Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa.

Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa.

Dominasi Dolar AS dan Ketidakadilan Sistem Keuangan

Minggu, 19 September 2021 | 09:47 WIB
Oleh Hasan Zein Mahmud

Investor.id - Genap 50 tahun sejak presiden Nixon resmi menghentikan standard emas dalam penerbitan mata uang. Kesepakatan Bretton Wood yang selama hampir 30 tahun membuat stabilitas keuangan global, rontok dan runtuh.

Itu prestasi terbesar Nixon buat Amerika. Betapa tidak? Tidak ada lagi kendala dalam mencetak greenback. Tidak ada lagi gangguan ketika pemegang USD mengajukan klaim untuk menukarkan dolarnya dengan emas. Selain menjadi alat pembayaran internasional, USD – dan USD denominated assets - sejak itu menjadi asset devisa yang lebih likuid ketimbang emas.

Sejak itu, bank sentral dengan sangat leluasa mencetak duit. Pemerintah dengan leluasa membuat defisit fiskal yang makin lama makin besar. Tak jadi persoalan benar bagi Negara yang mata uangnya diterima luas di senatero dunia.

Kebijakan yang banyak sekali ditiru oleh Negara negara lain di luar Amerika. Terutama Negara berkembang. Tentu dengan konsekuensi ekonomis yang jauh berbeda. Mata uang mereka tidak diterima dalam penyelesaian transaksi internasional.

Tidak ada Negara yang menyimpan mata uang mereka sebagai cadangan devisa. Hiperinflasi, stagflasi terjadi berulang ulang di banyak Negara berkembang. Redominasi mata uang menjadi kegiatan nyaris rutin di Zimbabwe, Argentina, dan beberapa lainnya.

Yang hebat, sektor keuangan, terutama bursa saham, sangat gemar terhadap “balon balon ekonomi” semacam itu. Harga saham selalu berreaksi positif terhadap stimulus, quantitative easing, deficit fiskal yang besar, dan semacamnya.

Sudah saatnya ketidak-adilan ekonomi global itu direvisi. Ketergantungan global terhadap USD harus segera dihentikan. Akumluasi cadangan devisa Negara dalam USD denominated perlu dicarikan substitusi. Perlu sistim yang mampu memitigasi dampak negatif dari kebijakan moneter dan fiskal Amerika terhadap pasar keuangan dan ekonomi global.

Dunia harus menciptakan tata ekonomi yang lebih berkeadilan. Teriakan tentang kesetaraan hak azazi manusia, adalah omong kosong tanpa kesetaraan dalam perlakuan di bidang ekonomi.

*** Hasan Zein Mahmud, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, mentor Komunitas Investa.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN