Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Ignesjz Kemalawarta, Deputi CEO 99 Group Indonesia Wasudewan, CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda dan News Director Beritasatu Media Group selaku moderator Primus Dorimulu (kiri) dalam acara Zooming With Primus dengan tema Properti Siap Take Off Live di Beritasatu TV pada Kamis, 20 Januari 2022 di Jakarta.  Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Ignesjz Kemalawarta, Deputi CEO 99 Group Indonesia Wasudewan, CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda dan News Director Beritasatu Media Group selaku moderator Primus Dorimulu (kiri) dalam acara Zooming With Primus dengan tema Properti Siap Take Off Live di Beritasatu TV pada Kamis, 20 Januari 2022 di Jakarta. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Jakarta dan Banten Jadi Pilihan Utama Pencari Properti

Jumat, 21 Januari 2022 | 15:59 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -- Jakarta dan Banten masih menjadi lokasi utama para pencari properti. Kedua wilayah ini memiliki magnet yang masih cukup tinggi bagi masyarakat ataupun investor untuk mendapatkan rumah.

Deputy CEO 99 Group Indonesia Wasudewan mengungkapkan, Jakarta masih menjadi magnet karena masih menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, juga sebagai pusat finansial, meski Ibu Kota Negara (IKN) mau dipindah ke Kalimantan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya orang Bekasi yang memilih dan mencari properti di Jakarta, padahal Bekasi memiliki kawasan industri yang cukup besar.

“Orang Jakarta masih memilih tempat tinggal di Jakarta. S edangkan orang Bekasi masih banyak yang memilih dan mencari properti di Jakarta, mungkin mereka ingin mencari rumah kedua atau dampak dari PPN DTP (pajak pertambahan nilai ditanggung pe merintah) ini menarik warga Bekasi mencari properti di Jakarta buat investasi,” kata Wasudewan dalam acara Zooming with Primus (ZWP) dengan tema “Properti Siap Take Off,” disiarkan langsung Beritasatu TV, Kamis (20/1/2022) 

Deputi CEO 99 Group Indonesia Wasudewan, dalam acara Zooming With Primus bertema Properti Siap Take Off, live di Beritasatu TV, Kamis (20/1/2022).  Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Deputi CEO 99 Group Indonesia Wasudewan, dalam acara Zooming With Primus bertema Properti Siap Take Off, live di Beritasatu TV, Kamis (20/1/2022). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Diskusi yang dipandu Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu itu juga menghadirkan dua pembicara lain, yakni Wakil ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Ignesjz Kemalawarta dan Chief Executive Officer Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda.

Wasudewan menjelaskan, meski kawasan Bekasi masih banyak industri, namun banyak kantor pusatnya berada di Jakarta. Sehingga banyak orang Bekasi memilih Jakarta sebagai tempat tinggal. Begitu juga dengan Banten. Ke depan, kawasan ini akan tetap menjadi pilihan menarik bagi para pencari properti, terutama hunian tapak.

“Karena kawasan ini masih dianggap nyaman untuk tempat tinggal, seperti halnya di Kawasan BSD dan sekitarnya,” ujar Wisudewan.

Faktor lain, kata Wasudewan, adalah infrastruktur yang dikembangkan di kawasan Banten cukup masif, seperti dibangunnya tol Serpong-Balaraja, kehadiran JORR II yang membuat Kawasan Banten menjadi tempat hunian yang nyaman.

“Terbukti juga banyak developer besar sekitar Banten yang mulai meluncurkan produk terbarunya,” katanya.

Sebuah rumah tapak. Foto ilustrasi: Investor Daily/EDO RUSYANTO
Sebuah rumah tapak. Foto ilustrasi: Investor Daily/EDO RUSYANTO

Berdasarakan hasil survai rumah123. com menyebutkan, Tangerang Selatan masih menjadi primadona pencari properti sebesar 117%, kemudian ada Sleman (Yogyakarta) 42%, Surabaya (Jawa Timur) 38%, Jakarta Pusat 29%, Jakarta Utara 27%, Bandung sebesar 36%, Denpasar 20%, Semarang 16%, Jakarta Barat 16%, dan Bogor 7%.

Wasudewan menjelaskan, sepanjang tahun 2020-2021, pencarian properti sebanyak 84,1% adalah pencari rumah tapak, dibandingkan sektor property lainnya. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut pada tahun ini.

“Hasil survei pencarian rumah tapak masih mendominasi pasar mencapai 84,1% dibandingkan sektor lainnya, seperti tanah, apartemen, dan perkantoran,” kata Wasudewan,

Menurut dia, dari pencarian rumah tapak dengan harga di bawah Rp 400 juta mengalami kenaikan cukup signifikan pada semester kedua 2021, yakni sebesar 39,1%, sedangkan pada semester pertama 2021 naik sebesar 37,9%.

Jakarta masih jadi lokasi idaman
Jakarta masih jadi lokasi idaman

Sementara itu, pencarian rumah tapak di kisaran harga Rp 400-650 juta turun dari semester pertama 10,6%, sedangkan semester kedua menjadi 9,5%. Pencarian rumah di kisaran harga Rp 650 juta sampai Rp 1 miliar turun sebesar 11% pada semester pertama dan 10,4% pada semester kedua 2021.

Sedangkan pencarian rumah di kisaran harga Rp 1-2 miliar juga ikut turun 16,5-15% per semester, pencarian rumah dengan harga Rp 2-3 miliar naik dari 7,5% pada semester pertama ke 7,8% pada semester kedua 2021.

Sementara pencarian rumah dengan harga Rp 3-5,5 miliar mengalami kenaikan dari 6,7% jadi 7,2% per semester.

Begitu pula dengan pencarian rumah dengan harga Rp 5-10 miliar naik dari 5,1% menjadi 5,7%. Pencarian rumah dengan harga Rp 10 miliar ke atas naik 4,6% menjadi 5,2%. “Rata-rata pencarian rumah dengan harga Rp 400 juta sampai dengan Rp 2 miliar alami penurunan tipis 0,5-0,9%,” kata Wasudewan.

Menurut dia, peningkatan permintaan rumah di atas Rp 2 miliar karena adanya kebijakan pemerintah yang memperpanjang PPN DTP yang menarik buat pencari properti karena mendapatkan diskon yang cukup besar.

CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda, dalam acara Zooming With Primus bertema Properti Siap Take Off, live di Beritasatu TV, Kamis (20/1/2022).  Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda, dalam acara Zooming With Primus bertema Properti Siap Take Off, live di Beritasatu TV, Kamis (20/1/2022). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Sementara itu, CEO IPW Ali Tranghanda mengakui pasar properti di Jabodetabek dan Banten meningkat cukup tinggi 27,4% dibandingkan daerah lain.

“Peningkatan ini sebenarnya sudah terlihat pada tahun 2021, di Jabodetabek dan Banten kebutuhan rumah cukup tinggi,” kata dia.

Ali menegaskan sebenarnya potensi properti take off secara umum sudah dimulai pada tahun 2019, namun tertunda karena pandemi Covid-19.

“Pasar properti tetap tumbuh pada 2020, tetapi melambat. Meski melambat, bukan berarti tidak ada daya beli. Daya beli ada, kelas menengah tertekan iya, tetapi kelas menengah atas masih tetap jalan, apalagi pada saat PPKM dilonggarkan langsung properti naik lagi,” kata Ali.

Butuh Dukungan Regulasi

Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Ignesjz Kemalawarta, dalam acara Zooming With Primus bertema Properti Siap Take Off, live di Beritasatu TV, Kamis (20/1/2022).  Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Ignesjz Kemalawarta, dalam acara Zooming With Primus bertema Properti Siap Take Off, live di Beritasatu TV, Kamis (20/1/2022). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum DPP REI Ignesjz Kemalawarta menyoroti perlunya regulasi yang mendukung industri properti untuk bangkit tahun ini. Salah satunya terkait aturan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sebagai pengganti aturan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

“Perizinan pembangunan baru persyaratan perizinan pasca-OSS RBA mengubah IMB menjadi PBG, namun sampai saat ini belum ada pemda mengeluarkan Perda Retribusi PBG sehingga pengembang terkendala untuk melakukan verifikasi pada aplikasi Sikumbang,” kata Ignesjz.

Menurut dia, Presiden Joko Widodo menyebutkan kebangkitan properti sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Saat ini, sektor property mampu berkontribusi 13,6% terhadap PDB nasional dan menyerap tenaga kerja hingga 8,5 juta pekerja atau 6,95% dari total tenaga kerja nasional.

Pekerja menyelesaikan pembangunan perumahan di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/11/2021).  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Pekerja menyelesaikan pembangunan perumahan.. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Di samping itu, sektor properti mampu mendobrak pertumbuhan ekonomi, karena memiliki multiplier effect terhadap 175 industri lain yang sangat tinggi terhadap konten dan muatan lokal.

“Pada 2020 KPR turun dan naik lagi pada 2021 terutama pada Maret dan Oktober. Serta masih ba nyak simpanan masyarakat yang masih tinggi,” kata dia.

Dia menambahkan, saat ini baru ada 22 kabupaten/kota yang memiliki Perda PBG. Karena itu, bila sektor properti ini bangkit perlu memangkas regulasi yang menghambat. Karena itu, REI berharap ada solusi untuk menyelesaikan masalah PBG ini.

“Harus ada solusi dan perbaikan untuk menyelesaikan Perda PBG. Pasalnya, mayoritas daerah yang memiliki dan menetapkan perda retribusi PBG. Karena itu, pemerintah harus memastikan segera menyelesaikan PBG,” kata Ignesjz.

Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Ignesjz Kemalawarta, Deputi CEO 99 Group Indonesia Wasudewan, CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda dan News Director Beritasatu Media Group selaku moderator Primus Dorimulu (kiri) dalam acara Zooming With Primus dengan tema Properti Siap Take Off Live di Beritasatu TV pada Kamis, 20 Januari 2022 di Jakarta.  Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Ignesjz Kemalawarta, Deputi CEO 99 Group Indonesia Wasudewan, CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda dan News Director Beritasatu Media Group selaku moderator Primus Dorimulu (kiri) dalam acara Zooming With Primus dengan tema Properti Siap Take Off Live di Beritasatu TV pada Kamis, 20 Januari 2022 di Jakarta. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Bila tidak segera diselesaikan, lanjut dia, akan berdampak buruk terhadap produksi rumah dan serapan dari insentif PPN DTP dan pembangunan rumah secara keseluruhan.

“Kami mengusulkan kepada pemerintah agar PPN DTP diperpanjang sampai akhir tahun 2022,” katanya.

Sedangkan untuk sektor rumah subsidi, REI mengajukan kepada pemerintah untuk menaikkan harga rumah subsidi dan rumah susun (rusun) ditetapkan. Alasannya, rumah subsidi sudah dua tahun tidak alami kenaikan.

Dia juga meminta fasilitas pembiayaan perumahan untuk non fixed income dengan skema BP2BT (Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan) untuk diperbanyak. REI juga mengusulkan perpanjangan restrukturisasi dari yang semula berakhir Maret 2023 agar diperpanjang sampai Maret 2024. Pasalnya, kondisi existing penjualan masih lesu.

“Pemerintah harus membuat regulasi yang menjawab tantangan yang ada di lapangan. Regulasi harus lebih realistis sehingga menjawab tantangan secara konkret,” tegas dia.

Mengenai tanah, dia mengatakan dengan adanya bank tanah bisa menyediakan lahan untuk pembangunan rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Ketiga, sumber dana jangka panjang harus terus digali oleh pemerintah untuk mempersempit gap,” kata dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN