Menu
Sign in
@ Contact
Search

PUPR Siap Bangun Rumah Tahan Gempa di NTB

Senin, 10 September 2018 | 14:40 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan kesiapannya menerapkan pembangunan rumah dengan struktur tahan gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Penerapan teknologi risha (rumah instan sederhana sehat yang tahan gempa) di 19 lokasi sudah selesai," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam Rapat Konsultasi Tindak Lanjut Penanganan Gempa Bumi NTB di Gedung Nusantara II DPR, Jakarta, Senin.

Menurut Basuki, pihaknya telah menerjunkan sebanyak 400 insinyur muda CPNS Kementerian PUPR di tiga basecamp yang dilatih di 19 lokasi dalam rangka mendampingi masyarkaat membangun rumah dengan struktur tahan gempa.

Menteri PUPR menerangkan, teknologi risha merupakan hasil litbang PUPR yang prinsipnya adalah bila terjadi gempa besar maka bangunan bisa rusak tetapi strukturnya tidak boleh roboh agar tidak menimbulkan korban jiwa.

Ia mengungkapkan bahwa rumah risha sudah ada yang dibangun di sejumlah titik di NTB pada 2010, dan setelah diperiksa ditemukan bahwa rumah dengan teknologi risha tersebut masih dalam kondisi baik pascagempa.

Selain itu, ujar dia, pihaknya telah berkoordinasi antara lain dengan Kadin untuk membuka sebanyak delapan depot di lima kecamatan untuk penyediaan material bangunan dengan jumlah yang cukup dan tingkat harga yang relatif terjangkau warga.

Kerusakan mencapai Rp 10,1 triliun

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei menyebutkan bahwa total nilai kerusakan di tujuh wilayah Nusa Tenggara Barat diperkirakan mencapai Rp10,1 triliun dan saat ini dibutuhkan dana hingga sekitar Rp8 triliun.

Kepala BNPB menuturkan, upaya yang telah dilakukan antara lain penyelamatan dan evakuasi, serta penanganan pengungsi yang rencananya akan dilakukan sampai pemukiman untuk warga terbangun kembali.

Data lainnya adalah gempa yang terjadi pada periode 29 Agustus-9 September mencapai 2.036 kejadian dengan mengakibatkan korban jiwa sebanyak 564 jiwa dan korban luka 1.584 orang.

Terkait dengan infrastruktur dilaporkan bahwa ada sebanyak 214 infrastruktur yang terdampak termasuk jembatan, jalan, terminal bus, dan dermaga pelabuhan.

Di bidang pendidikan, 1.194 sekolah mengalami kerusakan, di mana 75% -nya adalah sekolah bagi anak berusia 12 tahun ke bawah.

Untuk bidang ekonomi, kerusakan yang terjadi juga menimpa antara lain adalah pasar tradisional, sektor pariwisata, pertanian, peternakan, hingga kelautan dan perikanan.

Sedangkan sekitar 40% kerusakan itu menimpa jaringan sistem penyediaan air minum (SPAM), instalasi pengolahan air limbah (IPAL), dan juga jaringan irigasi.

Sedangkan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengingatkan bahwa ada sejumlah isu terkait dengan rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa, antara lain adalah beberapa kementerian yang belum dicantumkan secara resmi di Inpres No 5/2018.

Selain itu, ujar dia, permasalahan lainnya adalah mengefektifkan mobilisasi dana-dana CSR untuk membantu pemulihan dampak gempa, tertekannya pendapatan asli daerah, hingga msaih adanya data yang dinilai simpang-siur tentang kenyataan di lapangan.

Hal tersebut, lanjutnya, penting untuk dikonfrimasikan karena terkait juga dengan tenggat waktu atau jadwal untuk membantu warga di NTB. (gor/ant)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com