Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sektor perumahan. Foto ilustrasi: IST

Sektor perumahan. Foto ilustrasi: IST

Sektor Perumahan Dorong Pemulihan Ekonomi

Imam Mudzakir, Senin, 29 Juni 2020 | 21:35 WIB

JAKARTA, investor.id - Sektor perumahan dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pemulihan ekonomi akibat dampak negatif Covid-19. Pasalnya, dampak peningkatan nilai tambah sektor perumahan sebesar 1% akan meningkatkan nilai tambah produk domestik bruto (PDB) secara kumulatif sebesar 9,53% pada akhir tahun kelima.

Presiden Direktur Centre for Banking Crisis Achmad Deni Daruri mengatakan, Covid-19 menciptakan krisis ekonomi karena aktivitas ekonomi dipaksa untuk berhenti. Namun demikian muncul aktivitas ekonomi yang tidak bisa dihentikan oleh Covid-19 seperti aktivitas bekerja dari rumah.

“Untuk itu perlu dibangun rumah-rumah baru agar masyarakat bukan saja mampu memiliki rumah tetapi juga dapat bekerja dari rumah,” ujar Deni, dalam siaran pers di Jakarta, Senin (29/6/2020).

Achmad Deni Daruri
Achmad Deni Daruri

Menurut Deni, untuk mengoptimalkan sektor perumahan, sisi penawaran harus diefektifkan dan diefisienkan secara optimal. Caranya adalah dengan meningkatkan skala ekonomis dan skala skope dari bank-bank yang mampu menyalurkan dana bagi sektor perumahan nasional. “Tidak semua bank dapat masuk dalam kategori ini. Satu-satunya bank yang masuk dalam definisi ini adalah Bank BTN,” paparnya.

Dia mengungkapkan, BTN merupakan satu-satunya bank yang memiliki skala ekonomi dan scope dalam memberikan pembiayaan sektor perumahan karena bisnis utamanya sangat fokus pada pembiayaan perumahan. Dalam konteks economics of scope memang tidak terlalu dominan, namun bank-bank lainnya juga tidak ada yang memilikinya.

“BTN harus diberikan porsi kemampuan dalam menyalurkan kredit perumahan yang lebih besar lagi, sehingga skala ekonominya menjadi semakin efisien yang pada gilirannya membuat biaya per unit rumah yang dibangun menjadi semakin murah,” ujar Deni.

Dia mencontohkan jika dana FLPP difokuskan pada BTN, maka efisiensi per unit rumah yang dibangun juga akan semakin murah ketimbang fasiltas ini juga diberikan kepada bank-bank lainnya. Pasalnya BTN memiliki keahlian dalam menyalurkan dana pembangunan rumah dibandingkan bank-bank lainnya.

Menurut dia, bagi pemerintah target pembangunan satu juta rumah juga dipastikan akan berjalan dengan baik karena BTN adalah bank yang memiliki spesialisasi dalam pembangunan perumahan. Untuk mencapai target itu selain memberikan seluruh fasiltas FLPP kepada BTN, pemerintah juga dapat memberikan insentif kepada variabel penentu Nilai Tambah Perumahan yang juga merupakan upaya paling efektif untuk meningkatkan nilai tambah sektor perumahan hingga lima tahun ke depan.

Deni memaparkan, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukannya, dampak netto peningkatan nilai tambah sektor perumahan sebesar 1% akan meningkatkan nilai tambah produk domestik bruto secara kumulatif sebesar 9,53% pada akhir tahun kelima. Dengan demikian sektor perumahan adalah sektor yang sangat strategis untuk membuat perekonomian Indonesia pulih.

“Dampak peningkatan nilai tambah pada sektor perumahan terhadap sektor pertanian, industri, listrik dan gas kota juga positif hingga lima tahun kedepan. Sehingga program pembangunan perumahan sangat cocok untuk membantu petani yang terpukul oleh krisis Covid-19 seperti petani tanaman pangan,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, dampak peningkatan nilai tambah pada sektor perumahan terhadap sektor komunikasi, perbankan, dan sektor keuangan non bank juga positif hingga lima tahun ke depan. Dengan demikian sangat sulit dicari sektor yang sangat strategis seperti perumahan. Apalagi dampak peningkatan nilai tambah pada sektor perumahan terhadap pengeluaran konsumsi juga positif hingga lima tahun ke depan.

“Sektor konsumsi adalah motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga jika sektor konsumsi kembali cepat pulih, maka perekonomian Indonesia juga dengan sendirinya akan cepat pulih,” jelasnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN