Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dana Pensiun

Dana Pensiun

Persiapkan Dana Pensiun dengan Baik agar Masa Tua Sejahtera

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 17:39 WIB
Windarto

Jakarta, Investor.id -Masa pensiun merupakan keniscayaan dalam siklus hidup manusia. Pembedanya, bagaimana orang mempersiapkan diri memasuki tahap tersebut. Ada yang dengan sungguh-sungguh merencanakan secara baik, namun banyak pula yang mempersiapkan sekadarnya saja, bahkan tidak mempersiapkan sama sekali alias 'mengundi nasib' dengan prinsip 'bagaimana nanti' atau 'hidup itu ngalir saja'. Padahal semestinya kata-kata tersebut harus diubah menjadi nanti bagaimana, dan hidup itu mau ngalir kemana agar di masa pensiun tidak mengalami kesusahan atau menyusahkan keluarga.

Orang mempersiapkan masa pensiun dengan harapan di sisa usianya bisa menikmati hidup dengan sejahtera, bebas dari beban kerja untuk menghidupi dirinya dan keluarga. Karena segala kebutuhan keuangan tersebut telah tercukupi dari akumulasi dana yang disisihkan selama bertahun-tahun. Sayangnya, kesadaran orang Indonesia dalam hal mempersiapkan dana pensiun terbilang rendah. Salah satu yang dapat dijadikan informasi terkait masalah tersebut adalah survei yang disampaikan Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) melalui  Manulife Investor Sentiment Index (MISI) yang dilakukan di kawasan regional Asia termasuk Indonesia. MISI menyebut 49% investor mengandalkan kekayaan rumah tangga, dan 15% investor lainnya mengandalkan bantuan dari keluarga untuk membiayai hari tua. “Tanpa disadari, dengan mengandalkan bantuan keluarga justru menciptakan peluang terjadinya sandwich generation,” tutur Direktur dan Chief EB & Syariah Distribution Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Karjadi Pranoto.

Karjadi melanjutkan, pada survei MISI tersebut juga terungkap jika mayoritas investor mengandalkan tabungan tunai maupun kekayaan harta mereka untuk hari tua. Padahal, tabungan tunai akan mudah tergerus inflasi sehingga nilainya berkurang di masa mendatang. Selain itu, investor lainnya berpendapat melalui survei yang sama, jika mereka akan bekerja lagi di masa pensiun, mendapatkan gaji serta mengharapkan adanya dana sosial dari pemerintah. Hanya sedikit investor (14%) yang mengandalkan dana pensiun saat mereka tidak bekerja lagi. “Faktor-faktor tersebut pada akhirnya menjadikan investor terlena sehingga tidak mempersiapkan perencanaan pensiun dengan baik dan pada akhirnya justru mereka harus berjuang kembali di masa pensiun yang seharusnya mereka dapat menikmati hasil kerja keras selama masa produktif,” papar Karjadi kepada Investor.

MISI juga mendapati, 96% investor optimis di masa tuanya dapat memiliki gaya hidup yang sama, namun hal ini tidak dibarengi dengan alokasi dana yang cukup untuk kebutuhan tersebut. Seperempat investor (24%) hanya mengalokasikan kurang dari 10% tabungannya untuk simpanan dana pensiun. Selain itu, 57% investor berharap dapat mengumpulkan tabungan untuk masa pensiun sebesar maksimum Rp100 juta. Padahal uang tersebut jika dibelanjakan dengan pengeluaran rata-rata Rp4 juta sebulan, tidak sampai tiga tahun sudah habis.

Nah, sebaiknya memang perlu menghitung berapa perkiraan biaya yang dibutuhkan selama masa pensiun tersebut. Menurut Karjadi, cara sederhana adalah menghitung selisih usia harapan hidup dengan waktu mulai pensiun. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) 2019, angka harapan hidup masyarakat Indonesia mencapai usia 73 tahun. Lalu hasil angka tersebut dikalikan dengan pengeluaran per bulan atau biaya hidup saat ini, ditambah dengan nilai inflasi sekitar 3%, maka akan mendapatkan dana yang dibutuhkan. Untuk mendapatkan nilai tabungan bulanan yang perlu disisihkan, kurangi total dana yang dibutuhkan dengan saldo tabungan saat ini, lalu kalikan dengan bunga bank tahunan. “Setelah itu, hitung selisih usia saat ini dengan waktu mulai pensiun untuk mendapatkan jangka waktu menabung. Usia pensiun berkisar di angka 55-60 tahun. Selanjutnya, kita bagi total dana yang perlu dikumpulkan dengan jangka waktu menabung dan kita akan mendapatkan nilai tabungan bulanan,” jelasnya.

Misalnya, selisih harapan hidup dan masa pensiun tersebut 73-55=18 tahun. Jika pengeluaran per bulan sebesar Rp5 juta, maka dalam setahun dibutuhkan dana sebesar Rp60 juta plus asumsi inflasi 3%, diperoleh angka Rp61,8 juta. Untuk mencukupi selama 18 tahun, maka dana yang diperlukan sebesar Rp1,1 miliar. Jika diasumsikan belum memiliki tabungan sama sekali untuk dana pensiun alias mulai dari nol. Jumlah tersebut dikurangi selisih usia saat ini dengan saat pensiun, misalnya saat ini berusia 30 tahun, maka selisih atau lama waktu untuk menabung 25 tahun jika pensiun pada usia 55 tahun.

Lalu berapa dana yang perlu disisihkan selama 25 tahun tersebut? Yakni Rp1,1 miliar dibagi 25 tahun diperoleh angka Rp44 juta artinya selama setahun harus memiliki dana senilai Rp44 juta, dan tiap bulan berarti sebesar Rp3,7 juta yang perlu disisihkan. Jika mulai menyisihkan dana di usia 25 tahun, berarti dana yang diperlukan tiap bulan sebesar Rp3 juta. Semakin dini mempersiapkan, dana yang disisihkan juga semakin rendah.

Cara lain dalam menghitung kebutuhan dana di masa pensiun menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Syarifudin Yunus yakni berdasarkan replacement ratio, artinya seseorang membutuhkan 70-80% dari gaji terakhir untuk hidup layak di masa pensiun. Misalnya gaji terakhir sebesar Rp10 juta, maka dia harus punya income setiap bulan setidaknya Rp7 juta – Rp8 juta. Dengan nilai tersebut orang yang pensiun tidak akan mengalami perubahan gaya hidupnya seperti saat dia masih bekerja. “Lifestyle terpelihara, holiday jalan, kebutuhan keuangan tidak ada masalah,” tuturnya.

Pertanyaannya untuk memperoleh replacement ratio sebesar itu dari mana? Saat ini kebanyakan pekerja hanya mengandalkan dari program wajib yang disetorkan ke BPJS Ketenagakerjaan melalui program Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP). Padahal, menurut Syarif, jika hanya mengandalkan dari program tersebut tidak akan mencukupi kebutuhan di masa pensiun. “Saya pernah membuat ilustrasi kepesertaan JHT selama 30 tahun dengan 5,7% dari upah, kalau pensiunan disiplin hanya bisa dipakai untuk membiayai hidup selama 60 bulan saja, alias 5 tahun sejak pensiun,” jelasnya.

Selain progam wajib tersebut, lanjut Syarif biasanya perusahaan juga menyisihkan dana pesangon buat karyawan sekitar 7-8% atau ada pula perusahaan yang memberikan program dana pensiun dengan kisaran yang sama 7-8%. “Kalau JHT dan JP dikonversi, itu hanya memberikan 15% saja dari replacement ratio, kalau ditambah uang pesangon atau dana pensiun kantor paling menjadi 30%, jadi masih ada gap yang banyak,” imbuh Syarif. Gap tersebut antara lain disebabkan masih rendahnya iuran yang diberikan untuk dana pensiun. Menurut dia, idealnya iuran dana pensiun tersebut ada di kisaran 10-20% dari gaji seseorang.

Nah bagaimana menutup gap tersebut agar tercapai, atau bila menggunakan besaran dana yang perlu disisihkan setiap bulan? Tentunya dengan mengoptimalkan sumber dana lain yang dimiliki misalnya mengalihkan tabungan dengan ikut program DPLK mandiri, juga berinvestasi. Investasi bisa berupa portfolio seperti reksa dana, saham, obligasi atau non portfolio seperti emas, properti, atau membuat usaha.

Karjadi menyarankan, mulailah dengan menyisihkan dana dalam jumlah kecil namun konsisten dan rutin, dan tempatkan melalui DPLK serta tempatkan pula pada instrumen investasi lain seperti reksa dana agar nilai dana tidak tergerus inflasi, serta jangan lupa untuk mengevaluasi dan melakukan top up secara berkala agar memperoleh hasil yang maksimal.

Seiring waktu, dengan adanya peningkatan karier atau usaha yang dimiliki, maka akan ada peningkatan income, sehingga dapat meningkatkan jumlah investasi untuk dana pensiun. “Jadi ketika gaji naik, bukan pengeluarannya yang ikut naik tetapi investasi kita juga harus meningkat sehingga tujuan finansial dapat tercapai,” saran Karjadi.

Syarif, yang juga merupakan pension educator menyampaikan, sebaiknya sejak pertama kali bekerja sudah menyisihkan atau menjadi peserta dana pensiun. Beruntung bila perusahaan menyediakan, namun bila tidak sebaiknya secara pribadi bisa beli program pensiun yang ada di pasar. Salah satu kelebihan dana pensiun memang ada di investasi karena sifatnya jangka panjang, dan tidak bisa diambil kapan saja, melainkan pada waktu tertentu (saat pensiun), sehingga akumulasi dananya berkembang optimal. “Saran saya, bila pekerjanya masih di bawah usia 30 tahun sebaiknya pilih investasi yang agresif seperti saham. Tapi bila di atas 40 tahun, mungkin akan lebih baik yang konservatif seperti money market atau Syariah,” tutupnya.

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN