Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ruang Perkantoran CBD. Foto: dok. Investor Daily

Ruang Perkantoran CBD. Foto: dok. Investor Daily

Colliers: 2021, Perkantoran Masih Alami Tekanan

Minggu, 10 Januari 2021 | 11:15 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -Sektor perkantoran di Jakarta diperkirakan masih mengalami tekanan hingga tahun 2021. Masa pandemi Covid-19 yang belum hilang dan banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah, berdampak kepada tingkat keterisian gedung perkantoran.

“Tingkat okupansi trennya sejak kuartal tiga 2020 terus menurun dan puncaknya masih terjadi penurunan. Tahun 2021 kita lihat masih banyak pasok office yang masuk dan masih celenjing. karena faktor suplai dan belum ada keseimbangan yang belum naik dan kita katakan 2021 hunian terus akan menurun, meski belum menjadi kesimpulan,” ungkap Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto, Konferensi pers virtual, baru- baru ini.

Menurutnya, tingkat keterisian dari gedung ini tidak diimbangi oleh jumlah pasokan kantor yang baru. Pada 2020 tercatat ada tambahan 7 gedung perkantoran baru yang masuk baik di CBD maupun non CBD.

Adapun rincinya adalah 6,87 juta meter persegi merupakan gedung perkantoran di wilayah pusat bisnis atau Central Business District (CBD). Serta 3, 58 juta meter persegi berada di luar kawasan CBD.

Ferry Salanto. Foto: IST
Senior Associate Director Colliers International Indonesia. Foto: IST

Kondisi ini, kata Ferry akan mempengaruhi pada tarif sewa perkantoran. Karena tingkat keterisian gedung yang rendah, maka rata-rata tarif sewa perkantoran juga akan mengalami tekanan. Dimana saat ini rata-rata tarif sewa kantor di CBD sekitar Rp 257.532 per meter persegi atau turun 7% dibanding tahun lalu. Sementara untuk tarif sewa rata-rata yang ada di luar CBD, harga sewa turun jadi Rp 190.047 permeter persegi atau turun 2,5% dibanding tahun lalu. 

“Harga sewa yang ditawarkan oleh pemilik gedung tersebut harganya masih harga penawaran jadi masih bisa sangat negotiable,” ujarnya.

Menurut Ferry, penurunan harga sewa perkantoran diperkirakan akan terus berlangsung kompetitif sepanjang 2021. Mengingat pengembang akan berusaha untuk bisa mengisi gedung-gedung kantor yang sedang kosong dengan harga negotiable.

“Harga sewa di CBD bisa sama dengan harga yang ada di Simatupang. Sekarang memang banyak pilihan mau penyewa di mana berkantor, banyak gedung yang masih kosong terutama gedung-gedung yang okupansinya lebih rendah itu mereka sangat fleksibel untuk menawarkan sewa,” katanya.

Data Collier menyebutkan bahwa, supply ruang perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) sepanjang 2017-2020 sebanyak 357.361 meter persegi. Sementara itu, pada 2021-2024 diperkirakan supply perkantoran di kawasan elite tersebut mulai menurun. Di mana, secara rata-rata menjadi 138.839 meter persegi.

“Suplai tahun 2021 sampai 2024, sudah jauh berkurang secara rata-rata menjadi hanya 138.839 meter persegi,” ujarnya.

Sementara supply perkantoran di luar kawasan CBD pada tahun 2017-2020, rata-ratanya mencapai 145.456 meter persegi. Namun pada rentang tahun 2021 sampai 2024, diprediksi akan mengalami penurunan sekitar 93.161 meter persegi.

“Jadi sudah lebih dari separuhnya berkurang, dan ini sebenarnya merupakan indikator yang cukup bagus. Sektor perkantoran ini memang mengalami over supply dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

Di tahun 2020 sendiri, lanjut Ferry, sejak kuartal I, supply ruang perkantoran di CBD tercatat ada empat gedung yang beroperasi secara bersamaan yang mencapai 212.247 meter persegi. Sehingga total pasokan kumulatif mencapai 6,87 juta meter persegi, atau hanya tumbuh 3,2 % secara year-on-year. Dan sampai penghujung tahun 202 tidak ada lagi tambahan pasokan baru.

Sedangkan supply perkantoran di luar kawasan CBD, tercatat ada tiga gedung telah beroperasi dan membawa tambahan 85.000 meter persegi dan itu pasokan baru muncul di kuartal IV tahun 2020. Sehingga, total pasokan kumulatif d non CBD mencapai 3,58 juta meter persegi atau tumbuh 2,4% secara year-on-year.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN