Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo saat menunggu Kanselir Jerman Olaf Scholz, ketika keduanya bertemua di sela KTT G7 di Castle Elmau dekat Garmisch-Partenkirchen, Jerman pada 27 Juni 2022. (FOTO: Markus Schreiber/Pool via REUTERS)

Presiden Joko Widodo saat menunggu Kanselir Jerman Olaf Scholz, ketika keduanya bertemua di sela KTT G7 di Castle Elmau dekat Garmisch-Partenkirchen, Jerman pada 27 Juni 2022. (FOTO: Markus Schreiber/Pool via REUTERS)

Presiden Jokowi Bawa Misi Damai di Ukraina dan Rusia

Rabu, 29 Juni 2022 | 19:12 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Mulai hari ini, Rabu (29/6), sampai Kamis (30/6) Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Ukraina dan Rusia dalam misi damai. Presiden mengajak kedua negara untuk mengakhiri perang di antara kedua negara yang akan memasuki bulan kelima.

Ini adalah lawatan simultan Presiden Jokowi setelah mengunjungi Jerman dalam rangka menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) kelompok tujuh negara industri maju atau G7.

Advertisement

Sebelum bertolak ke Jerman pada Minggu (26/6), Jokowi menyatakan kehadirannya dalam KTT G7 adalah karena Indonesia negara mitra untuk G7 dan kapasitas Indonesia sebagai Ketua G20 tahun ini.

Tujuh pemimpin negara-negara G7 sudah mengakhiri pertemuan tiga hari. KTT tersebut menghasilkan komunike yang salah satunya adalah tekad membuat Rusia menanggung dampak ekonomi dan politik akibat aksinya di Ukraina.

Baca juga: Kunjungi Puing Apartemen di Irpin Ukraina, Jokowi Sedih dan Bilang Begini...

Dibacakan oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz, komunike G7 menegaskan blok ini bersatu tak bisa diceraikan. “(G7) akan terus mendukung Ukraina dengan memberikan dukungan keuangan, kemanusiaan, militer, dan diplomatik yang dibutuhkan dalam upaya berani negara ini dalam mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya,” katanya, Selasa (28/6).

KTT G7 biasanya membahas krisis iklim, ketahanan pangan, utang, dan pandemi, namun kali ini semua itu tak lagi menjadi prioritas.

Meski begitu, dalam komunike setebal 28 halaman, G7 memasang target netralitas iklim sampai 2050 dan komitmen bantuan US$ 4,5 miliar untuk Program Pangan Dunia (WFP) demi ketahanan pangan global.

Sebagian besar yang disampaikan G7 adalah juga subjek-subjek yang menjadi keprihatinan Indonesia. Khususnya perang di Ukraina yang disebut Rusia “operasi militer khusus”, walau faktanya adalah operasi ekstra teritorial yang lebih tepat disebut agresi.

“Saya akan mengunjungi Ukraina dan akan bertemu dengan Presiden (Ukraina Volodymyr) Zelensky,” kata Jokowi sebelum bertolak ke Jerman.

Misi Jokowi di Ukraina adalah mengajak Zelensky guna membuka ruang dialog. “Dalam rangka perdamaian, untuk membangun perdamaian, karena perang memang harus dihentikan dan juga berkaitan dengan rantai pasokan pangan (yang harus dipulihkan),” tambahnya.

Baca juga: Paspampres Bersenjata Laras Panjang Kawal Ketat Jokowi dan Iriana di Ukraina

Sehari setelah pertemuan dengan Zelensky, Jokowi akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan membawa misi serupa.

“Saya akan mengajak Presiden Putin untuk membuka ruang dialog dan sesegera mungkin melakukan gencatan senjata dan menghentikan perang,” tandas Jokowi.

Presiden juga menegaskan bahwa lawatannya tak hanya penting bagi Indonesia, namun lebih penting lagi bagi negara-negara berkembang yang di ambang masuk jurang kemiskinan dan kelaparan.

Tak seperti pemimpin-pemimpin dunia lainnya yang sudah berusaha menjembatani Rusia-Ukraina, Jokowi datang ke Kiev (ibu kota Ukraina) dan Moskow (ibu kota Rusia) tidak untuk menaikkan popularitas di dalam negeri demi kepentingan elektoral. Adapun presiden sudah di tengah periode terakhir masa jabatannya.

Ini nilai plus Jokowi dan terus terlihat karena membawa pesan dari negara-negara berkembang yang tak kalah menderitanya dari Ukraina, karena harus menanggung dampak buruk perang yang membuat mereka tak mampu membeli pangan dan bahan bakar.

Indonesia tak kebal dari dampak perang di Ukraina yang salah satunya terlihat dari inflasi yang merangkak naik mengikuti tren dunia, walau tak seburuk rata-rata global. Dalam konteks ini, Presiden Jokowi berusaha meyakinkan pemimpin Ukraina dan Rusia agar mengakhiri perang dan kembali ke meja perundingan.

Tak Bahas Isu Sensitif

Jokowi kemungkinan besar tak akan memasuki isu-isu sensitif, di luar fakta bahwa perang itu telah merusak ekspektasi manusia sejagat untuk bangkit setelah hampir dua tahun dilumpuhkan oleh pandemi Covid-19.

Jokowi dan Indonesia juga tidak memiliki kepentingan geopolitik dan ekonomi khusus di sana, selain ingin memastikan perang berhenti agar ekonomi dunia pasca pandemi berdenyut kembali. Serta menyelamatkan mereka yang paling rentan, khususnya di negara-negara berkembang dan negara miskin.

Seharusnya dengan baju netral seperti ini, Jokowi bisa didengarkan oleh kedua belah pihak.

Memang tak akan mudah meyakinkan negara yang kedaulatannya dicaplok negara lain, yang sama tak mudahnya meyakinkan negara besar yang tengah diisolasi dunia namun ternyata terus bertahan walau dijatuhi berbagai macam sanksi.

Baca juga: Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Tiba di Kyiv

Sebaliknya, ada tantangan bagi Presiden Jokowi untuk menghindarkan kesan bahwa kehadirannya di Moskow bisa melegitimasi aksi Putin di Ukraina.

Sebelum lawatan Jokowi, sejumlah pemimpin dunia mulai dari Eropa, Turki, sampai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres sudah mengupayakan perdamaian di Ukraina, tetapi gagal.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN