Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dua juru bicara Panitia Munas Partai Golkar Christina Aryani (tiga kiri), dan Sebastian Salang (dua kanan), bersama pengamat politik Ray Rangkuti (kanan), dan Hanta Yudha (dua kiri), juga Wartawan Senior Primus Dorimulu (tiga kanan), berfoto bersama usai menjadi nara sumber dalam Diskusi menjelang Munas Partai Golkar, dengan tema Harapan, Tantangan Partai Golkar Pada Munas 2019 di Jakarta, Sabtu (30/11/2019). Foto: SP/Joanito De Saojoao

Dua juru bicara Panitia Munas Partai Golkar Christina Aryani (tiga kiri), dan Sebastian Salang (dua kanan), bersama pengamat politik Ray Rangkuti (kanan), dan Hanta Yudha (dua kiri), juga Wartawan Senior Primus Dorimulu (tiga kanan), berfoto bersama usai menjadi nara sumber dalam Diskusi menjelang Munas Partai Golkar, dengan tema Harapan, Tantangan Partai Golkar Pada Munas 2019 di Jakarta, Sabtu (30/11/2019). Foto: SP/Joanito De Saojoao

Golkar Harus Rebut Pemilih Perempuan dan Milenial

Imam Suhartadi, Senin, 2 Desember 2019 | 17:36 WIB

JAKARTA, investor.id – Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yudha mengemukakan tantangan Partai Golkar lima tahun ke depan adalah membalikkan perolehan suara pada Pemilu 2024. Alasannya, sejak reformasi, perolehan suara Partai Golkar terus turun dari pemilu ke pemilu.

Tren sejak Pemilu 1999, suara selalu turun. Belum pernah naik sejak reformasi. Ini tantangan pertama,” kata Hanta dalam diskusi bertema “Munas X Partai Golkar: Harapan dan Tantangan Partai Golkar pada Munas 2019 yang digelar, Sabtu (30/11).

Pembicara lain dalam diskusi adalah juru bicara Partai Golkar, Sebastian Salang dan Christina Aryani, pengamat politik Ray Rangkuti, dan Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH), Primus Dorimulu.

Untuk meningkatkan perolehan suara, Golkar harus mampu membuat ceruk-ceruk baru. Golkar tidak boleh lagi mengandalkan pemilih loyal dan tua. Golkar memang partai tua, tetapi sasaran pemilihnya tidak boleh terbatas pada kaum tua.

“Golkar harus rebut pemilih perempuan dan milenial. Pemilih milenial sangat besar. Ini tantangan kedua,” ujar Hanta.

Tantangan ketiga adalah terkait posisinya sebagai pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jika Jokowi gagal atau mendapatkan ketidakpuasan yang besar dari masyarakat dalam lima tahun akan berpengaruh pada par tai pendukungnya, termasuk Golkar.

“Ini bergantung bagaimana mengelola kepercayaan lima tahun mendatang agar tetap dipercaya publik. Golkar harus sadar itu,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Hanta juga menyampaikan tiga tantangan yang bakal dihadapi setelah Munas Partai Golkar. Pertama, ketua umum terpilih harus mampu mengonsolidasi dan membangun kaderisasi. Dia percaya elite Golkar pintar dan piawai merangkul semua faksi yang ada.

Kedua, setelah munas harus bisa dicegah munculnya partai baru, dan ketiga, kepemimpinan Golkar harus kuat, baik ke dalam maupun keluar. Kuat ke dalam berarti mampu menjalankan dan menguatkan organisasi, sementara keluar harus memiliki elektabilitas dan popularitas yang tinggi.

Dalam munas yang akan digelar 3-6 Desember 2019, Hanta mengusulkan kepada panitia untuk menggelar debat calon ketua umum. Tujuannya agar public bisa mengenal figur calon ketua umum, sekaligus mengetahui visi dan misinya.

“Munas harus menunjukkan tradisi baru yang otonom, mandiri, dan lepas dari pengaruh eksternal. Pemilihan secara aklamasi bisa saja dilakukan, tetapi prosesnya harus terbuka, serta tanpa tekanan dan manipulasi,” katanya.

Pertahankan Pilkada Langsung

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu meminta Partai Golkar (PG) menolak wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) kembali oleh DPRD. Partai Golkar harus berada di barisan depan untuk menolak wacana tersebut dan mempertahankan pilkada langsung.

“Golkar jangan ikut-ikutan (pilkada, Red) kembali ke DPRD. Golkar harus menunjukkan sikapnya,” kata Primus.

Primus menjelaskan, sudah banyak kepala daerah yang bagus hasil pilkada langsung. Presiden Jokowi adalah produk pilkada langsung. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga produk pemilu langsung. Tokoh-tokoh lain hasil pilkada langsung, antara lain Ganjar Pranowo, Trir Rismaharini, Ridwan Kamil, serta Abdullah Azwar Anas.

“Masalah pilkada langsung merupakan perhatian serius pers. Kita bisa mendapatkan pemimpin seperti Pak Jokowi, Risma, dan banyak lagi. Mereka lahir dari pilkada langsung,” ujar Primus.

Menurutnya, pilkada yang dikembalikan ke DPRD akan menimbulkan masalah dan bukan tidak mungkin terjadi penyuapan besar-besaran kepada anggota DPRD.

“Kalau mau kembali ke DPRD, itu korupsi juga, membayar juga. Sebaiknya, Golkar menolak pilkada kembali ke DPRD” ujarnya.

Dia juga meminta Golkar mendeklarasikan ke public bahwa pihaknya tidak menerima uang atau mahar dari para calon yang ingin maju dalam pilkada. Golkar harus berani meniru Nasdem yang tegas menolak mahar dalam pilkada.

“Jangan hanya Nasdem yang katakan tanpa mahar. Golkar juga harus umumkan. Calegcaleg juga nanti harus tanpa mahar. Parpol adalah kawah candradimuka. Kalau papol benar, tidak korupsi, bangsa ini akan maju,” tutup Primus. (b1/sp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA