Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Pelaku industri properti dalam diskusi bertema

Pelaku industri properti dalam diskusi bertema "Peluang dan Tantangan Sektor Perumahan Tahun 2022," di Jakarta, Jumat (15/1/2022).

Developer Sambut Positif Peluang Kebangkitan Industri Properti 2022

Sabtu, 15 Januari 2022 | 11:51 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Tahun 2022 menjadi tahun yang paling ditunggu para pemangku kepentingan (stakeholder) sektor perumahan. Pandemi Covid-19 yang mulai terkendali yang diikuti  menggeliatnya kegiatan perekonomian, direspons pengembang  untuk tinggal landas (take off) dengan meluncurkan beragam produk baru.

Wakil Ketua Umum DPP REI, Danni Wahid mengatakan, kebangkitan industri properti sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya sektor properti berkontribusi sebesar 13,6% terhadap PDB nasional dan mampu menyerap tenaga kerja hingga 8,5 juta pekerja atau 6,95% dari total tenaga kerja nasional tahun 2020.

“Seperti disampaikan Presiden Jokowi saat membuka Rakernas REI lalu bahwa industri properti memiliki multiplier effect dan rantai pasok terhadap 175 industri lain yang sangat tinggi konten lokal," ujar Danni dalam diskusi bertema “Peluang dan Tantangan Sektor Perumahan Tahun 2022,” di Jakarta, Jumat (15/1/2022).

Untuk itu, kata Danni, berharap pemerintah untuk mempermudah pengembang untuk membangun rumah maupun bisnis properti lainnya. Karena kebangkitan properti tidak hanya pemerintah memberikan insentif pajak saja (PPN DTP) tetapi juga perizinan yang saat ini masih sangat sulit,  meski sudah ada UU Cipta Kerja.

“Meski berkontribusi cukup signifikan, namun masih sangat banyak hambatan di lapangan. Salah satunya menyangkut kendala terkait Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sebagai pengganti izin mendirikan bangunan (IMB),” kata Danni.

Selain itu, REI perusahaan keuangan untuk fokus pada fasilitas pembiayaan  non fixed income (sektor informal). Caranya dengan memperbanyak kuota BP2BT (Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan). Sektor informal perlu mendapat perhatian lebih karena jumlahnya semakin banyak, terutama selama masa pandemi.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengatakan, bisnis properti sudah teruji terbukti saat krisis 1998. Tren industri properti masih lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya. Walaupun tahun ini masih ada penurunan, tapi tren pertumbuhan industri properti masih tetap positif. “Kendati terlambat, properti bisa berkontribusi dalam masa-masa sulit sekarang ini dan menjadi bagian dari industri strategis,” katanya.

Permasalahanya, imbuh Junaidi, industri ini kurang dapat perhatian. Belakangan baru disadari bahwa kontribusi industri properti sangat bagus. Mudah-mudahan pandangan positif bagi industri ini berlangsung untuk seterusnya.

“Jika dulu kuota kurang, seharusnya hal ini tidak terjadi lagi, mengingat industri ini sangat strategis dan melibatkan banyak tenaga kerja padat karya. Dalam situasi sekarang, tenaga kerja padat karya di sektor properti dapat bertahan,” kata Junaidi.

Ketua Umum Himperra (Himpunan Pengembang Pemukiman Dan Perumahan Rakyat) Endang Kawidjaja mengatakan, pandemi yang berlangsung hampir dua tahun ini membuat sektor properti harus survive

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah harus menjadi lokomotif sektor perumahan, terutama rumah subsidi untuk MBR.  Di 2022 ini, agar target 230 ribu unit dapat tercapai, Himperra mengemukakan beberapa masukan. Pertama, dilakukan transisi pada tiap perubahan aturan/NSPK (norma standar prosedur dan kriteria). Misalnya, pengalihan dana FLPP dari PPDPP ke BP Tapera yang memerlukan trial run agar transisi berjalan lancar.

Kepala Divisi Subsidized Mortgage Lending Division PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Mochamad Yut Penta, optimis bahwa property di Indonesia mulai bangkit dan terlihat dari peningkatan KPR di tahun 2021 kemarin. Produk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) masih menjadi unggulan pilihan konsumen dalam mendapatkan rumah idaman.

“Fleksibilitas masa tenor dan pembayaran uang muka 10%, menjadikan produk ini banyak diminati konsumen. Sumber pembiayaan KPR mencapai 75,08 % di Kuartal II 2021, pertumbuhan KPR secara tahunan (yoy) di Kuartal II 2021 mencapai 7,24%,” kata Penta. (imm)

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN