Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi keuangan. Foto: TheDigitalWay (Pixabay)

Ilustrasi keuangan. Foto: TheDigitalWay (Pixabay)

Berkaca dari Kasus Jouska, Beberapa Hal yang Perlu Diwaspadai

Selasa, 28 Juli 2020 | 10:48 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Perencana keuangan, PT Jouska Finansial Indonesia, tidak memiliki hak untuk mengelola dana investor sambil memungut biaya. Sebab Jouska bukan manajer investasi.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyatakan, Jouska hanya boleh membantu merencanakan investasi dan memberikan saran ketika investor ingin melakukan investasi, serta memonitor aktivitas keuangan kliennya. “Tidak sesuai dengan peraturan yang ada, Jouska tidak punya hak untuk mengelola uang investor sambil memungut fee. Itu harus ada izinnya, izin manajer investasi (MI),” kata dia.

Wawan menegaskan, sebelum berinvestasi, masyarakat harus dapat mencari tahu legalitas sebuah perusahaan dan status lisensinya pada OJK. Masyarakat dapat mengecek legalitas perusahaan terkait investasi di OJK. Dengan begitu, perlunya literasi masyarakat untuk dapat mengetahui pihak-pihak mana saja yang boleh mengumpulkan dan mengelola dana dari masyarakat.

Sementara itu, Presiden Direktur Astronacci International Gema Goeryadi meragukan kompetensi dari financial planner Jouska dalam memilih strategi investasinya dengan membeli saham PT Sentral Mitra Informatika Tbk (LUCK).

“Bila dilihat dari sisi kronologinya, memang ada ketidakwajaran untuk transaksi saham LUCK karena klien cukup kaget dengan adanya saham tersebut dan mengalami kerugian yang cukup fantastis di mata klien. Dan, untuk financial planner sekelas Jouska sangat ceroboh,” jelas Gema.

Sebelumnya, Jouska menjadi sorotan usai muncul keluhan terkait dengan jasa yang diberikannya. Salah satu klien Jouska periode 2018-2019 mengunggah cuitan di Twitter yang berisikan kekecewaan terhadap Jouska.

Dalam cuitannya, dia menyerahkan uang sebesar Rp 65 juta untuk dikelola. Namun, portofolio yang dimilikinya justru turun dalam. Salah satu isi portofolionya  adalah saham LUCK dengan kepemilikan 43.500 saham yang sempat terbang setelah penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 28 November 2018. Namun, setelah itu, saham LUCK terus turun.

Menurut Gema, bisa saja adanya permainan bandar terkait pergerakan harga saham LUCK, tetapi dirinya belum bisa mengetahui secara pasti mengenai permainan tersebut. “Masyarakat bisa melakukan analisis lebih lanjut untuk kenaikan saham yang di luar normalnya. Bila ada isu tertentu, masyarakat tetap bisa punya pandangan kritis tentang pergerakan harga yang ada dan kondisi perusahaan. Kembali lagi, masyarakat harus mampu menilai perusahaan secara mendalam,” tutur dia.

Gema menambahkan, masyarakat harus secara mandiri mempelajari instrumen investasi yang tersedia agar tidak lagi terjadi kasus yang sama seperti ini. Terlebih pada instrumen saham, masyarakat minimal harus dapat mempelajari fundamental emiten ataupun analisis teknikal pergerakan harga saham.

Jouska Dihentikan Sementara

Sebelumnya, Satuan Tugas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan untuk menghentikan sementara operasional Jouska Finansial Indonesia. Keputusan tersebut diambil setelah memanggil CEO Jouska Aakar Abyasa bersama pengurus perusahaan lainnya, belum lama ini.

Ketua SWI OJK Tongam L Tobing mengungkapkan, keputusan tersebut menindaklanjuti laporan masyarakat yang merasa dirugikan. Adapun SWI OJK telah menemukan sejumlah pelanggaran terkait legalitas Jouska.

“Jouska ini harusnya mendapatkan izin usaha sesuai dengan kegiatannya, jadi tidak hanya dengan nomor induk berusaha (NIB). Harus ditindaklanjuti dengan izin-izin sesuai dengan kegiatan usahanya,” jelas Tongam dalam rapat virtual bersama Jouska.

Tongam menegaskan, kegiatan yang dilakukan Jouska dikategorikan ilegal, karena melakukan kegiatan penasihat investasi tanpa izin. Hal tersebut telah diatur dalam UU Pasar Modal bahwa penasihat investasi merupakan pihak yang memberi nasihat kepada pihak lain mengenai pembelian atau penjualan efek dengan memperoleh imbal jasa.

Dia menambahkan, kegiatan Jouska seharusnya dilandasi dengan izin agen perantara perdagangan efek dari OJK, karena melakukan kegiatan-kegiatan sebagai referal. Lalu, berdasarkan pengaduan masyarakat, diduga melakukan pengelolaan dana masyarakat. “Karena itu, rekan-rekan kami dari pengawas pasar modal akan mendalami kegiatan-kegiatan yang diduga seperti manajer investasi,” ujarnya.

Selain Jouska, SWI OJK menghentikan kegiatan PT Mahesa Strategis Indonesia dan PT Amarta Investa Indonesia yang diduga melakukan kegiatan penasihat investasi, manajer investasi, atau perusahaan sekuritas tanpa izin. SWI juga akan melakukan pemblokiran situs, web, aplikasi, dan media sosial tiga perusahaan tersebut melalui Kominfo.

Sementara itu, CEO Jouska Aakar Abyasa mengatakan, pihaknya akan menyelesaikan semua aduan nasabah dengan itikad baik. “Jouska Indonesia akan melengkapi semua peraturan perizinan sesuai perundang-undangan,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN