Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Bahana TCW Investment Management Edward P Lubis. Foto: amii.or.id

Direktur Utama Bahana TCW Investment Management Edward P Lubis. Foto: amii.or.id

Reksa Dana 'Fixed Income' Masih Manis di 2020

Fajar Widhiyanto, Sabtu, 28 Desember 2019 | 14:33 WIB

Tren penurunan suku bunga acuan yang ditopang oleh terkendalinya tingkat inflasi di dalam negeri, akan sangat menguntungkan pasar obligasi. Membaiknya pasar obligasi di Tanah air diperkirakan masih akan berlanjut hingga tahun 2020.

Edward Parlindungan Lubis, Presdir Bahana TCW Investment Management mengemukakan, membaiknya pasar obligasi, termasuk produk turunannya berupa reksa dana fixed income, seperti mengimbangi minimnya performa pasar saham, dan reksa dana saham.

“Kalau tahun 2019 ini memang tahun yang gemilang untuk obligasi, bagus sekali. Rata-rata return obligasi khususnya yang jangka panjang return-nya bisa sampai 12%-13%. Dari kupon mereka bisa mendapatkan 6% sampai 7%, dan sisanya capital gain,” kata Edward dalam satu kesempatan di pertengahan Desember 2019 lalu kepada Majalah Investor (12/12/2019).

Tentunya penurunan tingkat suku bunga acuan yang membuat performa obligasi jadi lebih mentereng. Namun dikatakan Edward, penurunan suku bunga bisa menjadi cerminan bahwa telah terjadi perlambatan ekonomi, sehingga risiko peningkatan inflasi pun dengan sendirinya bisa lebih rendah. “Jadi inflasi kita itu rendah akibatnya bunga Jadi inflasi kita itu rendah akibatnya bunganya menyesuaikan, dari Bank Indonesia menyesuaikan,” ujarnya. “Biasanya kalau ekonomi melambat, obligasi jadi menarik,” imbuhnya.

Edward memprediksi produk investasi berbasis surat utang termasuk reksa dana obligasi setidaknya masih akan menarik hingga semester I tahun 2020. Salah satu alasannya, perlambatan ekonomi diduga masih akan berlanjut hingga tahun depan, dan kondisi ini masih diperparah oleh ketidakjelasan dialog antara Tiongkok dan Amerika Serikat terkait perang dagang. Kendati telah ada kesepakatan fase awal untuk menangguhkan penerapan bea masuk produk Tiongkok ke AS, namun banyak pihak masih meragukan kelanjutan dialog tersebut.

"Belum lagi sekarang Brexit juga tidak jelas. Itu yang paling berat.  Jadi begitu diumumkan Inggris akan keluar dari Uni Eropa, perusahaan-perusahaan sudah pada kabur dari Inggris," papar Edward. Ketidakjelasan Brexit, ujarnya, dipastikan ikut menyumbang perlambatan ekonomi dunia. Dan perlambatan ekonomi tentunya bisa diasosiasikan dengan periode suku bunga acuan yang rendah, yang pada ujungnya menguntungkan bagi produk investasi berbasis surat utang,

Namun demikian, investor tetap disarankan untuk membagi alokasikan dananya di produk investasi lain atau reksa dana lainnya. Produk reksa dana lainnya yang diproyeksikan masih akan menarik adalah pasar uang.

Dikatakannya, banyak investor ritel yang tengah menunggu membaiknya pasar saham, memilih memarkir dana investasinya d reksa dana pasar uang. Dengan yield sekitar 5%-6%, setidaknya reksa dana pasar uang masih memberikan tingkat return yang memadai, ketimbang berspekulasi di pasar saham.

Edward juga memprediksi, industri reksa dana di tahun 2020 akan banyak ditopang oleh produk reksa dana fixed income dan pasar uang. Reksa dana proteksi juga diperkirakan makin diminati oleh investor, walaupun produk reksa dana terproteksi ini akan mulai dikenai kenaikan pajak atas bunga menjadi 10% pada tahun 2021. Saat ini pajak atas bunga reksa dana terproteksi masih sebesar 5%.

“Reksadana fixed income dan proteksi masih cukup convenient buat pasar, karena bisa dibeli dalam skala yang kecil. Daripada dia harus beli Bond langsung, dia harus kumpulkan dana lebih banyak,” kata Edward.

Mengomentari sejumlah kasus gagal bayar manajer investasi beberapa bulan lalu, yang diikuti oleh aksi redemption yang cukup besar di sejumlah manajer investasi berskala menengah, Edward mengaku dalam jangka pendek hal ini bisa memengaruhi appetite investor untuk masuk ke pasar reksa dana. Namun bukan kebetulan juga bahwa kinerja pasar saham di tahun 2019 juga kurang memadai karena tingkat return yang ditawarkan justru negatif.

Sejumlah manajer investasi yang mengalami redemption cukup besar, diduga kuat adalah MI yang pada saat penawarannya memberikan jaminan Return. Kemudian mereka juga menempatkan alokasi investasinya pada saham-saham yang pergerakannya kinerjanya bisa dikatakan anomali, atau tidak terkorelasi dengan pasar. “Secara historical mungkin NAV-nya tidak terpengaruh oleh pasar. Tiba-tiba sekarang saham-saham yang menjadi andalan mereka itu turun terus, NAV-nya jadi buruk. Dan mungkin selama ini investornya juga tidak sadar,” kata Edward.

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN