Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana sejumlah jalan protokol di Jakarta yang tergenang air dan sempat melumpuhkan moda transportasi, Rabu (1/1/2020). Di awal 2020, kawasan Jabodetabek seharian diguyur hujan yang mengakibatkan ruas jalan dan pemukiman penduduk banjir. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Suasana sejumlah jalan protokol di Jakarta yang tergenang air dan sempat melumpuhkan moda transportasi, Rabu (1/1/2020). Di awal 2020, kawasan Jabodetabek seharian diguyur hujan yang mengakibatkan ruas jalan dan pemukiman penduduk banjir. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Saat Banjir Menyerbu Hunian di Jabodetabek

Edo Rusyanto, Minggu, 5 Januari 2020 | 10:07 WIB

MEMASUKI tahun 2020, kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) digeruduk banjir. Curah hujan yang tinggi membuat air bergemuruh di sungai, merendam pemukiman, menghanyutkan kendaraan bermotor, dan merenggut korban jiwa. Hunian yang diserbu air berwarna kecoklatan tak semata merangsek hunian masyarakat biasa, rumah-rumah mewah pun ikut kecipratan.

Ya Banjir mendera Jabodetabek pada 1 dan 2 Januari 2020. Jakarta yang memiliki 13 sungai harus rela mendapat kiriman air dari wilayah di sekitarnya, terutama Sungai Ciliwung yang membentang dari Bogor ke Jakarta.

Sejumlah pemukiman yang menjadi langganan banjir di Jakarta dan sekitarnya pun dibuat pontang-panting. Kita lihat bagaimana banjir bandang menghanyutkan mobil-mobil yang terparkir. Mirip tsunami.

“Korban bertambah menjadi 43 jiwa menurut data hingga Jumat (3/1/2020), pukul 09.00 WIB. Korban terbanyak akibat terseret arus banjir dan tertimbun tanah longsor,” kata dia dikutip dari portal resmi BNPB, seperti dilansir Antara, Jumat (3/1/2020).

Bandara Halim Perdana Kusumah kebanjiran. Sumber: BSTV
Bandara Halim Perdana Kusumah kebanjiran. Sumber: BSTV

Pusat ekonomi pun dibikin kerepotan. Bahkan, Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur sempat terhenti, Rabu (1/1/2020) karena run way bandara tergenang air dan penerbangan sempat dipindahkan ke Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Pusat kulakan seperti Pasar Cipulir di Jakarta Selatan yang memang kerap menjadi langganan banjir, praktis setop operasi. Aktifitas perdagangan terhenti.  ““Kerugian karena banjir bisa dibilang paling parah ada di ritel, karena aktivitas penjualan menjadi sangat terganggu karena banjir,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani saat dihubungi Antara, di Jakarta, Jumat (3/1/2020).

Menurut dia, banyak pusat ritel yang aksesnya tertutup karena banjir, sehingga baik dari penjual maupun pengunjung tidak dapat melakukan kegiatan perekonomian sebagaimana kondisi normal.

“Ditambah agi bila banjir sampai masuk ke pusat perbelanjaan,” kata Shinta.

Shinta Kamdani. Foto: IST
Shinta Kamdani. Foto: IST

Tak hanya itu. Sejumlah kantor perbankan sempat tidak beroperasi karena pertimbangan keamanan, kenyamanan, dan keselamatan. Setidaknya 20 kantor bank, mulai dari level kantor kas hinggan kantor cabang di sejumlah titik di Jabodetabek tidak beroperasi.

“Sehubungan dengan bencana banjir yang melanda Jabodetabek pada 2 Januari 2020, ada beberapa Cabang Bank Victoria yang saat ini tidak dapat digunakan untuk keperluan transaksi perbankan,” jelas Lidwina Dian Pratiwi, sekretaris perusahaan PT Bank Victoria International Tbk, dalam surat keterbukaan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/1/2020).

Harga Properti

Panangian Simanungkalit. Foto: sp.beritasatu.com
Panangian Simanungkalit. Foto: sp.beritasatu.com

Sementara itu, pengamat menilai bahwa harga properti di kawasan yang terkena banjir bakal terkoreksi sekalipun masih mampu bertumbuh. Di sisi lain, kepatuhan para pengembang property terhadap ketentuan analisis dampak lingkungan (amdal) dinilai mulai perlu peningkatan pengawasan di lapangan.

“Terjadinya banjir pasti memangkas harga walaupun tidak bersifat permanen. Di lokasi-lokasi yang semakin baik pengendalian banjirnya, harga propertinya tetap tumbuh, walaupun melambat terutama pada saat musim banjir,” papar Panangian Simanungkalit, pengamat bisnis properti, kepada Investor Daily, saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (2/1/2020).

Dia menegaskan, saat terjadi banjir, harganya pasti tertahan, tidak tumbuh. Bahkan, kadangkala bisa turun terutama bila saat pasar properti sedang berada di bawah seperti saat ini. “Tapi kalau pasar properti sedang tumbuh seperti tahun 2012 sampai dengan 2013, meskipun saat itu ada banjir, kenaikan harga di lokasi-lokasi yang terkena banjir masih tumbuh berkisar 10-15% per tahun,” ujar Panangian.

Contohnya, tambah dia, lihat saja properti di kawasan Kelapa Gadig (Jakarta), Bekasi, dan Tangerang. Pada saat booming property, walaupun ada banjir harganya tetap naik.

“Jadi banjir berdampak negatif hanya pada saat-saat tertentu ketika pasar sedang melemah, lalu terjadi banjir,” tegas dia.

Dia mengatakan, hal yang menarik adalah lokasi-lokasi yang berdekatan dengan wilayah banjir, tetapi saat banjir tidak terkena luapan air, justru malah akan semakin diminati oleh konsumen. Harganya malah bisa terdongkrak naik setelah banjirnya usai. “Ini terlihat di pasar sekunder seperti misalnya di kawasan permukiman wilayah Tebet, Kebayoran, dan Menteng,” ujar Panangian.

Pertumbuhan Lambat

Banjir di Ciledug Indah, Tangerang, menghanyutkan sejumlah mobil. Sumber: BSTV
Banjir di Ciledug Indah, Tangerang, menghanyutkan sejumlah mobil. Sumber: BSTV

Sementara itu, ujar Panangian, masalah banjir adalah kombinasi dari berbagai variable yang saling berkaitan dan memengaruhi satu dengan lainnya. Variabel itu di antaranya adalah budaya membuang sampah di sungai secara sembarangan. Lalu, pengendalian perizinan dan pengawasan lapangan atas pengembangan lahan yang sangat lemah khususnya di lokasi-lokasi rawan banjir.

Selain itu, program penanggulan banjir oleh pemerintah daerah (pemda) dan pemerintah kota (pemkot) yang setengah-setengah dan tidak pernah tuntas

“Ketiga faktor itulah yang dominan sebagai penyebab banjir yang selalu berulang di Jabodetabek selama ini,” tukas dia.

Menurut Panangian, bencana banjir juga berhubungan dengan perizinan tentang amdal. “(ketaatan pengembang terhadap amdal) sepertinya sudah lebih baik dari pada sebelum-sebelumnya,” tuturnya.

Bagi pengamat properti Indonesia Property Wacth (IPW) Ali Tranghanda, secara umum, kepatuhan pengembang terhadap amdal sudah taat. “Kepatuhan itu masih formalitas. Butuh penguatan pengawasan di lapangan,” sergah dia, saat dihubungi Investor Daily, dari Jakarta, Kamis (2/1/2020).

Jumlah RW di Jakarta yang terdampak banjir, data Rabu (1/1/2020). Sumber: Pemprov DKI
Jumlah RW di Jakarta yang terdampak banjir, data Rabu (1/1/2020). Sumber: Pemprov DKI

Dia menilai, ketentuan amdal sangat bagus bagi pengembangan suatu kawasan. Untuk itu perlu diimbangi dengan pengawasan yang cukup kuat. Untuk proyek dengan luas satu hektare ke atas, mutlak ada amdal-nya.

“Biasanya pengembang sudah menerapkan amdal di kawasan yang dibangunnya. Persoalannya, tinggal bagaimana menyinergikannya dengan sistem tata kota yang bersangkutan. Misal, kalau soal jaringan air, maka harus dirajut dengan saluran air di kota tempat proyek berada,” ujarnya.

Menurut Arvin F Iskandar, ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta, ketaatan pada amdal bisa bisa ikut meredam banjir. “Tapi, tidak dapat menghindari banjir dengan curah hujan yang tinggi. Kami para pengembang harus taat aturan amdal,” ujar dia kepada Investor Daily, saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (3/1/2020).

Dia menjelaskan, selain taat pada ketentuan amdal, para pengembang juga ikut membersihkan saluran, bahkan ikut membuat pintu air yang dekat sungai, termasuk ikut menormalisasi sungai. Lalu, membuat penampungan waduk kecil di bawah tanah, melubangi tanah untuk resapan air, dan menyiapkan pompa.

Mengenai dampak banjir terhadap harga properti, kata Ali, tentu properti yang terkena banjir harganya akan terkoreksi. Pertumbuhan harga properti di kawasan yang terkena banjir lebih lambat dibandingkan properti yang tidak terkena banjir.

“Saya perkirakan pertumbuhan harga seperti di Bekasi berkisar 7-18% per tahun, sedangkan yang tidak terkena banjir bisa berkisar 12-15%,” papar dia.

Sebagaimana diberitakan, sepanjang 1-2 Desember 2019, Jakarta dan sekitarnya terkena banjir hebat setelah didera hujan lebat sehari semalam. Sejumlah lokasi seperti di Jatiasih (Bekasi) dan Ciledug (Tangerang Kota) menjadi pemukiman yang paling parah terkena banjir. Air menerjang pemukiman dan menghanyutkan harta benda seperti sepeda motor dan mobil.

Terkait banjir kali ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menyinggung mengenai normalisasi sungai usai dirinya meninjau banjir di beberapa titik banjir di Jakarta pada Kamis (2/1/2020).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Sumber: BSTV
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Sumber: BSTV

Menurut Anies, banjir tetap saja terjadi di daerah yang sudah dilakukan normalisasi seperti di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.

“Yang terkena banjir itu di berbagai wilayah. Jadi ini bukan sekadar soal yang belum kena normalisasi saja, nyatanya yang sudah ada normalisasi juga terkena banjir,” ujar dia, seperti dikutip dari Antara, Kamis (2/1/2020).

Anies menyebutkan banjir Jakarta harus diselesaikan secara lebih “nyata” dengan mengendalikan air dari daerah hulu, seperti membangun kolam-kolam pengontrol air.

“Pengendalian air di kawasan hulu dengan membangun dam, waduk, embung, sehingga ada kolamkolam retensi untuk mengontrol, mengendalikan, volume air yang bergerak ke arah hilir,” kata Anies.

Anies meyakini dengan cara seperti itu, masalah banjir Jakarta bisa diatasi. “Tapi itu semua kan kewenangannya di pusat ya. Jadi kita lihat nanti pemerintah pusat,” tuturnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN