Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo, Wapres Ma

Presiden Joko Widodo, Wapres Ma

Kabinet Baru, Harapan Baru Industri Properti

Imam Mudzakir, Minggu, 3 November 2019 | 11:56 WIB

JAKARTA, imvestor.id - Usai dilantik, 20 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sontak merancang susunan cabinet periode 2019-2024. Kabinet Indonesia Maju (KIM) yang diumumkan sekaligus dilantik 23 Oktober 2019, melahirkan pro dan kontra. Beragam reaksi muncul termasuk dari kalangan pelaku usaha. Mencuat harapan agar kondisi perekonomian menjadi lebih baik dapat secepatnya terwujud.

Beragam pekerjaan menanti KIM, termasuk yang terkait industri properti. Banyak harapan agar kabinet punya kebijakan yang menggairahkan. Pasalnya, hingga kuartal III-2019, industri properti masih mengalami pelambatan. Padahal antara pemerintah dan otoritas terkait seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan jurus pelonggaran kepada perbankan guna mendorong penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR).

“Dua kementerian yang terkait industri properti yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang tidak mengalami pergantian Menteri. Kita bisa berharap akan ada kelanjutan dari berbagai kebijakan kementerian yang selama ini sudah berjalan baik, bisa berlanjut di periode yang mendatang,” ujar Head of Marketing Rumah.com, Ike Hamdan, di Jakarta, baru-baru ini.

Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan. Foto: youtube
Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan. Foto: youtube

Bertahannya kedua menteri tersebut, diharapkan oleh banyak kalangan, termasuk pengembang, agar kebijakan kabinet baru bisa menggairahkan kembali industri properti di Indonesia setelah sekian lama mengalami pertumbuhan yang stagnan atau cenderung landai.

Adanya perlambatan pertumbuhan industri properti Tanah Air ini tercermin dari Property Market Index yang di keluarkan oleh Rumah.com. indeks itu memperlihatkan terjadinya penurunan suplai properti tahunan secara nasional sampai kuartal III- 2019. Penurunan tersebut mencapai 4% jika dibandingkan dengan kuartal III tahun 2018 lalu (year-on year).

Sementara itu, Coldwell Banker Commercial menilai, meski ada sentimen positif, tetapi permintaan masih lebih rendah dibandingkaan tahun sebelumnya. Baik untuk untuk residensial maupun juga perkantoran. Bahkan sewa ritel dan juga perkantoran masih tertekan.

Managing Partner Coldwell Banker Commercial (CBC) Tommy H Bastamy mengatakan, hingga kuartal III-2019 pergerakan pasar properti di keseluruhan sektor cenderung moderat. Hal ini karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih tertekan. Berbagai isu politik dan ekonomi masih sangat mempengaruhi pasar properti secara keseluruhan. Permintaan masih cenderungg moderat dibandingkan tahun lalu, penyerapan masih mengalami penurunan, harga sewa juga masih alami tekanan.

“Tentu dengan pemerintah Jokowi untuk yang kedua kali ini industri properti bisa kembali tumbuh. Terutama untuk sektor menengah atas yang sampai saat ini masih tertekan,” kata dia.

Hasil analisis dari 400.000 listing di Rumah.com Property Market Index, kata Ike, terlihat ada penurunan suplai properti tahunan di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) pada kuartal III- 2019. Suplai turun sebesar 11.8% jika dibandingkan dengan kuartal sama tahun 2018 (year-on year). Sedangkan jika dibandingkan dengan kuartal II-2019 terjadi kenaikan suplai properti di kawasan Bodetabek sebesar 8.9% (quarteron- quarter).

Genjot Infrastruktur

Gedung-gedung perkantoran di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Gedung-gedung perkantoran di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Menurut Ike, untuk menggairahkan industry properti salah satunya adalah melalui pembangunan infrastruktur. Tak heran jika pemerintahan Jokowi menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu dari lima fokus yang akan dikerjakan dalam lima tahun ke depan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Pasar Modal Colliers International untuk Indonesia,

. Pembangunan infrastruktur yang dikembangkan pemerintah yang mencapai US$ 40 miliar di Jakarta, seperti MRT dan LRT, jalan tol berdampak positif bagi sektor properti. Banyak investor dan pengembang yang mengincar proyek-proyek baru di kawasan tersebut.

“Pengembang properti di kota-kota besar metropolitan lainnya telah mendapat manfaat di mana pemerintah Indonesia telah banyak berinvestasi dalam infrastruktur transportasi. Pola ini harus menjadi pertanda baik untuk pengembangan komersial dan perumahan di sepanjang jalur MRT dan LRT di Jakarta,” ungkap Steve Atherton.

Tommy H Bastamy menambahkan, pengembangan dan membaiknya infrastruktur sangat berdampak postif dan berkontribusi terhadap berkembangnya properti komersial, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Bali, Surabaya dan Medan. Bahkan, Bodetabek, Tangerang, Makassar, Batam, Semarnag, Balikpapan, Yogyakarta sudah mulai bermunculan proyek proyek properti komersial. Pentingnya pembangunan infrastruktur untuk menggairahkan industri properti ini tercermin dari hasil Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2 2019. Dekatnya jarak dari tempat tinggal menuju tempat kerja dan transportasi massal menjadi faktor utama yang menentukan keputusan membeli properti.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk, melalui Departemen Transit Oriented Development (TOD) & Hotel sedang mengembangkan megaproyek kawasan Superblok dengan nama LRT City
PT Adhi Karya (Persero) Tbk, melalui Departemen Transit Oriented Development (TOD) & Hotel sedang mengembangkan megaproyek kawasan Superblok dengan nama LRT City

“Sebanyak 65% responden yang memilih kedekatan jarak menuju tempat kerja dan 60% responden yang memilih kedekatan jarak menuju transportasi massal sebagai penentu keputusan untuk membeli properti,” kata Ike.

Dengan hadirnya KIM, pelaku industri properti berharap adanya sinergi dan relaksasi dalam hal regulasi. Baik dari sisi kebijakan pemerintah maupun perbankan. Tentu merupakan kerja bersama seluruh pihak yang berkontribusi untuk meningkatkan daya serap pasar.

“Pada periode Kabinet Indonesia Maju ini kami berharap pemerintah membuat terobosan kebijakan-kebijakan baru yang dapat mendorong pertumbuhan industri properti di Tanah Air. Apalagi, kinerja sektor properti tahun depan diprediksi masih sangat menantang karena dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global,” ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA