Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Primus Dorimulu, Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holding

Primus Dorimulu, Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holding

SERIAL “MEWUJUDKAN KEBEBASAN FINANSIAL” (1 - bersambung)

Hidup Makmur, Hidup dengan Perencanaan Keuangan yang Baik

Minggu, 4 Oktober 2020 | 17:00 WIB
Primus Dorimulu *)

Pandemi Covid-19 menyingkap kondisi warga dunia sesungguhnya. Setelah tiga-empat bulan kehilangan pekerjaan, banyak orang yang sudah kesulitan uang untuk makan, apalagi mempertahankan gaya hidup seperti saat masih memiliki pekerjaan.

Setelah enam bulan lebih menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), menjaga social distancing, dan menerapkan protokol kesehatan ketat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, banyak perusahaan yang sulit bertahan, bahkan bangkrut. Jutaan pekerja dirumahkan.

Sebagian besar perusahaan belum bisa mem-PHK-kan karyawan karena tidak cukup memiliki likuiditas untuk membayar pesangon. Merumahkan karyawan menjadi pilihan karena gaji cukup dibayarkan sebagian. Jika Covid-19 tak kunjung bisa diatasi, karyawan dirumahkan tanpa gaji.

Dana perlindungan sosial yang hanya sekitar Rp 600.000 per orang setiap bulan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Deflasi yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut, Juli-September 2020, mengonfirmasi betapa lemahnya daya beli masyarakat.

Pandemi Covid-19 bagaikan palu godam yang menghentak kesadaran kita. Apakah kita sudah memiliki sumber pendapatan di luar gaji yang mampu membiayai gaya hidup kita agar tidak turun? Ataukah kita bahkan tak punya sumber pendapatan lain untuk sekadar menutup kebutuhan hidup kita sehari-hari?

Di sinilah pentingnya financial planning atau perencanaan keuangan guna mewujudkan financial freedom atau kebebasan finansial. Saat masih bekerja, kita perlu memiliki perencanaan keuangan yang baik agar saat tak lagi mendapatkan gaji bulanan, kita tetap bisa hidup layak. Tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup, melainkan juga tetap bisa mempertahankan gaya hidup.

Perencanaan keuangan yang baik, antara lain, kebiasaan menabung, berinvestasi, dan minimal memiliki dana darurat untuk bisa bertahan hingga lebih dari setahun sebelum mendapatkan pekerjaan baru.

Mereka yang hidup dengan perencanaan keuangan yang baik berpeluang mencapai kebebasan finansial. Mereka yang sudah mencapai kebebasan finansial tak pernah khawatir memasuki masa pensiun, bahkan bila tiba-tiba kehilangan pekerjaan.

Mereka yang sudah memiliki kebebasan finansial adalah mereka yang sudah mencapai kemakmuran. Tanpa harus bekerja, mereka mendapatkan uang dari aset produktifnya atau hasil investasinya. Orang sering menyebutkan, kebebasan finansial terwujud ketika ketika uang sudah bekerja untuk kita, bukan lagi kita yang harus banting tulang untuk mendapatkan uang.

Kaya atau makmur
Syukur jika kita bisa menjadi orang tajir atau kaya. Tapi, hidup makmur tak mesti kaya raya. Yang perlu diwujudkan oleh setiap manusia normal adalah hidup makmur.

Seseorang disebut kaya jika ia memiliki kekayaan bersih di atas rata-rata. Memiliki aset besar, tapi jika utang jauh lebih besar, orang tersebut belum masuk kategori kaya. Aset bersih atau net worth adalah aset setelah dikurangi utang.

Banyak sekali orang yang sangat kaya di dunia. Mereka disebut high net worth individual (HNWI ), memiliki kekayaan bersih dan likud minimal US$ 1 juta atau sekitar Rp 14,8 miliar, bahkan ada yang tergolong ultra high net worth individual (UHNWI) dengan kekayaan bersih minimal US$ 30 juta atau setara US$ 440 miliar.

Hasil survei The World Wealth Report tahun 2018 menunjukkan, jumlah HNWI di dunia mencapai 17 juta dari 7,5 miliar penghuni bumi. Total kekayaan mereka 46,2 triliun triliun atau Rp 683.760 triliun. Sedang mereka yang masuk kategori UHNWI pada tahun 2017 sekitar 226.450 orang dengan total kekayaan US$ 27 triliun atau setara Rp 399.600 triliun.

Mereka yang hidup makmur adalah mereka yang sudah mencapai "kebebasan finansial". Pada fase ini, mereka tidak perlu bekerja keras lagi. Bekerja secukupnya saja untuk menjaga keseimbangan hidup. Karena tanpa bekerja pun, mereka bisa hidup dari aset produktif atau hasil investasinya hingga akhir hayat.

Mereka yang mencapai kemakmuran mampu hidup beberapa dekade, bahkan hingga akhir hayat tanpa harus bekerja. " Orang kaya belum tentu makmur," kata Budi Frensidy, guru besar keuangan dan pasar modal Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI) pada Literasi Keuangan Goes to Campus yang diadakan Beritasatu dan FE UI, Selasa (15/9/2020).

Orang kaya belum tentu makmur kalau hidupnya besar pasak daripada tiang. Pengeluaran lebih besar dibanding penghasilan. Boleh saja seseorang punya pendapatan pasif Rp 100 juta per bulan. Tapi, jika pengeluaran Rp 110 juta karena gaya hidup tinggi, ia harus hidup dengan menjual aset. Lama-lama aset akan habis tergerus.

"Yang mesti kita raih dalam hidup adalah kebebasan finansial," tambah Budi Frensidy. Mencapai kebebasan finansial itulah kemakmuran. Di sinilah pentingnya orang memiliki financial literacy atau melek finansial.

Tentu saja, untuk hidup makmur, orang harus memiliki kekayaan, bahkan kekayaan bersih. Tapi, kekayaan bersih yang besar saja tidak cukup bila gaya hidup tidak dikendalikan.

Belajarlah hidup dengan biaya di bawah kekayaan bersih Anda. Jika gaya hidup tidak dikendalikan, berapa pun kekayaan yang dimiliki, cepat atau lama, akan terkikis-habis.

Gaya hidup boros umumnya didorong oleh keinginan, bukan kebutuhan. Orang membeli, bahkan memaksakan diri membeli, sesuatu yang diinginkan, bukan sesuatu yang dibutuhkan.

Dalam hidup sehari-hari, kita kerap melihat orang yang berpendapatan besar, tapi terbelit utang. Karena gaya hidup mahal, jauh melebihi pendapatan. Sebaliknya, ada orang yang pendapatannya tidak beberapa besar, tapi mampu hidup di bawah pendapatan. Dengan gaya hidup seperti itu, mereka bisa menabung, investasi, membeli produk asuransi, dan mengakumulasi kekayaan.

Perencanaan keuangan
Perencanaan keuangan merupakan salah satu perencanaan masa depan terpenting. Sejak masa sekolah, perencanaan keuangan sudah mulai dibuat. Ketika mulai bekerja dan memperoleh pendapatan tetap, seseorang harus lebih serius merencanakan keuangannya.

Tanpa jasa perencana keuangan profesional pun, setiap orang harus bisa merencanakan keuangannya . Merencanakan keuangan bukan sesuatu yang sulit di era digital. Banyak literatur yang bisa dipelajari.

Pertama, setiap orang perlu mengetahui kebutuhan dan siklus hidup serta risiko yang dihadapi setiap manusia. Manusia membutuhkan pangan, sandang, papan, perawatan kesehatan, pendidikan, alat komunikasi, alat transportasi, liburan, dan rekreasi. Manusia normal akan berkeluarga, memiliki anak, membiayai hidup dan pendidikan anak.

Dalam pada itu, setiap manusia menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian, yakni sakit, tua, cacat, dan meninggal. Kita tidak tahu kapan kita sakit dan penyakit apa yang bakal menyergap. Menjadi tua adalah kepastian. Tapi, apakah kita bakal cepat tua dan loyo atau cukup lama menjadi tua, adalah ketidakpastian.

Dalam hidup, kecelakaan bisa datang kapan saja. Karena itu, risiko catat akibat kecelakaan harus diantisipasi dengan cermat. Bila kita tidak bisa bekerja lagi karena cacat, apakah kita sudah memiliki pendapatan pasif.

Ketika kita meninggal, bagaimana nasib keluarga yang ditinggalkan? Apakah orang-orang tersayang yang ditinggalkan bisa hidup makmur?

Di sinilah pentingnya merencanakan keuangan dengan cermat untuk mencapai financial freedom. "If you fail to plan, you are planning to fail," kata Benjamin Franklin, ahli keuangan yang banyak dikutip para perencana keuangan.

Dalam merencanakan keuangan, pertama-tama, kita perlu mengetahui kondisi keuangan kita. Kedua, menentukan tujuan perencanaan keuangan. Untuk apa saja uang digunakan kelak.

Ketiga, mencari sumber pendapatan lain selain pekerjaan pokok. Ini khusus bagi mereka yang tidak memperoleh pendapatan cukup di pekerjaan pokoknya.

Keempat, mulai menabung. Menabung bukan uang sisa belanja, tapi dana yang memang sengaja disisihkan. Jika menunggu sisa, tak akan pernah ada uang sisa belanja.

Kelima, melunasi utang. Utang di bank tidak boleh dibiarkan menumpuk. Apalagi utang di bank mengenakan bunga majemuk. Banyak orang terbelit utang dan jatuh miskin. Rumah disita bank.

Keenam, investasi. Sangat bagus jika kita memiliki usaha sendiri. Misalnya usaha restoran, kafe, atau homestay. Tapi, investasi langsung seperti ini cukup merepotkan. Kita harus memiliki modal cukup, mengurus berbagai perizinan, membayar gaji karyawan, dan membiayai overhead.

Yang praktis adalah investasi portofolio. Dengan dana Rp 100.000, kita bisa mulai investasi. Ada banyak jenis investasi portofolio. Anda bisa menanamkan uang Anda di reksadana, saham, obligasi, emas, dan properti.

Investasi portofolio tidak merepotkan kita dengan urusan ekspansi usaha, mencari capital expenditure, membayar gaji dan THR, membiayai overhead, dan lainnya. Kita cukup mencermati pergerakan harga instrumen investasi dan melakukan shifting pada waktunya.

Setiap tahun kita mendapatkan dividen dan setelah lima tahun, kita memperoleh capital gain yang signifikan. Makin lama, makin baik.

Ketujuh, berasuransi. Asuransi diremehkan pada saat kita masih bekerja dengan gaji bagus dan tidak mengalami sakit serius. Namun, pada saat pensiun dan penyakit serius datang menghampiri, orang baru menyadari pentingnya asuransi kesehatan.

Asuransi penting karena ketidakpastian masa depan. Hidup dalam ketidakpastian adalah hidup yang berisiko. Untuk menghadapi risiko ketidakpastian itu, asuransi menjadi jawaban. Dengan menjadi pemegang polis asuransi jiwa dan membayar premi setiap tahun, kita mengalihkan risiko kepada perusahaan asuransi.

Pemegang polis asuransi jiwa yang meninggal dunia memberikan berkat bagi keluarga yang ditinggalkan. Mereka mendapatkan dana klaim asuransi dari almarhum atau almarhuma. Dana asuransi jiwa bisa membantu hidup keluarga yang ditinggalkan.

Kedelapan, menyisihkan dana untuk pensiunan. Membayar iuran rutin kepada Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) adalah kebiasaan yang bagus.

Kesembilan, menyiapkan dana darurat. Banyak hal tak terduga yang terjadi dalam hidup kita. Tiba-tiba ada yang sakit, celaka, baik diri sendiri, keluarga inti, maupun keluarga besar.

Dana darurat dapat disimpan di tabungan atau pun di instrumen investasi yang likuid seperti saham dan reksa dana.

Kesepuluh, dana sosial. Jika ada tetangga atau sahabat yang terkena musibah, kita perlu memberikan uluran tangan.

Kesebelas, jika aset Anda membesar, pajak harus menjadi perhatian. Petugas pajak kian canggih memburu setiap wajib pajak.

Our goals can only be reached through a vehicle of a plan, in which we must fervently believe, and upon which we must vigorously act. There is no other route to success," kata Pablo Picasso, seniman sepanjang masa. Mulailah merencanakan keuangan Anda dengan baik.

Hidup dengan perencanaan keuangan yang baik adalah jalan menuju kemakmuran. "If you fail to plan, you are planning to fail!" ujar Benyamin Franklin.

*) Direktur Pemberitaan BSMH

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN