Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Elvyn G Masassya

Elvyn G Masassya

Elvyn G Masassya: Harus Ada Wajah Baru Perbankan Pasca Pandemi

Rabu, 12 Agustus 2020 | 09:38 WIB
Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pandemi Covid-19 telah membuat perekonomian Indonesia tertekan. Menurut mantan bankir yang juga sebagai pengamat keuangan Elvyn G Masassya, butuh adanya perubahan-perubahan radikal yang harus dilakukan khususnya oleh perbankan nasional untuk bisa ikut memulihkan perekonomian. Elvyn yang juga mantan Dirut Pelindo II ini menyebut terdapat terdapat tiga langkah yang harus dilakukan yakni melakukan konsolidasi secara afirmatif, transformasi ke digital, dan penyesuaian regulasi. Ketiga hal tersebut juga bisa menunjukan wajah baru perbankan pasca pandemi.

Berikut kutipan wawancara Investor Daily dengan Elvyn di Jakarta belum lama ini.

Menurut Anda bagaimana peran perbankan untuk ikut memulihkan perekonomian?

Peran perbankan sebagai strategic support perekonomian bahkan juga disebut sebagai jantung yang dapat memompa aktivitas ekonomi dinilai sangat penting ditengah krisis akibat pandemi Covid-19 ini. Perbankan pun tidak boleh berdiam diri jika perekonomian dalam keadaan tertekan, bahkan seharusnya perbankan harus menjadi garda terdepan untuk bisa turut serta memulihkan perekonomian.

Namun sayangnya, di Indonesia industri perbankan mengalami disparitas yang sangat tinggi antara satu bank dengan bank lain. Dengan jumlah bank mencapai 110 bank, namun mayoritas aset perbankan nasional atau sekitar 85% hanya dikuasai oleh sekitar 34 bank saja. Artinya yang sekitar 80 bank lain itu hanya menguasai 15%.

Untuk bisa turut serta memulihkan perekonomian, perbankan harus kuat. Untuk menjadi kuat, disparitas yang sangat tinggi antara bank BUKU I, BUKU II, BUKU III, BUKU IV tersebut pun harus dihilangkan.

Bagaimana caranya?

Menurut saya langkah pertama harus dilakukan yakni dengan melakukan konsolidasi perbankan secara afirmatif. Artinya tidak bisa lagi imbauan, harus dalam bentuk suatu affirmative action, atau regulasi, sehingga bank-bank di Indonesia ini tidak perlu lagi banyak-banyak, menurut saya mungkin 40-50 bank sudah cukup.

Kalau hanya ada 40-50 bank di Indonesia tentunya, modalnya lebih kuat, dananya lebih banyak dan dia bisa melakukan ekspansi untuk mendukung perekonomian. Kalau sekarang ini kan tidak, bank BUKU IV yang modalnya Rp 30 triliun itu hanya sekitar tujuh bank saja, artinya hanya sejumlah itu bank yang memiliki kapasitas untuk turut serta memulihkan ekonomi. Jadi menurut saya, langkah pertama itu adalah lakukan konsolidasi perbankan secara afirmatif.

Apa langkah selanjutnya?

Untuk langkah kedua, bank juga harus melakukan transformasi total dalam bisnis modelnya. Transformasi total yang pertama, di era pandemi ini membuat hubungan sosial antara satu manusia dengan yang lainnya terbatas, itu harus diadopsi oleh perbankan dengan bertransformasi menjadi bank digital.

Jadi tidak perlu lagi ke kantor cabang bank,tidak perlu lagi bertemu dengan customer service misalnya tetapi cukup melalui media digital, apakah itu handphone, internet, dan lain sebagainya. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh bank-bank yang punya modal kuat, punya leadership dan inovasi yang kuat, jadi bank-bank kecil tidak mungkin melakukan ini.

Dan ini juga sebagai jawaban atas kondisi saat ini dimana pertumbuhan fintech juga makin pesat. Perbankan harus mengadopsi perubahan di masyarakat dan mengonversi seluruh kegiatannya itu menjadi digital banking.

Kemudian dalam konteks bisnis modelnya pun bank tidak perlu lagi punya banyak kantor cabang, jadi bank itu cukup punya outlet digital, dan itu artinya cabancabang yang ada di daerah perlu dikurangi. Dengan cara ini kan akan terjadi efisiensi. Maka transformasi perbankan itu melalui digital akan melahirkan efisiensi.

Langkah selanjutnya, saya kira banking harus menyiapkan big data, karena perbankan itu suatu industri yang dalam pemahaman saya adalah industri yang menggunakan hukum bilangan besar, artinya semakin banyak nasabahnya semakin efisien dia. Karena cost pengelolaan per nasabah lebih kecil untuk itu dia membutuhkan big data.

Selain big data ini sejak beberapa tahun terakhir ada yang namanya VUCA (volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity), itu tentu harus dijawab bank dengan menggunakan artificial intelligence (AI), bahkan mungkin menggunakan robotic. Sehingga sebagian proses yang ada di perbankan itu harus berubah total dengan mengadopsi teknologi menggunakan digital.

Apakah cukup dengan langkah-langkah tersebut?

Itu hanya dari sisi bankingnya, memang itu tidak cukup. Dari sisi regulator juga harus segera melakukan adjustment, penyesuaian aturan-aturan di industri perbankan sehingga perbankan bisa melakukan transformasi secara radikal, saya sebut ini perubahan radikal bukan evolusi agar bisa tetap survive.

Filosofinya perbankan itu adalah strategic support untuk perekonomian, perekonomian sekarang mengalami tekanan luar biasa, ada perubahan perilaku masyarakat, ada berbagai kondisi yang tidak memungkinkan lagi aktivitasnya di berbagai sektor seperti sebelumnya, sehingga mereka harus berubah.

Perubahan itu harus diadopsi juga oleh perbankan, seperti transformasi ke digital. Diluar itu regulator-nya juga tidak bisa melakukan pola-pola yang lama, regulator pun harus segera melakukan adjustment, istilahnya harus membuat regulasi yang adaptif dengan kondisi saat ini.

Contoh regulasi apa saja yang harus diubah?

Saat ini regulasinya kan masih banking konvensional, nah sekarang harusnya ada regulasi yang mendukung digital banking. Sehingga jika ada orang yang ingin membuka rekening bisa hanya melalui telepon seluler saja. Lalu untuk mengenal identitasnya mungkin tidak lagi tanda tangan, tetapi menggunakan biometrik.

Kemudian kondisinya juga berbeda, proses layanan konvensional dengan layanan digital itu mengutamakan speed atau kecepatan kemudian dia juga harus mempunyai fitur layanan yang banyak, lalu friendly user, persyaratan-persyaratan ini seharusnya menjadi bagian dari regulasi. Itu yang saya sebut adaptif regulasi.

Ada hal lain yang harus dilakukan perbankan?

Menurut saya, perbankan dalam konteks fokusnya juga tidak bisa seperti sebelumnya yang menggarap semua lini. Kedepannya, bank lebih baik fokus kepada kekuatannya. Saya nilai bank cukup bermain di tiga area saja. Pertama bank yang menjadi digital banking. Kedua bank yang fokusnya menjadi corporate banking, karena corporate banking ini tetap harus ada face to face. Dan yang ketiga ada adalah yang terkait dengan personal banking atau wealth management.

Jadi intinya pasca pandemi ini harus ada wajah baru perbankan. Bank yang jumlahnya tidak terlalu banyak tetapi kuat, punya equity yang besar, punya jumlah nasabah yang besar, kemudian cara melayaninya digital, dan fokus pada kekuatannya. Dan itu sangat menjadi sangat masuk akal terjadi.

Kedepannya, perbankan juga harus berkolaborasi dengan fintech, perusahaan telekomunikasi, dan lain sebagainya. Artinya memang perlu radical change, perbankan tidak bisa berdiri sendiri, dia perlu berkolaborasi dengan pihak lain.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN