Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Theresia Rustandi

Wakil Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Theresia Rustandi

Dampak Covid-19 

Mendesak, Restrukturisasi Utang Pengembang

Edo Rusyanto, Jumat, 22 Mei 2020 | 15:22 WIB

Jakarta, Investor.id – Asosiasi pengembang properti menegaskan bahwa saat ini yang mendesak untuk dilakukan adalah merestrukturisasi utang para pengembang dan konsumen properti. Pandemi Covid-19 memukul kredit pemilikan rumah/kredit pemilikan apartemen (KPR/KPA).

“Saat  ini, yang paling penting adalah restrukturisasi kredit para pengembang dan konsumen KPR/KPA agar dapat dilaksanakan secepatnya,” ujar Wakil Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Theresia Rustandi, kepada Investor Daily, saat dihubungi dari Jakarta, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, pentingnya restrukturisasi dilakukan secepatnya mengingat data Bank Indonesia (BI) memperlihatkan bahwa kredit yang disalurkan ke properti cukup besar, yakni hampir 20% dari total kredit yang disalurkan perbankan. Kredit itu mencakup kredit konstruksi dan modal kerja ke pengembang maupun KPR/KPA ke konsumen. “Jadi kalau macet 5% saja bisa berdampak besar ke perekonomian,” paparnya.

Menurut Theresia, komposisi kredit ke pengembang dan konsumen hampir seimbang. Jika salah satu porsi kredit ini terganggu, pendanaan pengembang pasti terpukul. “Dan, jangan lupa pendanaan ke konsumen itu sangat secure untuk bank karena ada aset yang jelas. Lalu, jika asetnya belum ada, tersedia opsi buyback guarantee dari pengembang,” tuturnya.

Sekarang ini, tambah dia, KPR/KPA sudah mulai banyak yang mengalami kemacetan karena penghasilan konsumen yang terganggu akibat PHK, potong gaji, dan dirumahkan. Bank mulai minta buyback kepada pengembang.

Di sisi lain, urai Theresia, kalau kita ambil contoh kredit modal kerja saja itu banyak yang merupakan utang jangka pendek yang perlu penanganan secara cepat. Sebesar 24% kredit modal kerja perusahaan properti itu utang jangka pendek. Nilainya sekitar Rp 12,5 triliun.  “Oleh sebab itu penting sekali untuk menjalankan secara cepat restrukturisasi hutang baik untuk para pengembang dan konsumen karena jika industri properti terus bergerak, maka multiplier effect dari stimulus restrukturisasi tersebut dapat menggerakkan industri ikutan properti secara signifikan, bisa menyelamatkan 30 juta tenaga kerja yang ada di dalam industri properti dan industri ikutannya serta meredam dampak sistemik jika terjadi NPL di perbankan akibat kredit properti,” papar dia.

Menurut Theresia, jika pemerintah memiliki kesamaaan dalam memandang sektor properti sebagai salah satu lokomotif perekonomian negara dan jika bisa dioptimalkan semaksimal mungkin, sektor properti bisa menggerakkan perekonomian secara efektif. Properti bergerak, 175 industri ikutan bergerak dan menyelamatkan 30 juta tenaga kerja. Perekonomian bergerak karena kandungan material lokal sektor properti hampir 100% dan bisa masuk ke pelosok-pelosok wilayah Indonesia dan menggerakkan perekonomian lokal di sana. “Pekerja properti perlu warung untuk makan dan minum serta kontrakan untuk tempat tinggal. Jadi bisa bergerak semua. Karena itu, kebijakan restrukturisasi yang paling utama harus dilakukan sekarang ini untuk sektor properti,” tegas Theresia. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN