Menu
Sign in
@ Contact
Search

Pasar OTA Dongkrak Okupansi Hotel

Jumat, 20 Maret 2015 | 15:05 WIB
ah (redaksi@investor.id)

JAKARTA – Pasar online travel agent (OTA) mampu mendongkrak tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel hingga 40%. Segmen ini mengubah orientasi pasar hotel, yang sebelumnya mengandalkan pasar vertikal, kini beralih ke pasar horizontal.

 

Pengamat dan praktisi perhotelan Dicky Sumarsono mengatakan, saat ini terjadi perubahan segmentasi pasar hotel, dari vertikal ke horizontal. Contoh pasar vertikal adalah kunjungan dari instansi pemerintahan. Sedangkan pasar horizontal adalah pasar – pasar di luar pemerintahan. “Saat ini, pasar horizontal yang bagus adalah OTA,” ujar Dicky di Jakarta, Kamis (19/3).

 

Di kota – kota besar atau kota pertama (first city), pasar OTA bisa mendongkrak okupansi hingga 40%. Kota – kota tersebut diantaranya Jakarta, Bandung, Batam, Yogyakarta, dan Surabaya. “Jika sebelum memakai pasar OTA, okupansinya 50%, bisa naik menjadi 70%,” kata Dicky.

 

Sementara itu, untuk kota – kota kedua (second city) seperti Bogor, Bekasi, dan kota – kota lain, pasar OTA mampu meningkatkan okupansi hingga 20 %. “Jika sebelumnya okupansinya 50%, maka setelah menyeriusi pasar OTA, bisa naik menjadi 60%,” kata Dicky.

 

Pascapelarangan instansi pemerintah dan PNS berkegiatan di hotel, pengelola hotel mulai menyeriusi pasar non- pemerintah. Langkah tersebut dilakukan guna mengatasi penurunan okupansi. Praktisi perhotelan mengakui, okupansi hotel terjun bebas setelah pemerintah melarang PNS dan instansi mengadakan rapat atau kegiatan di hotel.

 

Di Bandung, misalnya, bisnis perhotelannya benar – benar terpukul pascahilangnya pasar pemerintahan. Menurut Ketua Riung Priangan (Asosiasi GM Hotel Bandung) Iwan Rismawardani, hal itu terjadi karena kontribusi pasar tersebut cukup besar terhadap keberlangsungan bisnis hotel.

 

General Manager Aston Primera Pasteur Bandung ini menegaskan, sebesar 40% pasar hotel Bandung berasal dari pemeritahan. Di bawahnya, sebesar 20 – 25% berasal dari pasar korporasi. Selanjutnya, pasar hotel diisi oleh oniline travel agent (OTA) dan pasar individual. Guncangan okupansi juga terjadi di Kota Bogor. Kota yang selama ini menjadi rujukan MICE, khususnya dari pasar pemerintahan, turut mengalami penurunan tamu.

 

Chief Executive Officer (CEO) Hotel Salak Heritage Bogor Agus Prihanto menyatakan, penurunan bukan hanya pada skala regional, tapi juga di tingkat unit hotel. “Hotel Salak, misalya. Okupansi Januari hanya mencapai 37%, sedangkan Februari 52%. Padahal, Januari dan Februari tahun lalu, okupansi kami berada di level 65% dan 70% lebih. Artinya, terjadi penurunan,” ujar Agus. (pam)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com