Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
pembangunan rumah

pembangunan rumah

Peluang Hunian Milenial Sangat Besar

Edo Rusyanto, Senin, 13 Mei 2019 | 14:22 WIB

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membeberkan bahwa peluang bisnis hunian bagi milenial amat besar. Dari sekitar 81 juta penduduk usia milenial, setidaknya terdapat kebutuhan apartemen atau rumah susun (rusun) tipe 45 mencapai sekitar 12,24 juta unit.

Dari sisi kapitalisasi pasar, segmen apartemen ditaksir menyentuh angka sekitar Rp 20 triliun pada 2019. Di sisi lain, kapitalisasi pasar hunian tapak diprediksi sekitar Rp 80 triliun.

Demikian rangkuman pendapat Sekretaris Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Dadang Rukmana, Wakil Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Hari Ganie, Content Manager Rumah.com Boy Leonard Pasaribu, dan pengamat bisnis properti Panangian Simanungkalit. Mereka diwawancarai terpisah dari Jakarta, baru-baru ini.

Potensi milenial untuk pasar properti sangat besar, karena merupakan mayoritas penduduk dengan penghasilan yang memadai, dan umur produktif yang panjang,” ujar Hari Ganie.

Dia menambahkan, tipe hunian diminati kalangan milenial adalah yang relatif berdekatan dengan pusat aktivitas.

Menurut Dadang, pertumbuhan populasi generasi milenial yang lahir 1980-2000, mendorong meningkatnya kebutuhan akan perumahan yang layak huni berkualitas dan terjangkau pada masa mendatang. Untuk itu, Kementerian PUPR membagi milenial ke dalam tiga kelompok. Ketiga kelompok tadi memiliki karakter kebutuhan hunian yang berbeda. Pertama, milenial awal, yakni rentang usia 20-24 tahun yang jumlahnya mencapai sekitar 13,2 juta jiwa atau sekitar 21%. Kelompok ini membutuhkan hunian rusun tipe 24.

Lalu, milenial berkembang, yakni 25-29 tahun. “Jumlahnya sekitar 12,96 juta jiwa atau 20,16% yang membutuhkan rusun tipe 36,” kata dia.

Ketiga, milenial maju, yakni rentang usia 30-34 tahun (19,44%). Kelompok ini mencapai sekitar 12,24 juta jiwa. “Milenial maju membutuhkan hunian rusun tipe 45,” jelas Dadang.

Konsep TOD

Menurut Hari Ganie, saat ini, tantangan bagi para developer adalah bagaimana menangkap peluang pasar dan menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan bagi para milenial tersebut. “TOD (transit oriented development) sebagai salah satu produk yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup milenial,” ujarnya.

Dia mengatakan, pendekatan pengembangan TOD sebagai salah satu jawaban untuk hunian di pusat perkotaan. Dalam implementasinya harus direncanakan dengan baik, dari sisi teknis planning, infrastruktur, dan finansial serta kelambagaan.

“Dengan terbentuknya TOD akan menciptakan kawasan mixed use development yang terintegrasi antara hunian, pusat kegiatan dan transportasi umum. Anggota REI berkompeten mengembangkan TOD,” kata dia.

Sekalipun demikian, tambah Hari Ganie, perwujudan konsep TOD harusnya menekankan pada pengembangan urban development. Ada inti dan plasma. “Perlu dukungan berupa regulasi dan pembebasan tanahnya. Kini, regulasi yang komprehensif baru ada di Jakarta yang sudah siap. Pemerintah daerah di sekitar Jakarta belum siap,” ujarnya.

Bagi Dadang, defenisi TOD adalah pembangunan yang berorientasi pada simpul-simpul transportasi. Di Indonesia, kalau menurut kriteria yang ada, kondisinya masih sangat jauh. ”Pemerintah sudah mulai dengan istilah pembangunan rusun terintegrasi stasiun. Ini yang baru bisa dilakukan. Ini langkah awal, daripada sebatas berwacana,” tegasnya.

Sementara itu, menurut Boy, sekitar 65% responden milenial mengaku berminat terhadap hunian apartemen. Walau, paling banyak menjawab terkait hunian tapak yakni sekitar 99%. “Dari sisi harga, properti yang diincar mayoritas responden adalah di bawah Rp 750 juta,” ujar Boy.

Dari sisi pembelian, tambah dia, mayoritas yakni 39% memilih kredit pemilikan rumah (KPR). Lalu, cicilan kepada pengembang (30%), tunai (28%), dan cicilan non bank (3%). “Milenial memilih pola pembayaran mencicil ke developer karena syaratnya tidak ribet dan ada diskon,” kata dia.

Boy mengatakan, masyarakat lebih memilih membayar uang muka (down payment/DP) yang tinggi ketimbang jangka waktu cicilan yang panjang.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN