Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembangunan rumah bersubsidi. Foto ilustrasi: Kementerian PUPR

Pembangunan rumah bersubsidi. Foto ilustrasi: Kementerian PUPR

Kawasan Industri dan Rumah Tapak Bangkit Lebih Cepat

Rabu, 6 Januari 2021 | 14:59 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Konsultan properti Colliers International Indonesia menilai pada tahun 2021 ini sektor industri dan rumah tapak akan bangkit lebih dahulu, dibandingkan sektor properti lainnya, seperti perkantoran, apartemen, ritel dan hotel.

“Perkiraan kami yang akan pulih lebih dahulu adalah sektor industri, karena berhubungan dengan produksi barang dan juga teknologi informasi. Setelah industri adalah Landed house yang akan menjadi sektor bangkit.” Ungkap Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto, dalam paparan virtua;, di Jakarta, Rabu (6/1/2021)

Ferry Salanto. Foto: IST
Ferry Salanto. Foto: IST

Menurutnya, sektor industri ini terus mengalami peningkatan di tengah pandemi Covid-19. Karena kawasan ini terkait masalah pergerakan barang dan jasa. Bila pergerakan kawasan industri tumbuh maka pergerakan ekonomi juga akan terdongkrak, termasuk juga properti karena. Bisnis makanan masih bertahan dan masih akan berkembang ke depan di kawasan industri, suplai bahan bangunan, termasuk juga otomotif.

“Jadi kawasan industri akan kembali pulih lebih cepat, karena terkait pergerakan barang, baik untuk properti, otomotif dan juga makanan, dan ini menandakan ekonomi akan bangkit,” kata dia.

Kawasan industri berhubungan dengan Teknologi Informasi ( IT) seperti data centre (pusat data) karena akan terus berekspansi. e-commerce juga akan menopang kawasan industri, karena membutuhkan gudang dan menjadi pusat distribusi.  

“Justru yang konsisten dan tidak terpengaruh Pandemi Covid-19 adalah industri makanan. Karena industri ini karena merupakan kebutuhan pokok yang terus diperlukan,” kata Ferry.

Selain kawasan industri, kata Ferry yang bakal bangkit di tahun ini yang lebih cepat adalah sektor perumahan. Terutama rumah landed alias tapak. Rumah tapak ini lebih merupakan kebutuhan pokok masyarakat dan hajat hidup orang banyak.

“Dibandingkan dengan apartemen, rumah tapak ini permintaan masih cukup tinggi, terutama orang yang ingin mencari tempat tinggal (end user) bukan untuk investasi,” katanya.

Berbeda dengan sektor apartemen,  dimana kebanyakan orang membeli dalam rangka investasi dan mencari capital gain atau mencari keuntungan. Maka banyak investor yang lebih wait and see untuk sektor apartemen ini dan berbeda dengan rumah tapak masih tetap di cari karena untuk di tempat dan mayoritas menggunakan KPR (kredit pemilikan rumah).

Ferry juga berharap kebijakan pemerintah sektor properti terutama hunian ini di permudah, seperti suku bunga KPR, dimana saat ini BI rate juga sudah menurunkan suku bunga sampai 4% sektor properti dan diharapkan juga perbankan untuk menurunkan suku bunga KPR, agar sektor hunian ini bisa lebih cepat lagi bangkitnya.

“Banyak orang yang menahan untuk membeli rumah biasanya, masih ada khawatir, terutama soal pekerjaannya, di tengah kondisi seperti ini, nah ketika sudah aman, biasanya mereka kembali bangkit dan membeli rumah,” kata dia.

Harga hunian yang saat ini masih menjadi favorit adalah diantara Rp 500 jutaan hingga Rp 2 miliar. karena untuk rumah di atas Rp2 miliar masih sangat berat bagi masyarakat karena situasi belum aman.

Sedangkan untuk sektor perkantoran, Ritel dan Hotel, masih cukup berat dan butuh waktu yang cukup lama. Menurut Ferry, kebijakan pemerintah melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mempengaruhi kinerja dari para pelaku usaha tak terkecuali juga para pengusaha ritel.

“Kebijakan PSBB oleh pemerintah berdampak langsung pagi pengunjung dan juga pendapatan para peritel di mall, bahkan mereka banyak yang tutup karena tidak mampu untuk membayar sewa dan sepinya pengunjung,” kata Ferry.

Bahkan sepanjang 2020, okupansi ritel mengalami penurunan yang cukup drastis, terutama di daerah Jabodetabek. Untuk daerah Jakarta misalnya, untuk kawasan Central Business District (CBD) okupansi turun dari 83,5% pada tahun 2019 menjadi 80,7% pada tahun 2020.

Sementara untuk daerah yang mengalami penurunan cukup tinggi adalah daerah Bogor yang penurunannya mencapai 20%.

“Kita bisa lihat di beberapa wilayah Jakarta, di CBD misalnya 83,5% tahun lalu turun 80,7%. Penurunan ini angkanya tidak terlalu tinggi tapi dari salesnya sangat berpengaruh. Di Bogor penurunannya paling signifikan bisa sampai 20%,” ujarnya.

Khusus daerah di DKI Jakarta, penurunan okupansi ini dikarenakan adanya PSBB yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov). Adanya PSBB tersebut mempengaruhi minat masyarakat untuk masuk atau berbelanja di mal.

“Meski mall dibuka, tetapi ada larangan PSBB, maka orang takut untuk pergi ke mall dan peritel butuh adanya keramaian agar pulih, kalau sepi tetap akan merugi dan tentu dampaknya penutupan,” katanya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN