Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Parto Kawito, Infovesta Utama dalam Diskusi Best Mutual Fund Award Majalah Investor 2020 di Beritasatu TV, Kamis (18/6/2020). Sumber: BSTV

Parto Kawito, Infovesta Utama dalam Diskusi Best Mutual Fund Award Majalah Investor 2020 di Beritasatu TV, Kamis (18/6/2020). Sumber: BSTV

Sebelum “Redemption”, Rugi di Reksa Dana Baru Sebatas Potensi

Jumat, 3 Juli 2020 | 21:10 WIB
Fajar Widhiyanto

JAKARTA. Pandemi COVID-19 yang terjadi sejak Maret lalu membuat banyak investor reksa dana mengalami potensi kerugian investasi. Hal ini terutama terjadi pada produk reksa dana saham atau yang underlying asset investasinya berupa saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Direktur Infovesta Utama, Parto Kawito mengatakan, potensi kerugian tidak hanya terjadi di reksa dana berbasis saham, jenis reksa dana lain seperti reksa dana pendapatan tetap juga mengalami fase naik-turun seiring pergerakan harga obligasi yang menjadi underlying-nya.

Meski demikian, selama investor tidak mencairkan atau melakukan redemption atas reksa dananya maka masih disebut sebatas sebagai potensi rugi. “Kerugian baru terjadi ketika investor melakukan redemption atas reksa dana yang dimilikinya,” ujar Parto dalam pernyataan yang diterima redaksi, Jumat (3/7).

Naik turunnya investasi di reksa dana, lanjut Parto, sejatinya adalah hal biasa. Indonesia sempat mengalami beberapa kali masa krisis dan terbukti bisa melewatinya dengan baik. Seperti di tahun 1998 lalu kemudian di tahun 2008 akibat krisis keuangan di Amerika yaitu subprime mortgage facility, industri reksa dana di Indonesia juga terkena dampaknya. "Kembali ke sejarah, tahun 1998 saham turun, 2008 turun, ternyata kemudian saham dan reksa dana berbalik dan kembali naik lagi," kata Parto.

Justru di setiap krisis sesungguhnya memberikan peluang investasi karena nilai unit investasi menjadi terdiskon, imbuh Parto. Dan momen ini menjadi kesempatan buat investor untuk melakukan top up. Strategi average down ini membuat harga pembelian rata-rata menjadi turun. Sehingga ketika kondisi pasar mulai membaik, posisi untung lebih mudah dicapai dibanding tanpa melakukan average down.

"Justru kalau ada uang sekarang waktunya top up, jadi harga rata-ratanya semakin baik. Ini saatnya membalikkan kerugian," saran Parto.

Terlebih industri reksa dana termasuk salah satu sektor yang sangat teregulasi. Contohnya ketika investor mulai memasukan dananya, setiap manajer investasi akan menjalankan kebijakan know your customer (KYC). Ini dilakukan untuk mengetahui asal usul dana investasi.

Sehingga setiap dana investasi yang masuk ke reksa dana dengan nilai tertentu, sekitar Rp 100 juta, dapat diketahui sumber dananya. Kebijakan ketat yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan ini juga untuk mencegah adanya tindak pidana pencucian uang di industri reksa dana.

Untuk memastikan tidak terjadi penyimpangan dalam pengelolaan dana investor, sesuai ketentuan OJK, dana investor disimpan di rekening terpisah di bank kustodian. Sementara sebagai jasa pengelolaan investasi, maka Manajer Investasi mendapatkan fee yang besarnya sudah ditetapkan di awal. Besarnya beragam mulai 1% hingga 2% per tahun dari nilai investasi investor.

Berinvestasi di reksa dana pun dapat diatur sesuai tujuan investasi, profil risiko, jangka waktu dan nilai investasi dari pemilik dana. Dengan memahami empat hal tersebut investor diharapkan bisa mencapai target investasinya secara optimal.

Parto mengamini bahwa setiap produk investasi seperti halnya reksa dana pasti memiliki risiko, termasuk mengalami kerugian investasi. Tetapi dengan strategi yang tepat dan memahami produknya, risiko investasi itu bisa dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, Parto menyarankan, dalam situasi krisis akibat Pandemi COVID-19 seperti saat ini sebaiknya investor tidak panik atau melakukan redemption reksa dananya. Sebab, selama unit penyertaan masih ada di rekening investor, penurunan aset reksa dana yang terjadi baru berupa potensi kerugian.

Potensi kerugian investasi tidak hanya dialami oleh investor perorangan. Investor pemilik dana besar seperti PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang banyak menempatkan dananya di produk reksa dana juga mengalami hal serupa. Bahkan, potensi kerugian investasi Jiwasraya tersebut kini menjadi perdebatan di meja hijau.

Tak hanya pejabat Jiwasraya, perusahaan penerbit reksa dana atau Manajer Investasi (MI) juga turut ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung. Tak tanggung-tanggung, ada 13 perusahaan MI yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi korporasi.

Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Hari Setiyono, berdasarkan perhitungan Badan Keuangan Negara (BPK) nilai kerugian negara yang ditimbulkan oleh 13 MI tersebut mencapai Rp 12,15 triliun. "13 korporasi telah merugikan negara Rp12,15 triliun, ini merupakan perhitungan keuangan negara," kata Hari.

Sampai saat ini dana investasi Jiwasraya di 13 MI tersebut masih terjaga. Unit penyertaannya dipegang atas nama Jiwasraya dan tidak dilakukan penarikan atau redemption. Namun, akibat nilai underlying investasinya turun, total investasi Jiwasraya di reksa dana, yang rata-rata berbasis saham itu, juga ikut terpangkas, sehingga menimbulkan potensi kerugian. Tapi seperti halnya reksa dana lain, potensi kerugian Jiwasraya tersebut terbuka untuk mengalami rebound.

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN