Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) bakal melakukan spin off (pemisahan) unit syariah

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) bakal melakukan spin off (pemisahan) unit syariah

Spin Off Unit Usaha Syariah BTN Dongkrak Pertumbuhan KPR

Imam Mudzakir, Minggu, 6 Oktober 2019 | 22:24 WIB

YOGYAKARTA, investor.id - Rencana PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) bakal melakukan spin off (pemisahan) unit syariah, yang diyakini bakal mendongkrak kinerja BTN dan juga pembiayaan perumahan.

“Rencana spin off unit usaha syariah (BTN Syariah) menjadi Badan Usaha Syariah (BUS) bisa kinerja bank yang fokus pada pembiayaan perumahan,” kata Direktur Consumer Banking Budi Satria, Jumat.

Budi mengungkapkan, selama ini kinerja unit usaha syariah (UUS) BTN sudah sangat baik, namun karena masih berupa unit usaha sehingga ruang untuk ekspansi sangat terbatas.

Untuk itu diharapkan dengan menjadi entitas bisnis yang berdiri sendiri ruang gerak BTN Syariah dalam mengembangkan bisnisnya ke depan akan semakin besar.

Menurut dia, ketika BTN Syariah sudah menjadi perseroan terbatas (PT) dalam hal kebutuhan pembiayaan maka banyak pilihan yang bisa diambil, salah satunya dengan melakukan go public atau penawaran umum saham perdana.

Selain itu, BTN Syariah juga bisa menerbitkan berbagai instrumen produk pasar modal seperti obligasi ataupun KIK EBA.

“BTN Syariah akan menjadi satu-satunya bank syariah dengan core bussinisnya sama dengan induknya, sehingga infrastrukturnya lengkap,” tegas Budi.

Direktur Keuangan & Treasury BTN Nixon LP Napitupulu mengaku, tahun depan rencana spin off UUS akan disampaikan ke OJK, setelah itu perseroan memiliki waktu hingga 2023 untuk segera merealisasikan aksi korporasi tersebut. Adapun untuk memuluskan spin off dibutuhkan dana sekitar Rp4,5 triliun sampai Rp5 triliun untuk modal BTN Syariah.

“Beberapa opsi sedang kami kaji untuk melakukan spin off antara lain mengakuisisi bank syariah lain, merger dengan bank BUMN syariah dan mendirikan anak usaha baru. Yang terpenting ada cangkangnya (wadah atau perusahaan) dulu sebagai tempat BTN syariah,” kata dia.

Sementara, Kepala Ekonom BTN Winang Budoyo menuturkan, relaksasi regulasi yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) terhadap sektor properti bisa menjadi momentum yang tepat bagi BTN untuk melakukan spin off unit syariahnya.

Pasalnya, terdapat hubungan positif antara penyaluran kredit perbankan ke sektor properti dengan pertumbuhan ekonomi sektor Real Estat. Terlihat bahwa relaksasi yang diberikan oleh BI dan OJK terhadap sektor perumahan berbuah pada terus meningkatnya pertumbuhan sektor Real Estat selama satu tahun terakhir yaitu dari 3,07% di kuartal II/2018 menjadi 5,74% di kuartal II/2019.

“Pertumbuhan ekonomi sektor Real Estate sudah melampaui pertumbuhan PDB sejak kuartal I/2019 yaitu 5,46% dan 5,74%di kuartal II/2019 (yoy). Namun karena sumbangan sektor ini ke PDB masih kecil, yaitu hanya2,8% terhadap PDB, maka tidak mempunyai daya dorong yang cukup untuk dapat mendongkrak pertumbuhan PDB  Indonesia,” jelas Winang.

Pengamat pasar modal Haryajid Ramelan menuturkan, instrumen syariah sangat dibutuhkan masyarakat di Indonesia. Adanya BTN Syariah yg masuk dalam core bisnis yang sama dengan induknya dengan cara syar'i menjadikan masyarakat tidak lagi berpindah bank.

“Besarnya masyarakat muslim yg mulai hijrah ke instrumen syariah memberikan peluang besar bagi BTN Syariah,” katanya.

Menurut Haryajid, lesunya pasar properti saat ini dengan pembiayaan konvensional tentu akan bagus jika dilakukan pembiayaan secara syariah. Banyaknya yang beralihnya dari instrumen konvensional ke instrumen syariah  menjadi ceruk tersendiri bagi BTN Syariah.

“Pembiayaan syariah maupun penyimpanan secara syariah menunjukkan tren peningkatan, tentu hal ini tak akan disia-siakan oleh BTN yang selain selama ini bermain di sektor properti dan juga demand yang masih besar,” katanya.

Sementara mengenai berbagai aksi korporasi yang akan dilakukan BTN, menurut Haryajid membuat saham BTN tersebut layak untuk dikoleksi dalam jangka panjang.

“Aksi korporasi ini tentu membuat kinerja BTN semakin baik, sehingga investor akan tertarik untuk bisa mengoleksi saham BBTN,” katanya.

Hingga akhir Juni 2019, BTN Syariah mencatatkan pertumbuhan aset di level 19,67% (yoy) menjadi Rp29,17 triliun. Kenaikan aset tersebut disokong peningkatan pembiayaan sebesar 16,54% (yoy) menjadi Rp23,16 triliun per Juni 2019.

Sedangkan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 18,15% (yoy) menjadi Rp23,03 triliun pada akhir Juni 2019. Dengan capaian kinerja tersebut, per Juni 2019, BTN Syariah meraup laba senilai Rp105,23 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA