Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana di dalam kabin pesawat

Suasana di dalam kabin pesawat

Okupansi Hotel Bali dan Surabaya Turun

Imam Mudzakir, Senin, 8 Juli 2019 | 13:05 WIB

 

Jakarta, investor.id - Konsultan properti Colliers International Indonesia menyatakan bahwa mahalnya harga tiket pesawat terbang berdampak langsung terhadap tingkat okupansi hotel di Surabaya dan Bali pada kuartal II-2019. Di Bali, tingkat hunian turun 2%.

“Harga tiket pesawat yang tinggi itu ternyata ikut  mempengaruhi okupansi hotel Surabaya dan Bali,” kata Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto,  di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Ferry, market hotel di Surabaya dan Bali masih tergantung oleh kunjungan wisatawan dan perjalanan bisnis dari wilayah lain yang melewati bandara. Ketika harga tikat masih tinggi langsung sejumlah hotel alami penurunan okupansi.

Berdasarkan data Colliers, untuk Bali ada penurunan tingkat hunian sebesar 2% atau menjadi 62,7% dari total hotel yang ada di Bali. Penurunan ini juga berkaitan dengan penurunan jumlah wisatawan domestik imbas mahalnya harga tiket pesawat. Penurunan jumlah penumpang domestik terjadi diseluruh bandara utama. Penurunan paling besar ada di Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali dengan penurunan sebesar 20,57%.

Menurut Ferry, ada beberapa alasan mengapa harga tiket pesawat begitu berpengaruh terhadap keterisian hotel di Bali dan Surabaya. Di kedua wilayah tersebut,tingkat keterisian hotel sangat dipengaruhi oleh jumlah wisatawan yang datang.

Berbeda dengan okupansi hotel di Jakarta. Pada hotel yang ada di Jakarta sudah memiliki pasarnya sendiri karena kebanyakan konsumen hotelnya tinggal di daerah Jabodetabek. Sedangkan Bali dan Surabaya masih ketergantungan dari kunjungan domestik. “Ditambah lagi ada agenda politik dan Ramadan banyak kegiatan bisnis dan wisata ditunda membuat hotel kedua wilayah ini mengalmi penurunan tajam,” katanya.

Karena itu, kata Ferry, perlu adanya penyesuaian harga tiket domestik untuk mengembalikan turis domestik dan perlunya aturan untuk membuat aman dan nyaman para wisatawan dan para pelaku industri wisata di Bali.

Pada kesempatan itu Ferry juga menmabahkan bahwa, dampak pemilu dan pilpres 2019 tidak berdampak terhadap okupansi hotel di Jakarta dan juga Surabaya. “Tidak terlihat secara signifikan kegiatan politik di hotel, sehingga agenda lima tahunan ini tidak berdampak peningkatan okupansi hotel,” katanya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA