Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chief Agency Officer Manulife Indonesia Jeffrey Kie : Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti saat ini, yang dibutuhkan adalah kepastian, yakni proteksi.

Chief Agency Officer Manulife Indonesia Jeffrey Kie : Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti saat ini, yang dibutuhkan adalah kepastian, yakni proteksi.

Mengajak Milenial Menuju Kebebasan Finansial

Minggu, 19 September 2021 | 21:22 WIB
Windarto

Jakarta, Investor.id -"The greatest cause of human financial struggle is the fear of losing money." (Robert Kiyosaki). Selain sebagai alat tukar, uang merefleksikan kekayaan, sebab aset apapun bisa ditaksir dan dikonversi dengan uang, begitupun uang bisa dipakai untuk membeli aset apapun. Kehilangan uang tidak hanya diartikan seseorang terkena pencurian, perampokan, atau penipuan. Kehilangan uang bisa pula terjadi akibat kegagalan atau kesalahan berinvestasi, terkena kecelakaan, terkena penyakit kritis, bahkan karena gaya hidup yang boros.

Semua orang mengidamkan bisa mencapai tahap kebebasan finansial saat memasuki usia pensiun dan melewati masa tua tanpa terbebani lagi keharusan berjuang mencari uang. Pada tahap tersebut, semua kebutuhan keuangan termasuk apa yang ingin dilakukan atau dibeli sudah terpenuhi oleh pendapatan pasif (passive income) yang diperoleh dari investasi portfolio dan non portfolio, dalam jangka panjang. Untuk mencapai tahap ini, selain perlu memiliki rencana keuangan yang baik, mampu mengelola aset agar memberikan hasil optimal, juga mampu menjaga aset tersebut dari risiko 'kehilangan'.

Generasi Y atau biasa disebut Generasi milenial (milenial) perlu merencanakan keuangan agar memiliki kehidupan yang baik di masa mendatang, bahkan mampu mencapai tahap kebebasan finansial. Berdasarkan Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik, ada 69,38 juta milenial atau 25,87% dari populasi penduduk Indonesia. Jumlah yang besar dan berada pada rentang usia produktif (24-39 tahun) membuat milenial punya peran penting dalam perkembangan ekonomi nasional ke depan, termasuk perkembangan industri keuangan.

Di sisi lain, milenial seringkali identik dengan gaya hidup yang cenderung konsumtif seperti gemar mencari pengalaman baru melalui travelling, membeli gadget terbaru, mencoba kafe baru, mengunjungi tempat hiburan baru atau hal-hal yang dapat menguras keuangan. Di kalangan milenial dikenal istilah YOLO (you only live once) dan FOMO (fear of missing out), yang sebenarnya justru mendorong perilaku konsumtif. Hal itu kerapkali membuat milenial kesulitan dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Padahal uang yang dikeluarkan untuk memenuhi keinginan tersebut bisa lebih bermanfaat bila dipakai untuk berinvestasi atau membeli produk asuransi.

Pandemi memberi pelajaran buat masyarakat betapa penting mempersiapkan perencanaan keuangan untuk mengantisipasi risiko kesehatan dan keuangan. Tidak sedikit orang yang tertular Covid-19 harus menanggung biaya yang besar untuk berobat dan pemulihan. Pandemi pun mengajarkan, ekonomi keluarga bisa tiba-tiba rubuh karena tidak memiliki dana darurat ketika kepala keluarga terkena PHK, atau tidak bisa menjalankan usaha karena terkena pembatasan sosial. Banyak masyarakat tidak siap menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian akibat pandemi.

Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) Jeffrey Kie menyebut, dalam situasi penuh ketidakpastian seperti saat ini, yang dibutuhkan adalah kepastian, yakni proteksi. Disampaikan Jeffrey saat webinar dengan media beberapa waktu lalu, menyiapkan perlindungan asuransi dalam situasi seperti saat ini penting, sebab di tengah ekonomi yang sedang sulit, ketika seseorang tertimpa musibah bukan saja akan mengurangi peluang mendapatkan income, malah bisa kehilangan uang yang dimiliki untuk biaya berobat. Dengan mekanisme asuransi, risiko keuangan tersebut akan ditanggung perusahaan asuransi.

Kesadaran atas potensi risiko yang bisa menimpa selama pandemi, membuat keinginan masyarakat untuk berasuransi meningkat. Berdasarkan Manulife Asia Care Survey (MACS) 2020 yang dilakukan pada semester kedua 2020. Dari 519 responden yang merupakan nasabah aktif dan masyarakat yang belum berasuransi didapatkan hasil 43% yang menyatakan telah berinisiatif mencari informasi seputar produk dan layanan asuransi dalam merespons pandemi.

Survei tersebut menguatkan hasil MACS 2020 yang dilakukan pada semester pertama atas 300 responden nasabah aktif. Hasilnya, sebanyak 72% nasabah punya keinginan menambah perlindungan asuransi. Adapun produk asuransi yang ingin ditambahkan meliputi produk terkait penyakit kritis (34%), asuransi jiwa (30%), kesehatan (30%), dan rawat inap (29%). MACS 2020 pun menyebutkan, sebanyak 88% responden Indonesia menyatakan perlu perencanaan masa pensiun. Minat ini juga mencerminkan ketertarikan terhadap perencanaan keuangan sebagai jalan menuju kemapanan finansial di tengah situasi yang tidak pasti.

Mengomentari hasil survei tersebut, Presiden Direktur & CEO Manulife Indonesia Ryan Charland mengatakan, di Indonesia ada minat yang tinggi terhadap perlindungan kesehatan dan perencanaan pensiun selama pandemi. “Kami memahami di tengah situasi yang menantang ini, masyarakat ingin dapat lebih mengendalikan kondisi kesehatan serta kemapanan finansialnya,”ujarnya dalam rilis yang disampaikan kepada media.

Milenial terbilang masih rendah dalam mengalokasikan uang untuk keperluan asuransi dan investasi dibandingkan untuk keperluan komunikasi dan hiburan. Survei Alvara Research tahun 2020 menyebutkan, selain kebutuhan rutin yang menghabiskan 58,9% pengeluaran bulanan, milenial membelanjakan uang untuk komunikasi (telpon dan internet) mencapai 13%, jika ditambahkan dengan pengeluaran untuk hiburan yang sebesar 6,2% menjadi 19,2%. Sementara pengeluaran untuk asuransi 2,5%, investasi 0,5%, dan tabungan 8,5%. jika digabungkan hanya sebesar 10,3%.

Porsi asuransi dan investasi sebenarnya bisa ditambah dengan mengurangi porsi hiburan atau mengurangi alokasi lainnya. Milenial tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan.  Kini banyak perusahaan asuransi yang menawarkan produk dengan target untuk kalangan milenial, salah satunya MiSmart Insurance Solution (Mission). Produk yang dirilis  Manulife Indonesia tahun 2020 ini merupakan respons terhadap kebutuhan perlindungan asuransi dalam situasi pandemi. Produk ini memiliki perlindungan lengkap untuk jiwa, investasi, dan kesehatan.


 

Kebebasan Finansial

Untuk mencapai kebebasan finansial, selain memiliki perlindungan terhadap diri dan harta melalui asuransi, diperlukan pula perlindungan terhadap uang dengan cara berinvestasi agar nilainya tidak tergerus inflasi. Saat ini informasi mengenai investasi mudah diperoleh dan banyak tersebar melalui internet. Begitupun untuk mulai berinvestasi kini sudah banyak produk investasi yang ditawarkan dengan nilai terjangkau.

Para perencana keuangan biasanya membagi dua jenis investasi yakni investasi portfolio (seperti saham, reksa dana, obligasi) dan investasi non portfolio (emas, properti, usaha). Sebelum memulai investasi, ada baiknya milenial mempelajari dulu tentang seluk beluk jenis investasi yang akan dipilih termasuk risikonya.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tirta Segara, dalam berbagai kesempatan senantiasa mengingatkan hal penting dalam berinvestasi yakni prinsip 2L, legal dan logis. Apapun jenis investasi yang akan dipilih pastikan pengelolanya legal dan berada dalam pengawasan regulator. Kedua, logis. Apakah imbal hasil yang ditawarkan masuk akal dengan membandingkan imbal hasil dari  investasi lain yang sejenis. Diingatkan Tirta, jangan mudah tergiur dengan iming-iming imbal hasil tinggi, namun berujung dengan kehilangan uang yang diinvestasikan karena misalnya perusahaan tersebut bermasalah atau ternyata perusahaan investasi bodong.

Dalam mengoptimalkan dana yang dimiliki, Komisaris Bursa Efek Indonesia Pandu Sjahrir membagi pengalamannya saat mengisi webinar yang diselenggarakan Berita Satu Media Holding. Pada fase awal memperoleh pekerjaan mulailah menyisihkan penghasilan dan disiplin untuk menabung. Berapa besarannya, tidak ada pola baku karena bergantung prioritas setiap orang. Selanjutnya, jika ada kenaikan 15% dari penghasilan segera sisihkan 30% untuk ditabung dan diinvestasikan atau membeli asuransi. Pada fase usia 20-30 tahun merupakan fase untuk meningkatkan level pendidikan atau keahlian karena hal ini berpengaruh terhadap pendapatan di masa mendatang.

Ketika memasuki rentang usia 30-40 tahun, merupakan masa untuk memaksimalkan investasi dengan semakin disiplin dalam mengelola investasi. Dikatakan Pandu, upaya memaksimalkan investasi itu misalnya saat pendapatan meningkat, tidak lantas mengubah gaya hidup menjadi meningkat juga, tapi tetap seperti biasa saja. Peningkatan pendapatan tersebut sebagian besar justru digunakan untuk investasi. Hasil investasi yang diperoleh, diinvestasikan lagi atau reinvestasi. Dengan rentang waktu yang cukup panjang dalam berinvestasi, uang yang dimiliki tentu akan bertambah secara berlipat-lipat, sehingga ketika memasuki usia 40 tahun ke atas, secara finansial bakal lebih mantap, dan cita-cita menggapai kebebasan finansial lebih mudah terwujud.

Langkah menuju kebebasan finansial harus dimulai dari hal-hal mendasar dengan mengubah kebiasaan buruk dalam mengelola keuangan seperti gaya hidup konsumtif dan boros, menjadi produktif dan hemat. Dana yang berhasil dihemat tersebut dialihkan untuk investasi dan dilakukan secara disiplin. Seperti dikatakan Kiyosaki, “If you want to be financially-free, you need to become a different person than you are today and let go of whatever has held you back in the past.”

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN