Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Komunitas Perempuan Indonesia Maju (PIM) saat kampanye

Komunitas Perempuan Indonesia Maju (PIM) saat kampanye "Bali I Miss U", sebagai kontribusi untuk membangkitkan pariwisata Bali/IST.

Fenomena Digital Nomad dan Wisata Outdoor

Jumat, 12 November 2021 | 07:50 WIB
Oleh Lana T Koentjoro

Investor.id - "Kecerdasan adalah kemampuan beradaptasi terhadap perubahan." - Stephen Hawking. Kata bijak dari fisikawan genius yang melahirkan Big Bang Theory itu menjadi sangat relevan saat ini ketika terjadi perubahan besar di segala bidang seiring dengan hadirnya era internet.

Internet telah mengubah peradaban dunia, dari gaya hidup hingga melakukan berbagai aktivitas. Pandemi virus corona (Covid-19) membuat revolusi digital semakin masif, media sosial dan platform digital yang menawarkan berbagai kemudahan tumbuh subur.

Media sosial telah menjadi panggung untuk eksistensi diri. Hal inilah yang menyebabkan wisata outdoor tumbuh subur, menjadi "buruan" masyarakat karena ingin mengupload kegiatannya dengan foto pemandangan yang instagramable.

Bersyukur, kasus Covid-19 di Indonesia melandai sehingga sejumlah tempat wisata outdoor bisa dibuka kembali, meski dengan protokol kesehatan yang ketat. Sektor pariwisata yang tertekan berat akibat pandemi Covid-19, kini mulai menggeliat .

Menurut data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sepanjang tahun 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia hanya sekitar 4,052 juta orang, atau hanya sekitar 25% dari jumlah wisatawan yang masuk ke Indonesia pada 2019.

Kita berharap, melandainya kasus Covid-19 bisa menjadi titik balik dari bangkitnya sektor pariwisata sehingga bisa menjadi sumber penerimaan devisa negara yang mumpuni. Dari outlook devisa sektor pariwisata tahun 2022, berada di kisaran US$ 470 juta hingga US$ 1,7 miliar, atau naik dari prediksi tahun 2021. 

Memang tidaklah mudah untuk membangkitkan sektor pariwisata ketika pandemi Covid-19 belum hilang dari bumi ini. Berbagai langkah untuk menyelamatkan sektor ini telah dilakukan, antara lain dengan penerapan protokol CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability) di tempat wisata, serta mendukung optimalisasi kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di Indonesia.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga menyiapkan langkah terakhir untuk fase Normalisasi, yaitu persiapan destinasi dengan protokol CHSE, meningkatkan minat pasar, hingga diskon untuk paket wisata dan MICE. Salah satu program yang telah dilaksanakan adalah Virtual Travel Fair sejak bulan Agustus-September 2020.

Fenomena Digital Nomad

Hal yang menarik adalah adanya fenomena digital nomad. Para digital nomaden ini adalah mereka yang membangun gaya dan kultur kerja sembari berlibur. Juga punya pertalian dengan sistem remote working yang semakin luas diadopsi. Kerja jarak jauh. Kerja yang tak harus ngantor, meski punya kantor.

Hasil kajian lembaga World Economic Forum menyebut, remote working merupakan satu dari sepuluh tren teknologi yang diadopsi sebagai respons resiliensi umat manusia terhadap krisis Covid-19.

Workcation ala digital nomaden dan remote working yang menjamur diadopsi di tengah pandemi adalah konsekuensi logis dari digitalisasi yang merambah ke berbagai spektrum kehidupan. Laporan anyar LinkedIn bahkan menempatkan lima dari sepuluh bidang pekerjaan dengan pertumbuhan tertinggi, merupakan pekerjaan yang dapat dilakoni secara remote. Baik penuh waktu maupun paruh waktu.

Di Indonesia, gaya hidup ala digital nomad juga makin meluas. Pulau Bali yang mengandalkan pariwisata sebagai sumber utama pendapatan masyarakat cepat tanggap terhadap fenomena ini. Perubahan telah membawa masyarakat Bali menjadi lebih kreatif untuk menjawab tantangan di masa pandemi dengan fenomena digital nomad.

Salah satu contohnya adalah Dojo Bali yang menyulap sebuah resor menjadi kantor modern yang trendi. Ruangnya terbuka, dengan serangkaian meja bersama, dua ruang konferensi, tiga bilik privat untuk Skype, sebuah kafe dan kolam renang, menjadi tempat kerja yang nyaman sekaligus bersantai untuk liburan.

Hasilnya, banyak turis berdatangan dari Asutralia, Amerikan, Inggris, Jerman, hingga orang-orang Indonesiapun banyak yang melakukan gaya hidup serupa. Bekerja, mengendalikan bisnis dari jarak jauh dengan bantuan internet menjadi gaya hidup baru di masyarakat. Tren workcation cukup membantu di tengah lesunya pariwisata akibat pandemi.

Kita berharap, banyak tempat-tempat wisata juga berbenah, mebuat langkah-langkah kreatif untuk menyiasati kondisi saat ini. Para digital nomad kini diincar banyak negara, sebab rata-rata kunjungan wisatawan yang surut ke titik terendah.

Perempuan Indonesia Maju (PIM) mempunyai kepedulian besar untuk menghidupkan kembali pariwisata dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. PIM sangat mendukung fenomena work from Bali, dan berharap pariwisata di Pulau Dewata yang selama ini menjadi mata pencaharian utama penduduknya, bangkit kembali.

Ketika pariwisata berada pada titik yang memprihatinkan, PIM bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 18 September 2020 menyelenggarakan "Gerakan Sejuta Wisatawan Goes to Bali". Ini merupakan bagian dari program "Bali I Miss U" dengan tujuan untuk memulihkan ekonomi Bali, dan wisata Indonesia secara keseluruhan.

Sejatinya, sektor pariwisata adalah alat yang ampuh untuk meningkatkan pendapatan sekaligus pemerataan ekonomi. Sebab, tumbuhnya sektor pariwisata menciptakan multiplier effect cukup besar bagi tumbuhnya ekonomi perdesaan. Ketika pariwisata bangkit, bisnis ikutannya akan menggeliat, seperti bisnis souvenir, kuliner, hotel, kesenian, dan lainnya.

Pandemi banyak memberi pelajaran agar manusia lebih adaptif dan kreatif terhadap berbagai perubahan. Fenoma digital nomad semestinya menjadi peluang untuk kembali membangkitkan sektor pariwisata, terlebih lagi Indonesia yang dikaruniai keindahan alam luar biasa. Indonesia pasti bisa.

*** Lana T Koentjoro, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Socialpreneurship

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN