Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Kelas Menengah Bawah Kuasai Kondominium Surabaya

ah, Selasa, 20 Oktober 2015 | 16:40 WIB

JAKARTA – Segmen menengah bawah (middle low) menguasi pasar kondominium Surabaya. Hingga kini, sekitar 65% penjualan berasal dari segmen tersebut. Kesimpulan tersebut mengemuka dalam paparan serapan pasar properti triwulan 3/2015, yang disampaikan oleh konsultan properti JLL, di Jakarta, pekan lalu.


Head of JLL Surabaya Office Joseph Lukito mengatakan, pertumbuhan kondominium di Surabaya dipicu oleh harga lahan. “Karena harga tanah di pasar sudah mahal, dan land banknya tidak ada, maka opsinya tinggal di kondominium. Kalaupun landed house, harus keluar dari Surabaya, seperti Sidoarjo dan Gresik,” ujar Joseph.


Sepanjang 2015 – 2018, lanjut Joseph, terdapat pasokan kondominium sebanyak 15.700 unit. Dari jumlah tersebut, lebih dari 10.800 unit merupakan kondominium kelas menengah – bawah (middle low). Bandrol harga di kelas ini berkisar antara Rp 9 juta – Rp 14 juta per meter persegi. “Tingkat penjualan di kelas ini mencapai 65%,” jelas Joseph.


Setelah menengah bawah, tingkat penjualan kedua dan ketiga diisi oleh kondominium kelas atas (upper) dan menengah (middle). Di Surabaya, tingkat penjualan kelas atas mengalahkan kelas menengah. Di kelas atas, tingkat penjualannya sebesar 22%, sedangkan kelas menenangah 12%.


Kondominium kelas atas dibanderol Rp 25 juuta – Rp 35 juta per meter persegi. Sedangkan kelas menengah, Rp 15 – 23 juta per meter persegi. Joseph menambahkan, pasokan kondominium hingga 2018 didominasi dari Surabaya bagian timur. Permintaan residensial vertikal di Surabaya bagian timur sebagian besar berasal dari pemain bisnis lokal.


Sedangkan profil permintaan di Surabaya bagian barat didominasi oleh ekspatriat Asia Menyinggung dominasi pembeli, Joseph mengatakan, pembelian kondominium Surabaya didominasi oleh investor lokal. Sementara itu, pasokan unit disiapkan oleh beberapa pengembang papan atas, seperti Pakuwon, Gunawangsa, Ciputra dan AKR Land.


Alasan Praktis

Khusus soal pasar ekspatriat, menurut Joseph, terjadi karena alasan kepraktisan dan keamaan. Dengan munculnya apartemen bagus mendorong mereka meninggalkan rumah tapak, yang selama ini ditinggali. Tinggal di kondominium dinilai lebih praktis dan ama.


“Kalau ekspatriat cenderung di Surabaya bagian barat karena akses tol ada di barat. Kebanyakan mereka ke industri,” kata Joseph.


Hingga kini, belum ada kondominium di Surabaya bagian timur yang membidik pasar ekspatritat. Di kawasan ini, kawasan ini lebih banyak memasok kondominium untuk konsumen lokal, khususnya dari perguruan tinggi.


“Kondominium di Subaya bagian timur kebanyakan untuk mahasiswa, karena kawasan ini dirancang sebagai edocity-nya Surabaya,” jelas dia.


Tumbuhnya kondominium di Surabaya bagian timur dan barat tidak sejalan dengan pertumbuhan di Surabaya pusat. (pam)


BAGIKAN