Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana perumahan sederhana di pinggir sawah di Parung Panjang, Jawa Barat, belum lama ini. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Suasana perumahan sederhana di pinggir sawah di Parung Panjang, Jawa Barat, belum lama ini. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pandemi Covid-19 Tak Surutkan Minat Masyarakat Miliki Rumah

Selasa, 8 Juni 2021 | 18:11 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Pandemi Covid-19 yang belum hilang, tak menyurutkan minat masyarakat untuk membeli rumah. Karena rumah merupakan menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.

Apalagi, kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih tetap tinggi. Hal ini juga didukung oleh pemerintah dengan berbagai kemudahan.

“Pandemi ini tidak mempengaruhi masyarakat untuk menunda membeli rumah. Justru pada saat pandemi ini, masyarakat berbondong-bondong membeli rumah, terutama untuk rumah subsidi. Antusias masyarakat masih tinggi,” kata Direktur Consumer and Commercial Landing Bank BTN Hirwandi Gafar, baru-baru ini.

Menurut Hirwandi, tingginya permintaan untuk memiliki rumah MBR terjadi di hampir semua daerah di Indonesia. Bahkan, dana subsidi belum cukup untuk memenuhi permintaan masyarakat yang ingin punya rumah.

“Saat Pandemi Covid-19 ini, banyak orang yang bekerja di rumah. Dibandingkan harus membayar uang kontrakan, lebih baik membeli rumah. Tentu lebih nyaman kalau uang kontrakan itu untuk mencicil rumah sendiri,” ujar Irwandi.

Hirwandi mengungkapkan, BTN bekerja sama dengan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) untuk mewujudkan impian masyarakat, terutama bagi aparatur sipil negara (ASN) yang belum memiliki rumah, ataupun mau memperbaiki rumahnya.

BTN sendiri menawarkan bunga terjangkau bagi ASN melalui Tapera yang ingin memiliki rumah pertama, dengan jangka waktu hingga 30 tahun.

KPR Tapera BTN menawarkan tiga skema pembiayaan sesuai kelompok penghasilan. Untuk kelompok Penghasilan I dengan penghasilan di bawah Rp 4 juta akan mendapatkan suku bunga KPR sebesar 5% fixed rate dengan tenor sampai 30 tahun.

Pada kelompok penghasilan II dengan penghasilan berkisar Rp 4-6 juta, dikenakan bunga KPR 6% fixed rate dengan tenor sampai 20 tahun. Kemudian, untuk kelompok penghasilan III dengan penghasilan Rp 6-8 juta dapat mengakses KPR dengan bunga 7% fixed rate dengan tenor sampai 20 tahun.

Adapun, untuk dapat mengakses KPR Tapera BTN, masyarakat diwajibkan untuk memenuhi ketentuan dan persyaratan untuk mendapatkan Pembiayaan Tapera seperti Peserta masuk kedalam golongan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), belum memiliki rumah, serta menjadi peserta Tapera aktif dan lancar membayar simpanan peserta selama 12 bulan.

Harga rumah yang dapat dimiliki peserta aktif Tapera beragam, mulai dari Rp 112 juta hingga Rp 292 juta.

Menurut Hirwandi, manfaat yang diberikan BP Tapera bukan hanya untuk membeli rumah. Namun juga bisa untuk membangun rumah sendiri bagi yang sudah memiliki tanah bersertifikat atau ingin merenovasi rumahnya.

Dengan berkolaborasi bersama BP Tapera, Hirwandi mengungkapkan, jika 11.000 unit rumah bagi peserta BP Tapera bisa disalurkan, total pembiayaannya mencapai Rp 1,7-2 triliun.

Sedangkan tahun ini, target dari BP Tapera bisa menyalurkan manfaat pembiayaan rumah sekitar 51.000 unit, sehingga total pembiayaan yang bisa disalurkan BTN dalam KPR Tapera sekitar Rp 7 triliun.

“Kami berharap 51.000 unit itu akan menggandeng BTN bersama mitra pengembang baik dari Apersi, REI maupun Himpera,” kata Hirwandi.

Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat bahwa penyaluran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sampai awal Juni 2021 sudah mencapai 46,94%.

“Penyaluran dana FLPP ini telah mencapai 46,94% dari target yang ditetapkan oleh pemerintah sebanyak 157.500 unit,” kata Direktur Utama PPDPP Arief Sabaruddin.

PPDPP telah menyalurkan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sejak awal tahun hingga 4 Juni 2021 sebanyak 73.931 unit dengan nilai Rp 8,04 triliun.

Penyaluran dana FLPP tahun 2021 didistribusikan oleh 40 bank pelaksana yang terdiri dari 9 bank nasional dan 31 bank pembangunan daerah (BPD).

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN