Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana sebuah pusat perbelanjaan di kawasan bisnis Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Suasana sebuah pusat perbelanjaan di kawasan bisnis Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Pasar Ritel Masih Bergejolak Sampai Akhir Tahun

Kamis, 15 Oktober 2020 | 06:51 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Meski Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi diberlakukan kembali oleh Pemprov DKI Jakarta hingga 25 Oktober 2020, kondisi sektor ritel diperkirakan masih bergejolak di kuartal terakhir tahun 2020 ini, dan ada kemungkinan resesi.

Senior Associate Director Retail Services, Colliers International, Sander Halsema mengatakan, resesi jelas tidak memberi dampak terlalu positif untuk kepercayaan konsumen. Konsumen cenderung akan memperketat prioritas dan mengurangi pengeluaran mereka secara keseluruhan. Hal ini tentu saja berdampak negatif pada pasar ritel.

“Pandangan yang tidak pasti mengenai pandemi Covid-19 telah menyebabkan penjualan ritel menurun, dan resesi kemungkinan besar akan semakin mempercepat penurunan ini,” kata Sander Halsema, dalam siaran pers, Kamis (15/10).

Menurut dia, meskipun tidak setiap konsumen memiliki respon dan kebiasaan belanja yang sama, namun penting bagi retailer untuk memahami pelanggan mereka dan terus terlibat dengan mereka agar tetap relevan ketika keadaan membaik.

“Kami melihat dan memahami bahwa pemerintah memberikan ijin kepada para pelaku bisnis untuk beroperasi kembali dalam masa PSBB transisi ini dengan tujuan untuk membantu pemulihan ekonomi, selama mereka tetap mengikuti dan mematuhi aturan dan regulasi yang berlaku,” ujarnya.

Dibukanya kembali pusat perbelanjaan, restoran dan toko-toko ritel lainnya untuk umum merupakan perkembangan positif, meskipun tetap ada pembatasan pengunjung sebesar 50% dari total kapasitas.

Sedangkan untuk tingkat kunjungan, tidak tampak adanya peningkatan yang signi´Čükan untuk beberapa waktu, karena meskipun sekarang pusat perbelanjaan sudah dibuka kembali, kebanyakan orang masih memiliki keraguan untuk keluar mengunjungi tempat umum dan tetap berhati-hati dengan situasi yang terjadi saat ini.

“Ada sedikit peningkatan dalam aktivitas ke mal-mal besar, mirip seperti yang terjadi saat PSBB transisi pertama, tetapi Colliers memperkirakan peningkatan ini akan terjadi secara bertahap dari waktu ke waktu,” katanya.

Penyewa

Terlihat jelas bahwa retailer menjadi lebih konservatif dalam strategi ekspansi, banyak dari retailer yang mengalihkan fokus mereka dari mal ke pertokoan ruang ritel di sisi jalan atau stand-alone. Retailer terlihat melirik pertokoan ruang ritel di sisi jalan atau stand-alone sebagai bagian dari strategi ekspansi mereka karena toko-toko tersebut mungkin masih memiliki potensi untuk tetap beroperasi ketika mal diharuskan untuk tutup.

“Kami melihat akan adanya perubahan pada desain toko untuk membuat toko agar lebih sesuai dengan penjualan daring (e-commerce),” jelasnya.

Operator F&B dan waralaba kopi akan semakin membutuhkan bangunan sendiri (bukan di dalam mall) untuk drivethru dan ruang yang cukup bagi pengemudi ojek daring untuk mengambil pesanan, sehingga tidak mengganggu kegiatan operasional reguler.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN