×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Investasi untuk Pendidikan Anak dan Pensiun

(gor/ant), Minggu, 2 September 2018 | 21:03 WIB

Pendidikan anak menjadi sangat penting bagi Budi Santosa. Head of corporate planning and product strategy division PT BNI Life Insurance ini banyak mengalokasikan dana dari penghasilan untuk masa depan anak-anaknya. Selain itu, dia mengalokasikan investasi untuk persiapan pensiun pada hari tua nanti.

Budi mengakui secara rutin mengalokasikan sebagian dari pendapatannya untuk tabungan pendidikan anak. Ayah dari dua orang anak ini menyiapkan tiga tabungan untuk tiap anak, sehingga dua orang anaknya memiliki enam tabungan pendidikan yang disiapkan hingga duduk di bangku kuliah.

Di samping tabungan pendidikan, pria yang hobi olahraga bulu tangkis ini juga sudah menyiapkan logam mulia dengan jumlah signifikan sebagai investasi jangka panjang bagi kedua anaknya.

"Logam mulia termasuk saya siapkan untuk anak saya dan untuk persiapan pensiun. Untuk tabungan pendidikan anak, satu anak ada tiga tabungan, jadi totalnya ada enam tabungan pendidikan untuk dua anak saya. Jadi untuk masuk SMP, SMA dan kuliah, saya pasang tabungan pendidikan 18 tahun," kata Budi kepada Investor Daily, di Jakarta, Jumat (31/8).

Budi menambahkan, selain tabungan pendidikan anak dan logam mulia, dia menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditempatkan pada fixed asset, seperti properti sebagai instrumen yang tidak berisiko. Kemudian, untuk investasi yang memiliki risiko cukup tinggi, instrumen saham juga dipilihnya sebagai diversifikasi investasi.

Dia juga masih optimistis kondisi perekonomian Indonesia akan pulih kembali, meskipun dia menyadari adanya gejolak global dan gonjang-ganjing nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Saya masih optimistis, pemerintah pasti punya cara, gejolak memang tidak bisa dihindari, tapi pertumbuhan ekonomi masih bagus, inflasi juga masih di bawah 5%. Saham memang sedang gejolak, saya pernah dapat pertumbuhan 80%, tapi setelah itu turun lagi, memang begitu, pokoknya saya yakin saja," tutur Budi.

Bagi pria yang menghabiskan waktu bulutangkis tiga kali dalam seminggu ini, strategi perencanaan keuangannya adalah faktor likuid atau tidak likuid menjadi penting. Meskipun ada instrumen investasi yang memberikan return tinggi seperti properti, dia tidak memiliki banyak porsi investasi pada instrumen tersebut, karena menurut dia properti kurang likuid.

"Faktor likuid dan tidak ini penting, maka strategi pertama adalah kebutuhan anak saya," kata dia.

Budi juga memiliki instrumen investasi pada obligasi negara ritel (ORI) yang dinilai cukup aman. Ke depan, dia juga mengincar membeli surat berharga negara (SBN) untuk menambah portofolio investasinya. (nid)

 

BAGIKAN