Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Analis teknikal, Joe Lee (kiri), dan Ketua LP3M Investa Hari Prabowo ketika memberikan edukasi tentang potensi window dressing kepada komunitas Investa.

Analis teknikal, Joe Lee (kiri), dan Ketua LP3M Investa Hari Prabowo ketika memberikan edukasi tentang potensi window dressing kepada komunitas Investa.

Jangan Panik Sikapi Gejolak Pasar Saham

Senin, 29 November 2021 | 08:01 WIB
Oleh Hari Prabowo

JAKARTA, Investor.id- Perkembangan terbaru terkait varian Covid omicron membuat investor saham di berbagai negara dilanda kepanikan menyusul pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Jumat yang menyebut strain omicron sebagai "varian yang menjadi perhatian" .

WHO memberi sinyal bahwa varian baru ini lebih menular, lebih ganas, atau lebih mahir menghindari tindakan kesehatan masyarakat, termasuk vaksin dan terapi.

Hal ini membuat investor panik, dan melepas aset-aset berisiko termasuk saham sehingga membuat IHSG terseret dalam pusaran bursa global yang kompak rontok. Bursa utama Eropa, DAX, FTSE, dan CAC bahkan anjlok rerata 4%. Wallstreet juga jatuh lebih 2% akhir pekan kemarin.

Ketidakpastian terkait varian baru omicron, tapering dan inlfasi menjadi penyebab harga saham, komoditas, dan juga aset kripto rontok. Pergerakan aset berisiko, salah satunya saham, bergejolak karena investor berlomba mengamankan asetnya sehingga terjadi pelepasan secara besar-besaran (sell off).

Sekarang bagaimana kita sebagai investor saham menyikapi situasi saat ini?  Ada baiknya kita mempertimbangkan langkah sebagai berikut:

1. Mencermati dengan seksama situasi yang berkembang dengan banyak membaca serta menganalisa dampak selanjutnya.

2. Melihat komposisi portofolio masing-masing mana saham yang layak untuk dipertahankan jangka panjang dan mana yang buat trading harian. Hal ini agar memudahkan kita dalam "mencairkan" saham jika kondisi mengharuskan kita mesti jualan dulu.

3. Tentu bagi yang masih punya cadangan cash akan lebih baik karena ada peluang belanja di harga bawah pada saat yang baik.

4. Jika tapering dipercepat karena lonjakan inflasi di AS, ada kemungkianan dolar AS akan menguat. Untuk itu pilih saham perusahaan yang bahan bakunya tersedia di dalam negeri.

5. Secara psikologis harus tetap tenang, dan percaya bahwa apa pun kondisinya akan ada saat yang baik kembali karena kondisi bursa anjlok sudah terjadi beberapa kali dan bangkit kembali.

Kita telah mengalami keterpurukan harga saham tahun lalu yang cukup parah namun ada saatnya bangkit juga. Bahkan banyak pihak yang mendapat cuan lebih besar ketika bisa memanfaatkan pasar yang sedang jatuh.

Kepanikan hanya memperparah keadaan, jadi lebih baik berpikir positif dengan mengatur strategi investasi.

*** Hari Prabowo: Ketua LP3M Investa, pengamat pasar modal.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN