu dari tiga orang Indonesia adalah milenial. Pada 2040-2050, mereka menjadi bonus demografi karena berusia produktif. Selain itu, 8 dari 10 orang terkoneksi dengan internet, 30,7% generasi milenial ke mal minimal dua minggu sekali.

Dengan kondisi ini, perilaku generasi milenial adalah kecanduan internet, jadi kebutuhan pokok. Mereka juga mudah berpaling ke lain hati.

“Ini tantangan bagi perbankan untuk menggaet milenial jadi nasabah. Kita harus improve terus, karena mereka mudah berpaling ke lain hati. Kemudian, milenial terlalu banyak spending dan kurang saving,” ujar Martua.

Perilaku lainnya adalah liburan kapan saja dan di mana saja. Milenial lebih memilih mencari pengalaman dibandingkan berinvestasi. Milenial juga memiliki perilaku tidak harus memiliki. Hal tersebut yang membuat generasi muda tidak punya rumah sendiri dan kendaraan sendiri.

“Dari data yang kita dapat pada 2019, milenial menyisihkan dana dari pendapatannya untuk investasi hanya 2%, jadi mereka spending terus, kalau bisa selalu liburan. Ini menurut saya sangat kecil 2% untuk investasi, kenapa hanya 2%? karena tekanan gaya hidup,” kata Martua.

Martua mengungkapkan, selain tekanan gaya hidup, tantangan bagi milenial adalah kurang pengetahuan tentang keuangan karena kurangnya literasi. Kemudian, banyak utang dan boros. “Saya yakin kita semua tahu mana yang baik. Investasi itu baik, tapi mau investasi itu susah banget. Sebenarnya simpel tapi susah dilakukan, karena teman-teman sekitarnya spending terus,” tutur Martua.

Cara yang bisa dilakukan untuk investasi bagi generasi milenial adalah mulai merencanakan, tujuan investasi untuk apa. Sebab, ketika semakin berumur pengeluaran untuk kesehatan akan meningkat sedangkan pendapatan menurun.

“Kemudian mulai eksekusi, setiap bulan bisanya berapa investasi, kalau 10% investasi harus teratur, jangan untuk spending lagi. Selain itu harus monitor, kondisi seperti apa, sudah berapa growth-nya,” tambah Martua.

Menurut dia, semakin dini berinvestasi, hasil yang diperoleh jangka panjangnya akan lebih besar 3 sampai 4 kali lipat dibandingkan berinvestasi ketika masa pensiun tinggal 15-20 tahun lagi.

“Buat milenial, ingat rumus mengelola keuangan, 40-30-20-10. Artinya, 40% anggaran untuk kebutuhan sehari-hari, 30% untuk kebutuhan utang, 20% untuk investasi dan asuransi, dan 10% untuk kebutuhan sosial,” papar Martua. Martua menegaskan, untuk memulai investasi, yang pertama harus dilakukan adalah menentukan tujuan investasi. Kedua, harus diperhitungkan jangka waktu investasi.

“Jadi dari sekarang berapapun yang ada investasikan,” saran dia.

Ketiga adalah melihat profil risiko produk investasi dan mengenali profil risiko pribadi. Keempat adalah alokasi aset. Kelima, review secara berkala.

Untuk merespons perilaku masyarakat yang saat ini lebih nyaman bertransaksi secara online, Martua menyampaikan BRI juga sudah menyiapkan berbagai platform digital, salah satunya BRImo.

“Mau investasi apapun atau menabung bisa lewat BRImo. Sekarang juga bisa membuka rekening tanpa harus datang ke kantor cabang, cukup melalui smartphone. Untuk investasi SBN ORI017 melalui BRI juga bisa dilakukan secara online,” terang Martua.

Pihaknya juga menuturkan, dana darurat harus disediakan 6-12 kali dari total pengeluaran bulanan. Menurut dia, Covid-19 mengajarkan masyarakat untuk mengalokasikan dana darurat.

Proteksi Asuransi

Majalah Investor kembali gelar Literasi Goes to Campus, bertema Cerdas Berinvestasi Saat Pandemi Covid-19 pada 22 Juni 2020.
Majalah Investor kembali gelar Literasi Goes to Campus, bertema Cerdas Berinvestasi Saat Pandemi Covid-19 pada 22 Juni 2020.

Sedangkan Regional Chief Agency Officer PT Avrist Assurance Ainun Wulandari mengungkapkan, kesadaran generasi milenial untuk berasuransi masih rendah. Generasi muda lebih banyak menghabiskan uangnya untuk memenuhi gaya hidup.

“Sekitar 69% untuk membeli fashion bisa menghabiskan Rp 2-10 juta sekali belanja, 9 dari 10 generasi milenial tidak punya waktu olahraga rutin. Sebanyak 51% milenial hobi wisata kuliner, bisa habiskan Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per minggu tanpa sadar,” papar Ainun.

Kemudian, 4 dari 10 orang milenial senang traveling dan menghabiskan sekitar Rp 3-20 juta tergantung destinasi. Ainun juga mencatat, 49% millennial spending untuk membeli gadget baru dengan menghabiskan sekitar Rp 3-10 juta sekali transaksi.

“Milenial belum sadar risiko finansial. Akibatnya jika suatu hari terjadi risiko hidup, investasi yang bertahun-tahun bisa hilang sekejap. Investasi itu penting, tapi perlu proteksi dari asuransi juga,” tambah Ainun.

Pemahaman akan asuransi juga sangat penting untuk memproteksi masa depan. Apalagi masa depan itu penuh ketidakpastian, sehingga segala sesuatunya harus dipersiapkan.

Dia memberi gambaran, jika milenial menyisihkan Rp 500-800 ribu per bulan, maka akan mendapatkan proteksi jiwa setara Rp 950 juta dengan critical illness Rp 900 juta, personal accident Rp 750 juta, dan dana pensiun Rp 950 juta.

“Pada saat usia produktif, kita tentu berharap semua kondisi akan berjalan seperti yang diharapkan, semua cita-cita keuangan kita bisa terpenuhi. Tetapi ada hal-hal tak terduga yang bisa terjadi di tengah jalan saat kita tengah mempersiapkan kebutuhan untuk keluarga mapan. Misalnya mengalami kecelakaan atau sakit di usia produktif, atau tidak disangka terjadi risiko meninggal mendadak yang tentunya akan berisiko pada keluarga yang ditinggalkan,” terang Ainun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN