Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif Re-Ide Indonesia

Direktur Eksekutif Re-Ide Indonesia

Re-Ide Indonesia Ajak Kampus Aktif Tangkal Benih Radikalisme

Rabu, 3 Juli 2019 | 15:01 WIB

JAKARTA - Belum lama ini Setara Institute meneliti tipe-tipe cara mahasiswa beragama. Ada mahasiswa dari 10 kampus negeri yang diteliti. Survei bertajuk 'Tipologi Beragama Mahasiswa di 10 Perguruan Tinggi Negeri' itu, dalam salah satu temuannya adalah bahwa terdapat 10 perguruan tinggi terpapar fundamentalisme agama.

Menyikapi temuan tersebut, Direktur Eksekutif Re-Ide Indonesia Agus Surono berpendapat, meskipun fundamentalisme dalam penelitian tersebut tidak selalu bermakna negatif, tetapi temuan tersebut jelas cukup berarti sebagai panduan untuk membaca peta dan kecenderungan model keberagaaman kaum terpelajar (mahasiswa) saat ini dan Indonesia masa depan.

“Dalam tataran praktis, temuan riset tersebut menjadi modal berharga bagi para pemangku kepentingan bidang pendidikan, khususnya kementerian terkait untuk membuat kebijakan yang mendorong pada model pemahaman Islam yang moderat,” kata Agus di Jakarta, Selasa (2/7) malam.

Menurut Agus, respons yang cepat dan tepat paling tidak akan melokalisasi potensi pemahaman fundamentalisme agama untuk bertransformasi pada pemahaman, sikap dan praktik yang menjurus pada radikalisme agama. Di lain sisi, institusi kampus sebagai ‘ibu’ para mahasiswa seyogianya memberikan perhatian yang lebih atas hasil temuan tersebut.

“Kampus secara moral memiliki kewajiban untuk menutup celah fundamentalisme yang mengarah pada tindakan-tindakan intoleransi yang bersemai di kampus,” ujar dia.

Agus menambahkan, kampus dituntut menjaga marwahnya sebagai lembaga akademis, kritis dan membuka ruang-ruang diskursus yang mengutamakan dialog dan bukan monolog. Agus juga menyoroti peran organisasi-organisasi mahasiswa yang berpayungkan pada nilai-nilai agama yang moderat, seperti HMI, PMII dan IMM untuk melakukan revitalisasi atas peran, proses dan praktik-praktik pengkaderannya.

“Menurunnya kualitas dan kuantitas organisasi mahasiswa Islam yang moderat di beberapa lembaga tinggi tersebut sedikit banyak menyumbang berkembang  dan menguatnya fundamentalisme di kalangan mahasiswa,” terangnya.

Oleh karena itu, inisiasi dan aktivasi kelompok diskusi organisasi mahasiswa Islam moderat akan membantu pencerahan pada pemahamaman yang inklusif dan menepis fundamentalisme. (ts)

BAGIKAN