Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana gedung perkantoran di kawasan CBD, Jakarta, beberapa waktu lalu.  Foto: Investor Daily/DAVID

Suasana gedung perkantoran di kawasan CBD, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto: Investor Daily/DAVID

Kinerja Pasar Perkantoran Sewa Membaik

Kamis, 13 Februari 2020 | 18:04 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -- Pasar perkantoran sewa di Jakarta selama 2019 menunjukkan kinerja lebih baik dengan total permintaan tahunan mencapai 182.000 meter persegi (m2) atau meningkat 23,8% dari tahun sebelumnya.

“Mayoritas permintaan ruang perkantoran sewa dikontribusi oleh financial institution dan bisnis-bisnis berbasis IT, terutama fintech dan e-commerce,” ungkap Managing Partner Coldwell Banker Commercial (CBC) Tommy H Bastamy, dalam paparan Indonesia Property Market Overview & Outlook, di Jakarta, baru baru ini.

Untuk harga sewa pada sektor perkantoran masih tertekan pertumbuhannya sehubungan dengan masih rendahnya tingkat hunian (okupansi) dan pertimbangan budget dari para tenant yang cenderung terbatas.

Penambahan pasokan gedung perkantoran sewa selama 2019 masih terbatas dibandingkan 2018. Selain karena merupakan tahun politik, landlord cenderung lebih fokus untuk mengisi kekosongan gedung eksisting. Penambahan pasokan pada Q4-2019 berasal dari gedung di area Non CBD, dengan mulai beroperasinya Gedung Jakarta Box Office di Jl. Kebon Sirih, Jakarta Pusat, sehingga menjadikan kumulatif pasokan mencapai 8.818.730 m2 atau meningkat sebesar 0,4% (QoQ) di akhir 2019.

“Permintaan tahunan selama 2019 mencapai 182.000 meter persegi atau meningkat 23,8% dibanding 2018. Penyerapan yang terjadi dalam Q1-2019 berkontribusi signifikan terhadap total permintaan selama 2019,” katanya.

Sedangkan selama kuartal 4 tahun 2019, penyerapan didominasi oleh gedung-gedung Grade A di CBD, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan. Berdasarkan profil tenant, penyerapan ruang kantor berasal dari perusahaan-perusahaan berbasis IT, seperti FinTech, disusul oleh bidang telekomunikasi, berbagai perusahaan jasa, ekspansi e-commerce, dan coworkaing space.

“Permintaan ruang kantor coworking space mulai mengalami penurunan pada kuartal IV, karena brand-brand coworking space yang terkenal sudah beroperasi di gedung-gedung strategis. Perusahaan e-commerce dan fintech masih terus melakukan ekspansi ruang seperti yang dilakukan oleh Traveloka dan OVO,” ujarnya.

Sementara itu, untuk harga sewa, perkantoran di Jakarta masih terus alami tekanan dan masih diberlakukannya penyesuaian (diskon) harga pada gedung gedung perkantoran. Harga sewa terus tertekan dengan masih diberlakukannya penyesuaian (diskon) harga pada gedung-gedung perkantoran. Pada Q4-2019, rata-rata harga sewa Rp 202.800 per meter persegi per bulan, naik 0,5% (QoQ) atau turun (2,7%) dibanding akhir 2018.

Sementara itu, hasil riset yang disampaikan JLL Indonesia menyebutkan, ruang penyerapan perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) tinggi pada 2019. Namun tingkat rental atau harga sewa masih tertekan. Hal ini menyebabkan tingkat hunian (okupansi) ikut tertekan di angka 76%.

“Penyerapan ruang perkantoran cukup tinggi. Tetapi meski tingkat penyerapan yang cukup tinggi dengan tingkat pasokan yang selesai beberapa tahun terakhir menyebabkan tingkat hunian masih tertekan diangka 76% rata rata di kawasan CBD,” ungkap Head of Research JLL Indonesia, James Tylor.

Menurut dia, penyerapan ruang sewa perkantoran di kawasan CBD Jakarta, selama 2019 mencapai 200.000 meter persegi dan 50% lebih adalah berasal dari perusahaan berbasis teknologi dan juga coworking space. “Harga sewa untuk bangunan kelas grad A masih mengalmai penurunan sebesar 4% dari tahun 2018,” katanya.

Catatan JLL Indonesia menyebutkan, suplai ruang perkantoran di CBD Jakarta selama 2019 mencapai 360 ribu meter persegi. Harga rental turun 30% dan tingkat okupansinya diangka 76%. “Diperkirakan tarif rental ruang perkantoran di CBD Jakarta ini turun 4% dan terus tertekan sampai tahun ini dan masuknya suplai baru sebesar 500 ribu meter persegi sampai dengan tahun 2020. Kami perkirakan tahun berikutnya bakal pulih,” kata dia.

Sementara itu, untuk kawasan Non CBD, Lanjut James, okupansi ruang perkantoran di kawasan ini masih cukup stabil. Bahkan penyerapan ruang perkantoran di kawasan Non CBD mulai meningkat dalam 10 tahun terakhir dengan tingkat penyerapan mencapai 132 ribu meter persegi. “Dibandingkan dengan tahun 2018 tahun 2019 lebih bagus dan tingkat okupansi cukup stabil,” katanya.

Penyebaran tingkat okupansi terbesar berada di kawasan Jakarta Timur sebesar 93%, kemudian Jakarta Selatan 82%, Jakarta Pusat 80%, kawasan TB Simatupang 79%, dan kawasan Jakarta Barat 73%

 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN