Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hotel di Jakarta. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Hotel di Jakarta. Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Kinerja Hotel Mulai Membaik di Pertengahan 2021

Senin, 11 Januari 2021 | 16:30 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -Konsultan properti Colliers International Indonesia berharap pada pertengahan tahun 2021 kinerja hotel di Jakarta mulai membaik. Government sebagai konsumen hotel terbesar diharapkan kembali menggelar kegiatannya di hotel. Di sisi lain pelaksanaan vaksinasi Covid-19 juga diharapkan menimbulkan kepercayaan masyarakat untuk mau melakukan kegiatan bisnisnya kembali.

“Saat ini sudah mulai ada kegiatan di hotel, namun belum bisa dikatakan kembali normal seperti semula. Government masih menjadi pasar terbesar bagi hotel di Jakarta. Diharapkan pertengahan tahun ini sudah kembali membaik,” kata Senior Associate Director, Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, belum lama ini.

Menurut Ferry, beberapa faktor yang membuat kinerja Hotel di Jakarta melambat antara lain kebijakan pemerintah menutup pintu kedatangan WNA (Warga Negara Asing) kecuali memiliki visa diplomatik dan visa dinas yang terkait kunjungan resmi pejabat asing setingkat menteri ke atas.

Pemegang izin tinggal diplomatik dan izin tinggal dinas, serta pemegang KITAS dan KITAP. Artinya kegiatan kunjungan bisnis yang melibatkan ekspatriat tidak semudah itu untuk dilaksanakan. Kemudian pada bulan April sudah memasuki Ramadhan dan Mei memasuki Lebaran.

“Sehingga kinerja hotel mulai ramai setelah lebaran,” kata dia.

Ferry Salanto. Foto: IST
Senior Associate Director, Colliers International Indonesia Foto: IST

Sementara itu, kata Ferry, kinerja hotel selama tahun 2020 kondisinya belum membaik, bahkan terus menurun. Selama setahun hanya ada 2 hotel baru yang masuk.

“Pasokan hotel yang masuk selama tahun 2020 hanya ada 2, yaitu Aloft TB Simatupang dan harris Puri Mansion,” kata Ferry.

Menurutnya, sejak awal Pandemi Covid-19, kinerja hotel turun drastis, bahkan ada beberapa hotel yang menutup kegiatan operasionalnya. "Kondisi hotel di Jakarta belum sepenuhnya membaik," katanya.

Untuk menekan operational cost, hotelier menempuh banyak cara, seperti mengoperasikan sebagian gedungnya, menutup beberapa fasilitas hotel dan bahkan merumahkan beberapa karyawannya. Saat ini sudah mulai ada kegiatan di hotel, namun belum bisa dikatakan kembali normal seperti semula. Government masih menjadi pasar terbesar bagi hotel di Jakarta,” katanya.

Sementara itu, Cushman & Wakefield Indonesia menyebutkan, meskipun masih terjadi peningkatan kasus Covid-19, kinerja bisnis hotel secara bertahap mulai membaik pada akhir tahun 2020 dan diperkirakan terus berlanjut hingga tahun 2021.

“Perbaikan bisnis hotel secara bertahap mulai terlihat pada akhir tahun 2020 meskipun terjadi peningkatan kasus Covid-19 yang terkonfirmasi. Para pelaku bisnis perhotelan melihat bahwa perbaikan pasar akan terus berlanjut hingga tahun 2021,” kata Managing Director of PT Cushman & Wakefield Indonesia, Lini Djafar.

Pada tahun 2020, seiring dengan meningkatnya kasus Covid-19 yang terkonfirmasi dan terbatasnya ketersediaan fasilitas kesehatan, semakin banyak hotel yang diubah menjadi rumah sakit darurat. Operator hotel sangat kesulitan dalam mempertahankan tingkat hunian selama pandemi, dan tidak sedikit hotel yang tutup.

Sepanjang tahun 2020, tingkat hunian hanya bisa mencapai di bawah 50%. Setelah relaksasi PSBB, kinerja hotel berangsur-angsur mulai membaik. Bisnis hotel bintang 3 dan bintang 4 di Jakarta diharapkan pulih lebih cepat daripada hotel bintang 5 dan hotel mewah.

“Penerapan Omnibus Law diharapkan dapat menarik investasi asing dan berdampak positif bagi tingkat hunian hotel, terutama yang berlokasi di kawasan CBD,” katanya.

Menanggapi kondisi tidak menentu akibat pandemi, penghuni hotel akan mengharapkan pembukaan waktu pemesanan (booking window) yang lebih lama dan sistem reservasi yang lebih fleksibel.

“Keamanan dan kebersihan akan menjadi pertimbangan utama para penghuni hotel dalam memilih akomodasi hotelnya. Tarif sewa rata-rata (ARR) akan tetap stabil selama masa pemulihan di tahun 2021,” ujarnya

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN